POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
Rumah baru


__ADS_3

Ozzu buru-buru kerumah sakit saat mendengar kabar Papanya sudah boleh pulang, pemuda itu sampai tidak sempat Menganti bajunya karena terlalu terkejut. Ozzu mengira akan sangat lama untuk Papanya bisa pulang kerumah.


Namun ternyata, hanya di rawat tiga hari dan pria yang menyayanginya itu sudah di izinkan pulang untuk melakukan rawat jalan.


Sehebat itukah kekuatan cinta?


Lily sedang memasukkan pakaian suaminya kedalam tas, saat tiba-tiba tuan Sean memanggilnya.


Lily yang belum selesai, tetap menghampiri suaminya dan meninggalkan pekerjaannya untuk menyimpan barang suaminya sebelum mereka pulang.


Tuan Sean menyandarkan tubuhnya di pembaringan, pria itu sudah tidak terlalu batuk, mungkin selama ini karena efek rokok juga yang membuatnya terbatuk parah dan sampai mengeluarkan darah karena keadaan parunya yang tidak dalam kondisi baik, di racuni oleh asap rokok.


" Li, ada yang ingin ku jelaskan padamu!" Tuan Sean meraih tangan istrinya untuk duduk di sampingnya.


" Ini soal masa lalu kita" ujar tuan Sean menatap penuh istrinya.


" Kenapa harus membahas tentang masa lalu?" tanya Lily, merasa kurang suka.


" Karena kamu harus tau agar tidak membuatmu terus berpikiran negatif"


Tuan Sean mengangkat dagu Lily dengan telunjuknya. Supaya Lily ikut menatapnya.


" Saat aku menitipkan mu kerumah Tante Duby tiga bulan itu bukan karena aku ingin kamu menjauh Li, aku hanya ingin memastikan perasaan ku pada mu. Tuan Sean menggeser posisi duduknya agar lebih dekat pada Lily. " Mungkin kamu merasa aku mengabaikan mu, sebenarnya tidak demikian, aku bukan pria muda seumuran mu Li, pikiranku tidak lagi tentang sekedar memiliki dan mengikatmu. Bukan soal itu saja, aku sedang berpikir bagaimana aku bisa membuatmu bahagia, karena aku sendiri sangat bahagia karena kehadiran mu di hidup ku"


" Apa yang sebenarnya mas Sean ingin jelaskan pada Lily?" potong Lily seakan tidak ingin membahas masa lalu, karena baginya biar di jelaskan seperti apapun semua sudah berlalu dan tidak ada lagi kata seandainya.


" Aku hanya ingin mengatakannya, aku mencintaimu' sejak perpisahan pertama kita, itu membuatku tidak enak tidur, tidak enak makan, karena cuma kamu yang hadir di pelupuk mata, sehingga akhirnya aku mengalah dan pergi menjemputmu"


Tuan Sean tidak sepenuhnya berbohong, karena saat Udgam datang dan mengutarakan keinginannya untuk mengambil alih Lily sebenarnya saat itu tuan Sean memang hendak menjemput istrinya.


" Aku tanpa kamu seperti mati rasa, aku kedinginan meskipun cuaca sedang panas terik, aku menangis dibalik topeng tersenyum, seperti itu diriku tanpamu Li, aku sangat bersyukur ketika Tuhan membawamu kembali, meskipun aku tau perasaan mu tak mungkin lagi sama"


Lily mengusap air mata suaminya yang merembes, jujur perasaan Lily pada tuan Sean tidak berubah sama sekali. Masih sama seperti dulu.


Tuan Sean menangkap tangan Lily dan mengecupnya dalam.


" Maaf, aku minta maaf atas semua yang terjadi di antara kita di masa lalu Li, kita mulai dari awal lagi ya!"


Lily mengangguk, dan itu membuat tuan Sean sangat bahagia.

__ADS_1


Bagaimanapun dia hanyalah seorang pria yang beberapa hari terbebani karena ingin merelakan Lily, gadis itu berhak bahagia, dia ingin lebih masuk akal untuk memikirkan masa depan Lily , Lily berhak bahagia walau tidak bersamanya.


Setelah Ozzu menjemput mereka pulang, tuan Sean tidak membawa Lily kerumahnya yang dulu, tuan Sean membawa Lily kerumah baru yang lebih minimalis, dia tidak ingin kembali membawa istrinya kerumah yang banyak kenangan pahit, tuan Sean ingin mengukir kenangan baru di rumah yang baru.


Kedatangan mereka berdua ternyata di sambut oleh nyonya Valeria. Wanita yang melahirkan tuan Sean itu beribu kali mengucapkan terimakasih kepada Lily, berkat Lily semua ke khawatiran mereka tidak terjadi, bahkan tuan Sean tidak di perlakukan seperti pasien khusus, mungkin benar. Penyakit yang sesungguhnya di tanggung pria itu adalah sakit rindu. Rindu pada wanita yang sudah membawa hatinya pergi bersamanya.


" Jadi Lily masih harus rutin ke luar negeri?" Tanya tuan Sean ketika mereka duduk bersama.


" Iya, Lubis tidak bisa melepaskan Lily begitu saja, Lubis masih mencari pengganti untuk kerjaan yang di tangani oleh Lily. jawab nyonya Valeria.


