
Lily POV
Mas Sean mencium ku gemas, rasanya aku tidak bisa berpaling dari wajah mas Sean yang rupawan, wajah yang selama ini tersembunyi di balik bulu-bulu
Tiba-tiba hatiku meragu, layak kah aku bersanding di sisinya?, sedangkan aku datang hanya membawa seonggok diri, dan hanya sebuah nama tanpa jabatan atau kedudukan.
" Li!"
Mas Sean memperlakukan ku begitu lembut, pembawaan nya begitu tenang. usia yang jauh dewasa membuatnya begitu teliti dan rasa hangat selalu menyertainya saat mendekatiku, membuatku terus dan terus merasa nyaman.
" Apa wajah ku tak seperti yang kau bayangkan?" bisik mas Sean di dekat telingaku yang menimbulkan rasa merinding.
Aku segera mengeleng, tidak ku pungkiri wajah mas Sean begitu rupawan bahkan terlalu tampan untuk aku pantas menjadi istrinya, aku tidak pernah membayangkan akan ada seseorang yang menjadi pendampingku yang kaya serta tampan seperti mas Sean, belum pernah dan rasanya tak akan pernah berani ku bayangkan, menjadi istri mas Sean rasanya mimpi yang sempurna.
Tuan Sean POV
Orang pasti berpikir aku gila, menikahi gadis belia yang lebih pantas menjadi putri ku, tetapi takdir membawaku ke titik ini.
Rasa yang tak pernah ku bayangkan hadir dengan begitu saja, tak ku pungkiri kian waktu yang ku lewati bersama dengan Lily menimbulkan getaran hati yang dulu pernah ada, hanya berlabuh pada orang yang berada.
Lily tampak melakukan segala hal yang berkaitan dengan kewajibannya sebagai istri dengan tulus, meskipun pernikahan yang terjadi ku yakin keterpaksaan untuk nya, begitupun untuk ku. Namun sikap Lily begitu lembut.
Bahkan aku tau dia terus belajar melakukan rutinitas nya sebagai istri ku setiap harinya pada bi Sum, hal sederhana yang membuatku tersentuh.
Lily bukan hanya sekedar istri muda yang cantik dan menyenangkan di atas ranjang. Lily juga memiliki sifat yang sangat lembut dan penyayang.
Tak ku pungkiri diam-diam aku mulai terbiasa dengan kehadirannya, diam-diam aku mulai candu untuk terus berada di sisinya.
Kini gadisku sedang menatapku dengan pandangannya yang entah apa artinya, se buruk itukah wajahku jika tanpa rambut yang biasanya menutupi nya?
" Apa wajah ku tak seperti yang kau bayangkan?" ku tanyakan hal yang ku pikir tepat. Ku lihat dia mengeleng dan kembali diam. Oh astaga.... Lily memang sangat menggemaskan.
" Mas Sean.... Ganteng sekali"
__ADS_1
Seketika dada ku bergetar mendengar pujian yang lolos dari bibir kecil yang selalu ingin ku kecup.
" Li" ku kecup kedua pipinya yang kini terlihat sedikit lebih berisi dari hari sebelumnya.
" Apa kau sudah datang bulan?" Ku tanyakan hal ini karena aku ingin tau apakah Lily masih bisa ku sentuh, karena setiap bersama nya aku seperti ingin terus dan terus menyatu dengan tanpa sekat dan ingin terus mendesaknya untuk menyebut-nyebut nama ku.
Tanpa perlu meminta izin segera ku rampas bibir ranum yang selalu membuatku merasa candu, yang ku inginkan adalah Lily segera mengandung anak ku, terdengar egois tetapi aku ingin memiliki anak sebagai penghibur sepi di masa tua ku nanti. Ozzu memang Putra ku, dan aku harap juga demikian karena aku terlalu takut untuk mencari tau tentang anak yang sudah ku besarkan duapuluh tiga tahun itu.
Aku takut hancur jika kebenaran justru membunuh segala ke warasan yang ada pada diriku, sakitnya di khianati sudah membuatku hampir gila, tak ingin ku Bebani lagi hidupku dengan hal lain. Ozzu putraku hanya saja dia adalah milik ibunya, meski wajahnya selalu mengingatkan ku pada kejadian lampau.
Author POV
Tuan Sean adalah pria paling sibuk dengan pekerjaan dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin di perusahaan. Tetapi bersama Lily seperti dia sedang berobat dari rasa penat dan lelahnya, Lily bak seorang Dokter yang membuatnya sembuh dari kejenuhan pekerjaan. Sesuatu yang dulu Tuan Sean pikir tidak terlalu ia butuhkan, akan tetapi ternyata istri mudanya bisa membuatnya ketagihan bahkan seperti ingin terus kabur dari pekerjaan dan rasa penat nya.
