POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
Pernikahan


__ADS_3

Lily sedang termenung di bangku taman rumah sakit ketika tiba-tiba Udgam datang dan ikut duduk di sampingnya.


" Kamu tidak seperti calon pengantin yang tengah berbahagia Li, kamu malah kayak nikah karena perjodohan!" Sindir Udgam yang melihat wanita itu tampak tak bersemangat.


Lily berpaling dan tersenyum manis mendengar


sindiran dari Udgam, wanita itu memilih diam tak menanggapi.


" Sudah waktunya kalian menjemput kebahagiaan, kau adalah bahagia nya, dan Kak Sean adalah bagian kebahagiaan mu Li!" tutur Udgam.


" Lily tidak mengundang Kaka, mengapa Kaka bisa tau?"


Udgam tersenyum.


" Gimana ngak datang orang aku yang jadi saksi nanti!"


" Kayak ngak ada orang lain aja!" Canda Lily.


" Bukankah aku orang yang istimewa, termasuk untuk mu?" Udgam hanya bermaksud bercanda, tetapi ekspresi wajah Lily berubah setelah mendengar candaan Udgam. Pria itu langsung merasa bersalah.


" Maaf Li, aku ngak maksud....


" Tidak apa-apa kak, aku oke!" Lily berpaling dan tersenyum manis pada Udgam, tetapi Udgam dapat melihat senyum itu tak sampai ke hati wanita itu.


Udgam buru-buru datang saat Ozzu menghubunginya dan mengatakan bahwa Lily bersedia kembali menikah dengan Papanya, Idham juga buru-buru memberi tahu Nyonya Duby tentang hal itu.


Tetapi malah sang Mama mengatakan bahwa Lily baru saja datang, bukan nya membawa sebuah kabar, Lily hanya memandanginya yang tertidur di kebun belakang.


Sedikit ganjil, tetapi Udgam pikir Lily hanya tidak ingin menganggu nya atau karena Lily masih merasa tidak enak karena hal yang pernah terjadi di antara mereka.


" Kalian disini?" Ozzu datang dengan terburu-buru, pemuda itu tampak ngos-ngosan.


" Kalian membuatku sangat khawatir, aku menghubungi kalian berkali-kali tetapi tidak ada yang merespon"


" Ponsel ku di mobil! Udgam meringis.


Ozzu menajamkan pandangannya pada Lily .


Lily ikut meringis.


" Aku lupa membawanya"


" Ya Tuhan...!" Seru Ozzu yang merasa gemas pada keduanya.


" Apa acaranya akan segera di mulai?" tanya Udgam.

__ADS_1


" Ya, tunggu batuk Papa mereda, tunggu obatnya berfungsi!"


Tuan Sean memang kerap kali batuk yang beruntun dan susah di kendalikan, mereka menunggu obatnya berfungsi agar pria itu bisa mengucapkan ijab Kabul dengan lancar.


" Aku akan menemuinya, memberinya semangat agar semuanya lancar!" Udgam meninggalkan Ozzu bersama Lily.


Ozzu mendekat dan duduk di tempat yang tadi di duduki Udgam.


" Terimakasih sudah mencintai Papaku dan mau kembali padanya Li!" ucap Ozzu, pemuda itu sebenarnya sempat syok mendengar Lily sudah pernah menikah dengan pria lain dan bercerai, ingin tau alasan Lily bercerai tetapi untuk apa, bukankah karena itu Lily bisa kembali bersama sang Papa.


" Kita sama-sama menyayangi nya kan?" Lily tersenyum.


Ozzu mengangguk " Aku menitipkan kebahagiaan nya pada mu, karena aku tau seberapa besar Papaku menyayangi mu, Lily."


Lily masuk kedalam kamar rawat tuan Sean saat nyonya Natalia menjemputnya, Lily sudah di dandani layaknya pengantin oleh MUA meski hanya riasan sederhana tetapi kecantikan Lily tetap mencuri perhatian.


Lily dapat melihat bagaimana tuan Sean menatap nya terkejut, sepertinya pria itu baru menyadari bahwa dirinyalah yang akan kembali menikah, pria itu memang tidak mengatakan apapun kecuali hanya memandang Lily yang mendekatinya.


" Terimakasih!" Tuan Sean tidak berpaling sama sekali, sampai pada saat penghulu mengatakan kesiapannya.


Akad nikah itu berjalan dengan lancar, saat kata sah di serukan, Mata Lily bersiborok dengan mata Udgam.


Udgam terseyum dan mengangguk kecil, sementara Lily buru-buru menunduk.


