
Nyonya Valeria melangkah masuk kerumah Tuan Sean bersama Lily. Dari kemarin dia sudah menghubungi putranya, dan tuan Sean berjanji akan menemuinya setelah dari rumah nyonya Natalia, nyonya Valeria sudah kesana, namun tuan Sean tidak ada, yang ada hanya perabotan yang hancur berkeping-keping, nyonya Valeria yang melihat itu ingin segera melihat keadaan nyonya Natalia namun tidak jadi, karena mendengar cerita asisten rumah tangga menantunya yang mengatakan nyonya Natalia mengamuk karena habis bertengkar dengan suaminya, bahkan nyonya Valeria akhirnya tau jika nyonya Natalia telah membohonginya.
" Oh!" Wanita itu segera kaget saat menyadari ada Ozzu di sana.
" Oma!"
Mata nyonya Valeria menyipit melihat jejak air mata di pipi Ozzu.
" Kau disini? mana Papamu?"
" Papa belum bangun!"
Seketika nyonya Valeria tidak jadi duduk mendengar penuturan yang menurutnya tidak masuk akal.
Mata nyonya Valeria menelisik cucunya dengan jeli, sebelum helaan napas berat berhembus dalam.
" Apa kau membuat Papamu marah lagi? tidak biasanya Sean membuatmu babak belur begitu Ozzu! Oma pikir kamu sudah waktunya berhenti membuat Papa mu khawatir!" nasehat nyonya Valeria, kepalanya sedikit berat saat mengetahui kebohongan nyonya Natalia soal kehamilannya, dirinya sudah berandai-andai benar akan mengendong cucu mungil lagi, tetapi ternyata itu semua sandiwara.
" Sum, tolong panggilkan Sean, katakan padanya aku menunggu!" titah nyonya Valeria pada Bi Sum, dengan cepat Bi Sum segera naik kelantai atas untuk menaati perintah Nyonya Valeria.
Bi Sum baru saja ingin mendekat ke pintu, tetapi menemukan pintu yang memang tidak tertutup rapat, tetap melanjutkan mengetuk beberapa kali dan sama sekali tidak ada jawaban.
Bi Sum buru-buru turun untuk menyampaikan bahwa baik Lily atau tuan Sean tidak berada di kamar mereka.
Ozzu yang baru ingin menyendok nasi langsung berdiri dan melompat cepat, gegas berlari ke tangga untuk memastikan apakah yang di ucapkan Bi Sum benar, dari mereka semua pasti ialah yang paling merasa bersalah jika sampai Papanya dan Lily benar-benar pergi.
" Oh Tuhan..." Ozzu hanya mencengkeram kepalanya frustasi saat membaca secarik kertas yang ditulis Lily untuk Papanya, dan yang paling mengejutkannya adalah pesan Papanya yang tertera di ponsel Lily saat pemuda itu nyalakan.
Nyonya Valeria yang melihat gelagat aneh cucunya, ikut membaca surat untuk putra nya dan pesan yang di tulis tuan Sean untuk Lily.
__ADS_1
" Ini sebenarnya ada apa? bukankah Sean sudah memaafkan mu Ozzu?"
Bi Sum dan Yuyun yang hanya melihat mereka di luar pintu ikut menitihkan air mata, ada surat untuk tuan Sean dari Lily, itu berarti Lily pergi! hanya itu kesimpulannya.
" Ini semua karena ku Oma!"
Bibir Ozzu bergetar, hatinya tiba-tiba menjadi rapuh, karena nya Papanya akan menceraikan istrinya, karena nya seseorang yang mencintai Papa nya dengan tulus pergi.
Ozzu menyadari bahwa Lily benar-benar mencintai Papanya, gadis itu pergi hanya membawa lara dan meminta izin untuk membawa cinta Papa nya untuk di kenang selamanya.
" Apa yang terjadi Sum!" Kali ini nyonya Valeria berharap Bi Sum mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Melihat sendiri bagaimana pesan yang di kirim Sean untuk menantunya jelas sesuatu yang besar telah terjadi.
Nyonya Valeria menatap tak percaya Cucunya yang menunduk dalam.
