
Author POV
" Kamu belum masuk?" Udgam ternyata ikut menyusul, mungkin untuk memastikan bahwa Lily tidak salah kamar.
Ozzu yang melihat kedatangan Om mudanya ikut kaget.
Udgam melihat kearah kamar tuan Sean, sebelum mendekati pintu.
" Tante, apa Tante di dalam?" Udgam tau ada yang tidak beres, dan dia harus ikut turun tangan.
Beberapa saat hening, akhirnya pintu kamar terbuka. Nyonya Natalia langsung menatap tajam kepada Ozzu dan Lily, seolah kedatangan Udgam adalah atas kemauan Ozzu untuk membantu Lily.
" Udgam kau?" Nyonya Valeria memperhatikan Udgam yang juga ikut menatapnya.
" Apa ini Tante....?" tanya Udgam. " Tante melarang seorang istri untuk menemui suaminya?"
Udgam adalah pria yang sopan, Nyonya Valeria begitu mengagumi keponakannya itu, Udgam adalah definisi pria yang menolak kaya dengan cara instan menurut pandangan nyonya Valeria, karena Udgam tidak menerima warisan keluarga mereka yang bahkan di wariskan kepada dirinya dan Tuan Sean, Udgam memberikan seratus persen warisan kakek buyutnya pada Tuan Sean , meskipun dilahirkan di keluarga kaya raya, pemuda itu juga menolak menjadi pria kantoran, Udgam justru membuat keputusan hidupnya sendiri, Udgam memilih menjadi petani sayur hidroponik zaman now beromset miliyaran rupiah , padahal usianya tak beda jauh dari Ozzu, namun Udgam adalah pemuda mandiri dan bisa diandalkan.
" Udgam, kau mengenal wanita itu?" Nyonya Valeria menatap keponakannya .
" Dia istri kak Sean, tentu kami mengenalnya, karena kami pernah di perkenalkan oleh kak Sean secara langsung."
Nyonya Valeria agak terkejut, sementara nyonya Natalia mengerling jengah.
" Udgam, kamu tidak tau apa yang sudah wanita ini lakukan, dia sudah merusak kepercayaan Sean pada Ozzu?"
" Apa benar seperti itu Ozzu?" kali ini Udgam ikut melihat kearah Ozzu.
Ozzu memang sangat menghargai Udgam, meskipun usianya masih muda tapi Udgam jarang sekali ikut bicara jika tidak penting, interaksi mereka juga sangat jarang, Udgam yang ramah hanya akrab kepada mereka yang sudah lama mengenal nya, sementara Ozzu sangat jarang bertemu dengan Om mudanya itu.
" Tidak Om, ini murni salah ku!" aku Ozzu
Udgam kembali menatap nyonya Natalia
" Bahkan Ozzu saja sudah mengakui apa lagi yang Tante permasalahkan?"
" Jangan ikut campur urusan rumah tangga ku Udgam!" sepertinya Nyonya Natalia tidak bisa menahan luapan kekesalannya.
" Jangan berlagak menjadi istri tua yang teraniaya Kak Natalia, nyatanya disini Kakaklah peran antagonis nya, bagaimana mungkin seorang istri hanya perduli dengan diri sendiri, sementara ada istri lain yang juga ingin melihat keadaan suaminya...." Udgam menoleh pada Lily. " Masuklah Li, kamu berhak menemani Kak Sean"
__ADS_1
Lily tidak ingin membuang waktu dan segera mengambil kesempatan untuk segera masuk menemui tuan Sean, dalam hatinya tidak berhenti untuk berterimakasih kepada Udgam yang begitu murah hati membantunya sekali lagi.
Lily memberanikan diri untuk duduk di ranjang tempat suaminya berbaring , meraih tangan tuan Sean untuk di ciumnya dengan tarikan napas dalam.
" Lili selalu memikirkan mas Sean semalaman."
Lily bicara dengan keheningan.
" Mas Sean tidak ingin tau apa yang Lily pikirkan?"
Lily membelai pipi tuan Sean yang terasa dingin.
" Ternyata Lily tidak sanggup jika mas Sean membenci Lily seperti ini, ternyata Lily sakit ketika mas Sean tidak mau lagi menatap Lily dan ternyata jauh dari mas Sean membuat Lily rindu." Lily menghapus air matanya. "Tolong jangan benci Lily mas."
Air mata Lily jatuh tepat di punggung tangan Tuan Sean.