Satu persatu mereka berpamitan pulang, termasuk Udgam, kecuali nyonya Natalia.


Lily menghampiri madunya dan memeluk wanita yang menjadi istri pertama suami nya, perlahan Lily menarik tangan nyonya Natalia untuk di satukan dengan tangan suaminya.


" Mas Sean, pernikahan kita terjadi karena nyonya Natalia ikut membujukku, jika mas Sean bahagia dengan pernikahan kita, tidak bisakah mas membagi kebahagiaan dengan beliau?"


Tentu saja ucapan Lily membuat dua insan itu menatapnya terkejut.


" Lily mau mas Sean berjanji agar bisa berlaku adil pada kami berdua, aku dan nyonya Natalia" ucap Lily .


Hati nyonya Natalia berdenyut mendengar penuturan madunya, wanita muda di sampingnya ini begitu luar biasa, pantas saja suaminya begitu mencintainya, hati wanita itu sungguh lapang, kini ia percaya dengan ucapan suaminya kala itu, bahwa datangnya tuan Sean padanya bukan atas kemauannya sendiri melainkan Lily yang memintanya, dan kini itu bisa dipercayai olehnya seratus persen.


Saat tuan Sean mencium kening Lily, tuan Sean juga mendekatkan wajahnya pada nyonya Natalia, sebelum pria itu benar-benar mencium di tempat yang sama seperti yang dilakukannya pada Lily.


" Selamat, Mas!" ucap nyonya Natalia saat tuan Sean sudah menjauhi wajahnya.


" Dan untuk mu, aku sangat berterimakasih!" ujar nyonya Natalia pada Lily seraya tersenyum hangat.


Akhirnya nyonya Natalia di jemput supir, kini tinggallah Lily dan tuan Sean di kamar rawat pria itu.


Sejak semua orang meninggalkan mereka, situasinya menjadi canggung, tidak ada yang mengawali pembicaraan, seolah mereka sedang menyelami perasaan masing-masing.

__ADS_1


' Uhuk'


' Uhuk'


Mendengar tuan Sean terbatuk, Lily segera meraih gelas yang berisi air putih di sisi ranjang dan menyodorkan pada tuan Sean.


Sejenak mata mereka bertubrukan membuat suasananya menjadi hening, bahkan Lily bisa mendengar suara detak jantung nya sendiri.


Tuan Sean mengambil gelas yang di genggam Lily, tidak meminumnya melainkan di kembalikan di tempatnya semula.


Pria itu justru menarik pinggang ramping Lily untuk mendekat dan menempel pada tubuhnya.


" Aku sudah tidak membutuhkan apapun lagi, ketika ada kau di sisiku, Li" Mata pria itu terpejam dan bibirnya mendarat di puncak kepala Lily.


" Katakan pria mana yang sudah menikahi mu sehingga aku bisa menikahi mu kembali Li?" Tua. Sean berbisik lembut.


Lily mendorong pelan dada tuan Sean untuk menatap wajahnya yang sudah bersih dari bulu.


" Sungguh mas ingin membahas ini?" Lily seperti menantang.


Tuan Sean langsung mengeleng sakit, mana mau dia membahasnya, membayangkan pria lain yang lancang menyentuh tubuh mulus Lily saja rasanya dia akan gila. Tetapi semua juga berakar dari kesalahannya.


" Aku ingin pulang!" Rengek tuan Sean seperti anak usia dua tahun yang sedang merajuk.


" Untuk apa pulang? Mas Sean harus sehat dulu" Ucap Lily yang ingin menarik diri dari pelukan tuan Sean.


" Ini malam pengantin kita kalau kau lupa!"


Lily sampai harus membuka mulut kecilnya karena kaget mendengar ucapan pria dihadapannya, sejak kapan tuan Sean menjadi kekanakan seperti ini?


"Jangan melihatku seperti itu Li, tidak ada yang salah dengan ucapan ku!" katanya lagi dengan tangan menarik dasinya untuk di longgarkan.


Memang tidak ada yang salah dari ucapan pria itu, namun kondisinya lah yang tidak memungkinkan untuk pembahasan seperti ini.


" Ah, aku bahkan lupa mencium mu?"


Eh, la yang cium kening Lily dan nyonya Natalia tadi siapa? terus yang barusan cium siapa juga? tetangga kamar mereka?.


#######


Maaf ya slow update, karena tunggu like minimal 50 dulu...


Banyak like dan komentar author pasti rajin UPP.


happy reading....

__ADS_1


__ADS_2