Tiap derai rintihan yang lolos dari bibir ranum wanitanya juga merupakan kenikmatan tak terhingga untuk di uraikan. Semua nikmat, sekujur tubuh istri mudanya terasa nikmat dan ingin terus di sentuh dan di rasakan.
Tuan Sean tidak lagi membendung segala keinginannya, ada seseorang yang siap menampung segala kebutuhannya, seseorang yang begitu cantik, lembut dan masih sangat ranum untuk terus dimiliki tanpa henti.
" Oh, brengsek" Nyonya Natalia begitu marah saat tau penerbangannya tertunda
Wanita yang memiliki satu putra dewasa itu terus mondar-mandir tak tenang
" Lebih baik Mama tetap disini untuk sementara waktu" Ozzu kembali membuka suara
" Bisa kau diam?" suara melengking itu kembali terdengar. Padahal baru saja tadi nyonya Natalia meminta maaf pada putranya karena sudah menampar wajahnya, tetapi kini sudah kembali membentak sang putra.
Ozzu menatap nanar Ibunya, sosok Mama yang tak pernah hangat padanya, kebersamaan antara anak dan Ibu yang tak pernah berkesan, Mamanya terlalu sibuk dengan dirinya sendiri, Ozzu yang sudah sebesar sekarang selalu kekurangan kasih sayang.
" Oh, kenapa si Sean juga tak menjawab pangilan telepon ku?" Desis Nyonya Natalia dengan kesal
Ozzu meraih ponselnya dan menekan kontak Papanya disana, setelah menjauh dari sang Mama.
{" Ya, Zu?"} suara sang Papa langsung terdengar sesaat setelah panggilan tersambung
__ADS_1
Ozzu menarik sudut bibirnya, keputusannya untuk kembali mungkin sudah tepat. Bagaimana dia bisa menginginkan istri muda Papanya, Pria yang sudah membesarkannya dengan kasih sayang, sosok lelaki tangguh yang Ozzu miliki. Pria yang rela melakukan apa saja untuk membuatnya bahagia, mungkin saat ini sang Papa ingin dia lebih mandiri agar dia segera menyelesaikan pendidikannya, sebelum ini Papanya tidak pernah memaksakan kehendak nya untuk tinggal di asrama kampus, mungkin ini memang sebuah keharusan dan yang harus Ozzu patuhi.
Tetapi Ozzu berpikir mungkin keputusan sang papa menikah lagi hanya untuk memenuhi kebutuhan primitif seorang pria, bukan soal perasaan bahkan cinta. Terlebih kesenjangan usia diantara mereka yang begitu jauh.
{" Zu?"} Suara dari sebrang sana menyadarkan Ozzu dari renungan nya.
" Oh, aku hanya mau bilang kalau Mama akan segera kembali" kata Ozzu kembali menempelkan benda pipih itu pada telinga nya.
{" Baik, jaga diri baik-baik di sana, Papa juga akan mengunjungi mu lain hari"}
" Emmmm" balas Ozzu menunduk untuk melihat ujung sepatu nya
Setelahnya Ozzu langsung mengakhiri panggilan teleponnya dan kembali menghampiri sang Mama.
" Oh, Sean benar-benar brengsek, pangilan telepon dariku dari tadi tidak di jawab malah sekarang sibuk!" kesal nyonya Natalia dengan menatap latar ponselnya kesal
" Aku yang habis menghubungi Papa!" aku Ozzu.
Mata tajam nyonya Natalia langsung menyorot putra nya.
" Dia mengabaikan panggilan teleponku dan memilih mengangkat panggilan dari mu, oh sungguh bajingan!"
" Ma!" Ozzu terkejut dengan runtukan sang Mama, bagaimana mungkin seorang Papa di sebut bajingan saat mengangkat panggilan dari anaknya?.
Nyonya Natalia acuh dan menjauhi Ozzu untuk segera masuk keruang tunggu bandara, tak menghiraukan putranya barang sejenak.
Ozzu memandang sayu kelakuan ibu nya, ada kalanya dia seperti merasa bukan putra Ibunya, tetapi akte kelahirannya jelas tertulis dua nama orang tuanya di sana.
####
Tinggalkan like dan komentar untuk author agar semakin semangat ngetik nya ...
love you reader...
__ADS_1