POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
Tiga hati


__ADS_3

Nyonya Natalia POV


"Wanita ditakdirkan untuk mengalah Natalia, semua pilihan ada di tangan mu, kau yang bisa membuka cela ini, tetap menjauhkan Sean dari Lily yang akan membuatnya merenggang nyawa semakin cepat, atau membiarkan mereka bersama dan membuatmu ikut di sayangi lagi oleh Sean!"


Bukanya mendukung, mama justru menyudutkan ku.


Aku berada dalam dilema, segala cara kulakukan untuk memisahkan Sean dari wanita muda itu, tetapi justru aku yang ikut sengsara


Setelah aku berhasil membuat Sean dilema akan pilihannya. Ternyata itu juga membawaku dalam kesengsaraan, Sean memang tidak menemui gadis itu, tetapi sepertinya hati dan jiwa nya sudah tergadai pada gadis itu, bahkan dia hampir kehilangan jati dirinya sebagai kepala keluarga dan seorang pengusaha.


Laki-laki yang pernah begitu besar mencintai ku itu, seperti kehilangan semangat hidup, aku sakit hati melihatnya. Dulu ketika dia mengajukan perpisahan dengan ku aku yakin itu hanya sebuah gertakannya untuk meluapkan sakit hatinya. Dulu ketika dia memberiku berkas persetujuan nikah, dengan percaya diri aku menyetujuinya karena aku yakin Sean tidak akan pernah bisa mencintai wanita selain diriku, namun kini? bahkan hanya beberapa minggu Sean menjauhi gadis itu, Sean sudah hampir kehilangan sebagian kesadarannya.


Oh, sial sekali hidupku.


Banyak keluhan bermunculan dari para clean karena Sean mangkir dari janji temu, saat ku datangi di kediaman nya bersama istri barunya itu, aku menemukannya yang sedang duduk di meja makan dengan setelan kerja rapi, namun hanya memainkan sebuah bolpoin di tangan nya.


Belum lagi beberapa hari ini banyak mitra bisnis yang memutuskan kontrak kerja sama dengan perusahaan Binar grup karena Mega proyek di kabarkan di retas hacker, yang bisa di pastikan untuk beberapa hari saja perusahaan akan kehilangan puluhan milyar.


" Jika Sean miskin, kita juga akan kelaparan Natalia"


Mama membuat ku semakin pening.


" Harusnya kau tidak gegabah, kau ingin Sean berada didalam genggaman mu, namun jika pada akhirnya Sean menjadi miskin apa gunanya?"


Oh, sungguh mulut wanita yang melahirkan ku ini begitu pedas, tak taukah dia jika sebenarnya aku juga sedang berpikir.


Aku nekat menemui Sean, ini tidak bisa ku biarkan berlarut-larut, entah perasaan apa yang kumiliki padanya saat ini, namun aku merasa Sean lebih baik jatuh miskin asal aku menjadi satu-satunya dibandingkan dengan tetap kaya namun aku harus rela membagi segalanya dengan wanita lain. Namun bagaimana dengan kehidupan mewah ku?, bagaimana dengan keluargaku yang selama ini hidup enak berkat kucuran dana dari Sean?. Siapa yang akan menanggung biaya Kaka ku di rumah sakit jiwa?, siapa yang menanggung segala kehidupan sosialita Mama?.

__ADS_1


Ozzu juga tidak bisa diandalkan. Ya Tuhan.....aku seperti tengah menghadapi karma masa lalu.


**********


Lily POV


Mas Sean memeluk tubuhku begitu erat seolah tidak ingin melepaskan, aku bukannya tidak suka, namun aku merasa sedikit pengap.


Setelah mas Sean melerai pelukannya, mas Sean terus saja menatapku, aku sadar kami masih di dalam mobil tetapi aku tidak bisa melarang mas Sean untuk sekedar menatapku dengan pandangan lembut nya yang selalu ku rindukan.


" Mas Sean sakit?" Tanyaku dengan memberanikan diri mengusap pipinya yang kini sudah kembali dipenuhi bulu-bulu, wajah rupawan nya sudah kembali tertutup dibalik cambang lebat yang hitam pekat.


Mas Sean tidak menjawab, justru mengesekkan sisi wajahnya di telapak tangan ku hingga rasa geli menggelitik telapak tangan ku.