"Mas Sean harus segera sembuh." Lily memperhatikan wajah suaminya yang begitu pucat, tuan Sean seperti kehilangan banyak darah sehingga wajahnya memucat sampai begitu kentara, tanpa Lily tau, seorang pria bisa sakit separah itu ketika yang terluka adalah hatinya.
Lily kembali mencium tangan tuan Sean, Lily berdiri untuk segera pamit,melihat pintu kamar yang tertutup Lily memberanikan diri untuk mencium kening suaminya.
" Maaf mas Lily lancang" bisik Lily sebelum benar-benar melakbuhkan bibirnya di kening Tuan Sean.
Berat Lily meninggalkan tuan Sean, namun untuk tetap tinggal Lily juga tidak bisa, karena Lily takut tuan Sean akan semakin membencinya, ketika melihatnya nanti.
Lily hendak pergi saat tiba-tiba tangan nya diraih lembut.
Sebenarnya tuan Sean sudah sadar ketika punggung tangan nya kejatuhan air mata Lily, tetapi pria itu menahan diri untuk membuka mata, demi mendengar apa saja yang ingin gadis itu sampaikan padanya.
Hati tuan Sean mengigil saat mendengar ungkapan kerinduan Lily, jantungnya berdegup kencang saat Lily mencium keningnya.
Tuan Sean tidak tau mengapa dia bisa seberuntung ini, sampai rasanya tidak masuk akal, ketika bisa memiliki gadis selembut Lily, Lily terlalu sempurna, terlalu baik, bahkan terlalu belia , sehingga memiliki nya seperti mustahil.
Lily buru-buru memundurkan langkahnya, Lily gugup, takut kalau-kalau suaminya akan marah karena melihat kehadiran nya.
Tangan Lily tiba-tiba diraih dan digenggam erat, tuan Sean seperti tidak ingin melepaskan. Pria itu membuka matanya perlahan dan menatapnya dengan pandangan sayu.
" Ku harap ini buka mimpi." Mata tuan Sean berkedip perlahan. " Aku tidak ingin bangun jika ini hanya sebuah mimpi indah." mata tuan Sean yang baru terbuka berkaca-kaca.
Lily masih tidak bergeming, dia juga tidak berani mengatakan apapun.
__ADS_1
" Maafkan aku, Li." kali ini punggung tangan Lily dicium.
Tuan Sean memperhatikan pipi Lily yang lembut, kemudian malah menyentuhnya.
" Ternyata aku benar-benar tidak bisa kehilangan mu, maafkan kebodohan pria tua ini Li"
Lily gugup mendengar ucapan tuan Sean, tetapi dia juga merasa buruk berjauhan dari pria yang membelai pipinya.
" Apa kau mau memaafkan kebodohan ku?"
" Ya." Lily benar-benar dibuat risau oleh pria yang menjabat sebagai suaminya.
" Oh, Lily"
Lily terkejut saat tuan Sean memiringkan tubuhnya dan justru meraih pinggangnya untuk di peluk sehingga kepala tuan Sean tengelam di perutnya yang rata.
" Biarkan seperti ini dulu, aku merindukan mu."
Bagaimana perbuatan begitu saja membuat jantung Lily berdeyut, tengkuknya merinding, dan tersipu, meskipun ini bukan keintiman pertama mereka, tetapi ini seperti obat mujarab untuk keduanya setelah berbagai hal yang mereka lalui, tanpa sadar tangan Lily ikut mengelus rambut tebal tuan Sean. Perbuatan sederhana yang mampu memberi kebahagiaan bagi tuan Sean.
" Aku kacau saat kamu pergi dari rumah."
" Aku juga merasa kacau harus pergi dari mas Sean, tapi tidak apa-apa mas, Lily....."
" Mas!"
" Sean!"
" Pa!"
Ucapan Lily terhenti, begitu nyonya Natalia, nyonya Valeria bahkan Ozzu ikut masuk kedalam ruangan.
Buru-buru Nyonya Natalia melerai pelukan tuan Sean di pinggang Lily.
" Sean sudah sadar, kamu boleh pergi!"
Semua tercengang mendengar instruksi nyonya Natalia pada Lily, se jahat itukah dirinya?'
" Ada apa dengan mu Natalia?" Tuan Sean begitu geram pada Nyonya Natalia.
__ADS_1
" Kamu yang apa-apa an, wanita ini hanya pura-pura baik, dia bahkan baru datang melihat mu beberapa saat lalu!"
" Apa yang salah dengan itu?" Tuan Sean mengeram dengan dada yang bergemuruh.