
Hari sedang gerimis dan Lily masih duduk di samping makam suaminya ketika semua orang sudah beranjak pergi, jika kadang Lily ingin berpikir egois agar tetap bersama suaminya, meskipun dengan cara menghentikan waktu. Kini dia harus lebih berpikir masuk akal. Dia tidak hanya menjadi seorang istri, tetapi sudah menjadi seorang Ibu berapapun usianya dia harus dewasa karena tanggung jawab. Sekarang dia memiliki dua anak waktu tidak boleh berhenti untuk anak-anaknya, kedua anaknya harus tumbuh bersamanya dan menjaminnya tidak kekurangan apapun.
Mau tidak mau kesenjangan usia pasangan yang terlalu jauh memang harus membuat siapapun berpikir realistis dan siap. Tentu tuan Sean juga sudah mempersiapkan Lily sudah mempersiapkan Lily ketika yakin ingin menghabiskan hidup bersamanya. Mereka juga di beri seorang anak diwaktu yang tepat, setelah begitu banyak perjuangan dan latihan kesabaran.
" Ayo, kuantar Kalian pulang." Udgam mengendong Alfaaro dan mengenggam payung untuk Lily.
Setelah mengantarkan Lily pulang, Udgam juga mengantar Ozzu kembali kerumah sakit. Karena Romania masih di rawat.
" Mas.." Rengek Anastasya.
" Mas mandi dulu ya.." Pamit Udgam dengan mata sembab sehabis menangis, Udgam tidak pernah menyangka di balik fisik Kaka sepupunya yang terlihat sehat nyatanya memiliki penyakit yang serius hingga membuatnya pergi mendadak seperti ini.
Sehabis mandi, Udgam masuk kedalam kamar nya bersama Anastasya saat dirumah Nyonya Duby.
Sekarang mereka sedang berada di rumah Mama Udgam, karena mereka ingin mengelar pengajian untuk tuan Sean di rumah Lily nanti.
" Mas, aku ngak suka sama sikap Mama mu, kenapa coba harus bawa janda itu kerumah sama anaknya, Mama kamu itu kayak nyudutin aku tau nggak!" Tanpa memikirkan perasaan suaminya yang sedang sedih , istri Udgam meluapkan kekesalannya.
Sudah beberapa hari ini nyonya Duby mengajak tetangganya yang baru ditinggalkan suaminya bersama kedua anak kecil itu bermain kerumahnya, nyonya Duby kasian dengan keadaan wanita tersebut, harusnya istri Udgam tidak harus sampai merasa di sudutkan karena wanita itu juga bukan wanita muda seumuran nya, dan lagian niat nyonya Duby memberi pekerjaan wanita itu untuk bantu-bantu membersihkan tanaman Udgam yang terbengkalai sejak Udgam tinggal berdua bersama Anastasya.
Memang pada dasarnya nyonya Duby kesepian karena putra satu-satunya sudah menikah, dirinya membantu wanita itu sambil menghibur diri karena kedua anak wanita itu masih kecil jadi bisa membuatnya sedikit terhibur dari kesunyiannya.
" Dek, sudahlah, Mama hanya butuh teman, kita juga tidak bisa setiap hari datang untuk Mama." hibur Udgam yang justru membuat Anastasya merajuk.
" Mas bagaimana sih, secara tidak langsung Mama kamu itu nyindir aku yang sampai sekarang belum memberinya cucu, jangan-jangan nanti kamu di suruh nikahi janda itu lagi!"
__ADS_1
" Astagfirullah, Dek, Mama mas Mama mu juga, lagian bukan cuma Mama yang mengharap cucu dari kita, bukankah Kedua orang tuamu juga menginginkan hal yang sama?" tanya Udgam.
" Mas kok nyebut Mama dan Papa kedua orang tua ku, Mas ngak mau anggap mereka orang tua mas sendiri?"
Lagi-lagi Udgam tidak akan pernah mengerti jalan pikiran istrinya, disaat dirinya mencoba sabar di saat itu juga istri nya terus membuatnya emosi.
Nyonya Duby yang tadinya ingin memanggil Putra dan menantunya untuk pergi kerumah Lily mematung di depan pintu kamar anaknya yang sedikit terbuka.