" Aku sakit karena merindukanmu Lily"


" Tidak apa-apa jika kamu tidak percaya, aku hanya menjawab jujur" ungkapnya lagi yang tak pernah sekalipun mengalihkan pandangannya dari wajahku.


" Apa kita tidak turun dulu?" tanyaku yang sepertinya menyadarkan mas Sean bahwa kami sedari tadi masih duduk di dalam mobil.


Kali ini aku baru benar-benar memperhatikan mas Sean yang berjalan bersama ku, mas Sean memang terlihat lebih kurus, bahkan jakunnya terlihat begitu menonjol dari sebelumnya saat ku pandang dari samping, kupikir aku akan biasa saja melihatnya seperti ini, namun nyatanya tidak. Aku sedih melihat mas Sean yang seperti ini.


" Dengar Lily, seorang suami akan tetap bahagia jika bisa hidup berdampingan bersama istri nya" Bi Sum memelukku saat aku menanyakan perihal mas Sean.


Mas Sean sedang mandi di kamar kami, dan aku mengambil kesempatan untuk bertanya kepada Bi Sum, mengapa mas Sean bisa tampak tak Ter urus seperti itu.


" Tuan Sean selalu mengkhawatirkan mu, tetapi beliau juga tidak bisa menyakiti hati putranya, yang perlu kamu ketahui, tuan Sean adalah pria yang bertanggung jawab, dia tidak akan sengaja membuat mu merasa terabaikan Li" Bi Sum menasehati ku lembut dan kali ini aku bisa sedikit mengerti mengapa mas Sean memintaku pergi dari rumah, mungkin karena mas Sean ingin menata hatinya untuk mengambil keputusan, tetapi apa yang mas Sean putuskan hingga mau membawaku pulang?'

__ADS_1


" Dimana Ozzu Bibi?" tanyaku penasaran.


Namun belum sempat Bi Sum menjawabnya terdengar mas memanggil- manggil namaku dan tergesa-gesa menuruni tangga, aku sampai terkejut melihat kepanikannya.


" Apa Lily pergi lagi?" Tanya mas Sean, sebelum aku ikut muncul bersama Bi Sum.


Aku tidak tau apa yang terjadi pada mas Sean, bahkan beliau belum mengenakan baju dengan benar, tetapi begitu melihatku mas Sean gegas berlari kearahku, tidak hanya itu aku langsung diangkat dan dicium bertubi-tubi.


" Tolong jangan tinggalkan aku" ucapnya yang terus mencium wajahku, bahkan mas Sean tidak menghiraukan bahwa disini tidak hanya aku tetapi juga ada Bi Sum. Mengingat itu segera ku tepuk pelan bahu mas Sean agar beliau menyadari bahwa saat ini kita masih berada di dapur, tetapi sepertinya mas Sean tidak mengindahkannya, mas Sean malah semakin menekan belakang leherku untuk terus diciumnya dalam.


Tuan Sean POV


Aku yang diam-diam menyiapkan hati untuk melepaskan Lily dari ikatan denganku justru aku yang semakin sakit karena tidak bisa menahan rindu pada gadisku.


Peperangan hati ini sepertinya tiada pernah berakhir, bagaimana hati ini tak tergores lebih dalam ketika ada seorang pria yang jauh lebih sempurna dariku datang terus terang untuk meminta Lily .


Meminta aku untuk melepaskan Lily dan dia bersedia menawarkan kebahagiaan yang tidak bisa ku berikan untuk Lily.


Pria yang nyaris sempurna, berhati lembut, mapan, tampan, dan lagi pria itu masih lajang, pria yang bahkan meminta Lily padaku dengan begitu terus terang, pria yang sepertinya juga memiliki keinginan besar untuk wanita yang dia inginkan.


Aku yakinkan hati jika suatu hari nanti Ozzu masih bisa mendapatkan gadis manapun yang dia inginkan, sementara aku yang sudah tua ini, tidak mungkin memiliki banyak kesempatan untuk mendapatkan wanita yang ku mau.


Aku sungguh takut jika Lily benar-benar akan jatuh hati kepada pria lain, jika Ozzu hanya seorang pemuda pengangguran, bagaimana jika pria yang menginginkannya kali ini adalah seorang pengusaha muda sukses. Jangankan Ozzu, aku bahkan tidak pernah berpikir pria sepertinya bisa menginginkan istri ku dengan keras kepala.


#######


Jangan lupa jejak cintanya....

__ADS_1


__ADS_2