Tuan Sean langsung berpaling untuk menatap Lily, ia memang belum tau hal ini, karena mereka juga belum sempat bicara banyak.


" Tetapi apa tidak terlalu repot jika dua minggu sekali harus bolak-balik?"


" Ya, kalau mau ngak repot Lily sementara waktu tetap di Paris saja, sampai Lubis menemukan pengganti yang tepat"


" Mana bisa begitu Ma." sanggah tuan Sean.


" Itu hanya saran Sean, Lubis juga sudah berbaik hati pada kita untuk melepaskan Lily untuk mu, jika saja kau bukan putraku, sudah Mama pastikan Lubis tidak akan pernah membiarkan Lily tinggal."


********


" Udgam Mama mau bicara" kata nyonya Duby.


Udgam yang melihat Mamanya ingin bicara serius menutup layar laptopnya setelah mematikannya lebih dahulu.


" Ada apa Ma?" tanya Udgam sopan.


" Udgam, Mama ingin memperkenalkan anak teman Mama sama kamu, kapan kamu ada waktu?"


Pembahasan ini pernah terjadi, tetapi Udgam tidak pernah mau tanggapi, tapi sampai kapan ia bisa menghindar?. Udgam takut terus mengecewakan Mama nya.


" Mama atur aja, nanti Udgam pasti luangin waktu" jawab Udgam yang membuat nyonya Duby berbinar.


" Anastasya adalah putri Om Bram, Sean kenal baik sama Papanya, nanti Mama atur acaranya sekalian kita undang mereka makan malam bersama keluarga Tante Valeria bagaimana?"


" Mama atur saja bagaimana baiknya Ma."


Udgam menatap punggung Mama nya yang hilang di balik pintu.

__ADS_1


Sebenarnya usia Udgam belum terlalu tua sampai harus di jodoh-jodohkan, namun karena dirinya yang enggan berdekatan dengan lawan jenis membuat nyonya Duby khawatir. Udgam baru berusia dua puluh lima tahun bulan ini, masih sangat dini jika dikatakan pria tak laku.


********


Lily masih menyusun pakaian tuan Sean ketika sepasang tangan kekar memeluk pinggang rampingnya.


" Mas Sean sudah mau tidur?, Lily siapkan obat mas dulu ya!" lembut Lily, begitu tuan Sean mencium puncak kepalanya yang tidak tertutup hijab.


" Kamu obat paling mujarab untuk ku, aku tidak perlu obat yang lain lagi!" bisik tuan Sean di samping telinga istrinya.


" Aku keberatan jika kamu harus bolak-balik ke Paris Li!" seru lelaki itu lagi.


" Lily juga masih kuliah di Prancis mas!" Lily membalikkan badannya dan merapat kepelukan pria besar di hadapannya.


" Aku tidak bisa melepas tanggung jawab ku begitu saja" ucap Lily lagi saat tuan Sean semakin merapatkan tubuh mereka.


Perlahan tuan Sean menarik istrinya untuk duduk di bibir ranjang mereka.


" Aku cemburu memikirkan mu banyak memiliki teman pria!" Tuan Sean merasa lucu ketika harus jujur tentang dirinya yang pencemburu.


" Mas jangan khawatir, belum ada yang naksir dan meminta nomor telepon ku, jujur aku juga tidak suka dengan yang berambut pirang!" Lily melirik suaminya yang kini tengah tersenyum lebar menatap nya.


Sebenarnya memang agak lucu membahas kecemburuan di antara mereka meskipun masih sangat mungkin mengingat Lily yang masih muda serta cantik, orang bisa mudah jatuh cinta hanya dengan sekali pandang.


Dada tuan Sean kembali bergemuruh ketika meraih jemari lentik gadis itu dan mengigit kecil di bagian kelingking nya.


" Aku tidak pernah menyangka ada gadis muda yang menyukaiku seperti dirimu!" mustahil jika Lily tidak mencintainya dan mau menyerahkan tubuhnya begitu saja saat di luar sana wanita itu sudah bukan gadis miskin lagi, pekerjaan layak dan harta sudah wanita itu miliki namun mau berserah kepada pria penyakitan dan tua seperti nya.


Lily mencondongkan badannya dan mencuri ciuman di pipi tuan Sean " Tidak ada batasan usia dalam mencintai, dan aku sudah terlanjur sangat jatuh cinta padamu pria besar. Hingga aku buta untuk melihat yang lainnya."


Tuan Sean mencubit hidung Lily gemas. " Andai aku mendengar itu dua puluh tahun yang lalu, aku tidak perlu malu untuk mengakui jika aku sedang sangat bahagia"


" Apa itu berarti sekarang mas tidak bahagia mendengarnya?" Lily pura-pura merajuk.


Tuan Sean tidak menjawab dengan ucapan melainkan dengan perbuatan, pria itu segera menaungi tubuh istrinya untuk di tindih karena sedang gemas.


" Aku rela mati saat ini juga karena sangking bahagianya" ucap tuan Sean sebelum menenggelamkan wajahnya di atas gumpalan lembut yang entah kapan pria itu membuka nya.


########

__ADS_1


Like, komentar.. agar Tuan Sean UPP lagi hari ini


__ADS_2