Ternyata di abaikan oleh seseorang yang selalu ada untuknya selama ini lukanya lebih parah ketimbang di abaikan oleh Mamanya seperti biasa.
********
Air mata tuan Sean jatuh. Ia benar-benar merasa sedih untuk alasan yang ia pilih. Mungkin selama berhari-hari ini ia terlalu keras pada dirinya sendiri, ia tidak pernah bisa tidur karena terus memikirkan Lily. Ia menderita, tapi ia menahan semuanya.
" Maafkan aku Li!" Tuan Sean hanya menekan hatinya untuk kuat dan tidak berlari pergi memeluk wanita yang begitu dirindukan.
Pria itu sudah berhari-hari tidak beranjak dari tempatnya menenangkan diri, tidak sama sekali mengurus pekerjaan, karena sebelumnya dia sudah mengatakan tidak akan ke kantor untuk waktu yang cukup lama, sang asisten yang tahu masalah yang menimpa atasannya, memaklumi dan akan berjuang sekuat yang dia bisa untuk mengantikan semua kegiatan tuan Sean.
" Aku mencintaimu. Aku tidak ingin berpisah dengan mu. Aku sakit. Aku menderita!" sekuat-kuatnya tuan Sean dia tetap ada sisi lemahnya, terlebih dia tidak hanya kehilangan rasa percaya pada putra nya, tetapi harus melepaskan gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta di usianya yang sudah tidak lagi muda.
******
__ADS_1
" Seorang Ibu akan melakukan apapun demi anak nya, rela berkorban dan sakit untuk buah hatinya, bahkan hewan pun melakukan yang terbaik untuk anaknya! Sementara kamu manusia! tetapi dimana naluri mu Natalia....!!"
Semua mata melihat kearah Nyonya Natalia yang sedang duduk di sofa rumah nyonya Valeria, Ibu kandung nyonya Natalia begitu geram setelah mendengar dari Ozzu bahwa Mamanya sendiri yang mengatakan dia bukan putra Sean bahkan dia juga tidak lahir dari rahim Natalia melainkan dia lahir dari Kaka Mamanya yang sedang berada di rumah sakit jiwa.
" Kamu benar-benar tidak punya otak!" Papanya yang duduk di kursi roda ikut bergetar karena emosi.
" Tidak kah kau pikirkan apa efek yang di timbulkan oleh perkataan mu untuk cucuku Natalia?" Kali ini Nyonya Valeria juga ikut menghakimi menantunya.
Nyonya Natalia meringkuk, kepalanya terasa berdenyut, seperti yang pernah di alami oleh Lily kini ia juga merasakan nya, kedua orang tuanya mengamuk dan menghajarnya tanpa ampun, bahkan sang ayah sengaja melepas ikat pinggangnya untuk memberi putrinya pelajaran.
Apapun yang dilakukan nyonya Natalia memang sama sekali tidak bisa di maafkan.
Ozzu bisa saja kehilangan kendali dirinya dan benar-benar menodai istri Papanya karena percaya dengan ucapan Mamanya, dan jika itu terjadi dosa besar tidak akan terelakkan, apalagi jika Lily sampai hamil...! Oh! membayangkan saja semua akan merasa sakit kepala.
" Oh Tuhan...." Ayah nyonya Natalia sangat murka, dan membuat dadanya kembali merasa sesak.
********
" Tidak usah di bersihkan, nanti saja! kamu makan dulu gih!"
Wanita muda itu tersenyum, senyum yang hanya sebatas bibir, matanya selalu dipenuhi kabut air mata. Biar bagaimanapun dia adalah seorang gadis yang baru saja patah hati.
Lily duduk menerawang, bibirnya berusaha mengukir senyum.
Lily kesepian meski berada di keramaian, rasa nelangsa menggerogoti jiwanya, rindunya menghujam menusuk bertubi-tubi. Ia hanya mencoba melepas masa-masa kelam. Tetapi yang ada ia semakin jatuh dalam kerinduan pada suaminya.
Air matanya menetes.
" Mas Sean, Lily rindu!" Rintih Lily menghapus air matanya berulang-ulang, tetapi air matanya akan tetap jatuh tanpa henti.
__ADS_1