" Kuncinya ada di kamu dek, orang tua kita begitu berharap agar kita segera diberikan kepercayaan untuk mendapatkan buah hati, tetapi kamu sendiri yang menutupi seluruh harapan mereka, disini kamu yang terus memberi mereka harapan palsu, sampai mereka matipun harapan mereka sia-sia jika kamu terus saja mengunakan kontrasepsi agar tidak hamil"
Nyonya Duby hampir terhuyung mendengar ucapan putranya.
Hati orang tua mana yang tidak hancur ketika sudah salah memilihkan anak satu-satunya jodoh, nyonya Duby kira Anastasya adalah gadis baik dan Sholehah ternyata dibalik kelembutannya yang selama ini gadis itu tunjukkan ada sikap membangkang pada suaminya.
Waktu terus berjalan, keadaan semuanya sudah mulai membaik, hanya ada seorang wanita yang hatinya tetap tidak utuh meskipun waktu terus berjalan.
" Mi, Mami tau kalau Lily tetap disini, Lily tetap tidak bisa menghilangkan bayangan mas Sean di setiap hari yang Lily lalui, Lily ingin memulai hidup baru" lirih Lily di pelukan Mama mertua nya.
Harusnya tahun depan Alfaaro sudah masuk Playground, itu sebabnya Lily ingin segera membawa pergi Putra nya, karena Lyga juga akan masuk TK.
" Kenapa mendadak sekali Mom?" Ozzu ikut membuka suara nya.
" Tidak mendadak, kalian bisa berkunjung kapan saja!" Lily memeluk Romania.
" Aku akan sangat merindukan jagoan tampan ku" sekarang Romania ikut menekuk lutut nya menyamakan tinggi nya dengan Alfaaro.
__ADS_1
" Oh Tuhan..." Keluh nyonya Valeria yang merasa berat untuk melepaskan cucu dan menantunya.
" Lily akan sering mengunjungi Mami!" Bujuk Lily.
" Aku tidak bisa mengikatmu tetap disini Li, kamu bisa memilih jalan mu, tetapi jangan lupakan Orang tua ini, bagaimanapun Alfaa cucuku.." tangis Nyonya Valeria.
" Maaaa...!" Lily memeluk tubuh wanita yang sudah melahirkan suaminya, suami yang sudah tidak bisa Lily genggam tangannya. Nyatanya hidup menjada terlalu menyakitkan. Lily jadi tau rasanya menjadi Nyonya Duby ataupun nyonya Valeria sekarang, mereka wanita-wanita tangguh yang bisa membesarkan putra mereka seolah diri puluhan tahun.
Dua hari setelah Lily pamit, kini tibalah saatnya Lily benar-benar akan meninggalkan seluruh kenangan nya dan akan menjalani hidup baru di negara baru bersama dua anak-anaknya.
" Aku akan merindukan mu!" Ozzu menciumi saudara laki-laki nya.
Ozzu mencium tangan Lily penuh hormat sebelum pemuda itu menangis dipelukan Ibu sambungnya, di susul Romania, mereka menangis berempat, nyatanya adanya perjumpaan pasti ada perpisahan.
Ozzu melambaikan tangannya saat Lily mulai masuk untuk check-in.
Setiap langkah Lily di iringi Ozzu dengan air mata, wanita yang menemani akhir hidup Papanya dengan kebahagiaan tidak bisa ia genggam tangannya.
Ozzu akan mendoakan yang terbaik untuk Lily, seperti yang sudah diberikan Lily pada pria yang sama-sama mereka cintai.
Lily masih sangat muda dan bisa memiliki banyak anak jika nanti menikah lagi, Ozzu hanya terus memperhatikan punggung wanita yang pernah membuatnya hampir kehilangan kendali , Lily sangat layak di cintai banyak orang, wanita itu begitu sepesial sampai Ozzu tidak bisa menjabarkan nya dengan kata-kata.
" Kita akan sangat merindukan mereka!" Ucap Romania dengan tangis tertahan.
Ozzu memeluk istrinya. " Lily butuh waktu untuk membuatnya kuat, kita hanya cukup mendoakan agar dia bisa bahagia dimanapun mereka berada. Kita bisa mengunjungi nya nanti Sayang!" Ozzu mencium kening istrinya dan kembali melihat siulet Lily yang semakin hilang dari pandangan nya.
__ADS_1
########
Masih ingin mengikuti kehidupan Lily setelah tuan Sean tidak ada... tinggalkan komentar untuk author yaaa...