POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
Kehidupan Lily


__ADS_3

Seorang Wanita sedang menyebrang trotoar jalan dengan menutupi kepalanya yang tertutup hijab agar tak kena rintikan air hujan, wanita itu buru-buru karena menyadari dirinya telat hampir seperempat jam menjemput putra- putrinya. Tiba-tiba terdengar lompatan kaki yang yang seperti terburu-buru, Wanita itu kaget tetapi langsung mendongak ke atas karena tidak lagi merasakan rintik hujan. Sebuah payung hitam silver menaunginya.


" Apa kau lupa membawa payung?" Tanya pria muda blasteran ketika ikut menaungi si wanita cantik kedalam payung nya.


Wanita itu mengangguk dan masih syok melihat kebaikan pria asing itu padanya. " Terimakasih!" meskipun demikian tapi wanita itu tetap ingat untuk berterima kasih.


Pria itu menyodorkan gagang payungnya. " Pegang, jangan lupa membawa payung di musim hujan!"


Wanita itu menerimanya meski bingung.


" Siapa nama mu?" Tanya pria itu ramah.


" Lily."


" Regan." Pria itu ikut menyebutkan namanya sebelum kembali berlari masuk kedalam mobil yang sudah menunggunya dengan sopir.


" Payung nya?" tanya Lily bingung.


" Simpan saja!" ucap pria itu yang sepertinya sedang terburu-buru.


Lily juga sadar bahwa dirinya sudah terlambat, sehingga mengabaikan perasaan asing yang hinggap karena perhatian kecil seorang pria asing yang tidak dikenalnya.


Lily masih berjalan sekitar sepuluh menit untuk sampai di depan gerbang sekolah anak-anak nya.


Begitu sampai cuaca tiba-tiba panas, Lily menutup payung yang di berikan oleh pria asing tadi, kemudian memperhatikan sejenak sebuah logo yang ada di antara lipatan payung itu. ' R'


Tidak lama sejak dia berdiri di depan gerbang, dua anak keluar beriringan dengan masing-masing membawa tas punggung di belakangnya.


" Mama.. " Keduanya langsung berlari kearah Lily.


" Apa Mama telat?" tanya Lily pada Alfaaro dan Lyga.


Keduanya mengeleng serentak membuat Lily tersenyum lega .


" Kita harus cepat, Mama ada janji sama dokter Gigi, apa gigi Alfaaro sudah tidak sakit sayang?" Tanya Lily sambil mulai mengandeng kedua anaknya untuk menyebrangi trotoar jalan yang tadi ia lewatinya.


" Mama sama Ade jadi pulang ke Indonesia?" Tanya Lyga yang ikut mendongak menatap Mama nya.


Lily ikut menunduk untuk menatap putrinya, sudah lebih enam bulan tuan Sean meninggal, dan Lily juga sudah selama itu tidak mengunjungi Ibu mertuanya.


Ozzu dan Romania sudah sering menelpon, menanyakan kapan Lily bisa berkunjung, karena nyonya Valeria merindukan Alfaaro.

__ADS_1


" Apa Lyga tidak boleh ikut?"


Lily hanya tersenyum manis menanggapi pertanyaan putri nya, sudah sejak sebulan yang lalu Lily ingin melihat keadaan Ibu mertuaku nya, tetapi karena rengekan Lyga yang ingin ikut Lily menjadi tidak tega dan harus membujuk dan memberi alasan tepat.


" Mama harus mengunjungi nenek sebentar, bukankah Kaka sudah Mama kasih tau!"


Mereka melanjutkan perjalanan, sampai di tepi jalan dimana mobil Lily terparkir .


Sekolah Lyga dan Alfaaro memang melewati gang, tidak bisa di lewati kendaraan roda empat, sementara di dekat sekolah nya sedang ada perbaikan jalan sehingga Lily lebih jauh untuk memarkirkan kendaraan nya.


Adakalanya Lily harus kembali bersedih saat seperti ini, membesarkan dua anak seorang diri tidak semudah yang ia pikirkan, kadang saat mereka tiba-tiba sakit dan menangis Lily akan ikut serta menangis karena sedih.


Lily sudah tidak tinggal bersama nyonya Lubis, semenjak kembali Lily tinggal di apartemen yang dibelinya dari hasil kerja keras nya, Lily juga ikut menjalankan perusahaan tuan Sean dari tempatnya sekarang, beruntung kemajuan teknologi membuat semua jadi mudah.


Sekarang Lily harus menjalani hidupnya tanpa tuan Sean, suaminya itu sudah pergi, tidak ada yang bisa menghiburnya, tidak ada yang memeluknya di tengah malam, tidak ada nasehat lembutnya, genggaman tangannya bahkan deru napasnya yang beraroma khas lelaki itu sudah tidak ada, rasanya memang berat. Seseorang yang selalu memberinya senyum manis dan tatapan mata teduh itu sudah tidak ada, dan tidak dapat Lily cari dimanapun meskipun ia sangat ingin. Hanya tersisa tumpukan kenangan yang akan Lily kenang seumur hidupnya.


Lily selalu ingat seperti apa rasa suaminya, ketika tangannya di genggam, ketika tubuhnya di peluk, dan sapuan napasnya yang hangat saat minta di temani, semua itu tidak akan pernah bisa Lily lupakan.


Lily sadar telah menangis ketika tangan kecil Lyga menyeka air matanya.


" Mama menangis?" tanya Lyga merasa bersalah.


Bukannya menghentikan tangisnya Lily malah makin menangis tersedu-sedu dengan memeluk kedua anaknya.


Setelah tenang Lily meminta maaf pada kedua anaknya.


Anak-anak Lily memang masih kecil, tetapi mereka seolah tau kesedihan Ibu mereka.


" Lyga janji tidak akan nakal kalau Mama nanti pulang ke Indonesia bersama adik!"


Berat rasanya Lily meninggalkan Lyga, karena saat ini nyonya Lubis juga sedang tidak sehat, melihat keadaan nyonya Lubis jugalah yang membuat Lily bertekad mengunjungi Mama suaminya untuk mempertemukan putranya pada beliau.


Beruntung mobil sudah berhenti di parkiran rumah sakit sehingga Lily bisa menghentikan pikiran sedihnya sejenak.


" Ayo!" Ajak Lily pada kedua anaknya.


Lily sedang mengambil kartu antrian saat suara seorang pria menegur nya .


" Lily.."


Lily langsung menoleh pada pria yang memanggilnya dengan pasih.

__ADS_1


Di sana seorang pria dengan stelan baju khas seorang dokter lengkap dengan stetoskopnya, tengah berdiri gagah menatapnya.


Lily harus menyipitkan matanya untuk mengenali pria itu, sebelum ingatannya menjurus pada pria yang tadi memberinya sebuah payung.


" Regan? Oh maksudnya Dokter Regan." Sapa Lily agak gugup karena memang penampilan pria itu sedikit berbeda dari pertemuan singkat tadi.


Pria itu menghampiri Lily dan menanyakan keperluan Lily.


" Masuk saja keruangan ku" Ucap pria itu yang ternyata adalah seorang dokter gigi.


" Apa keluhannya jagoan?" Regan menyoroti mulut kecil Alfaaro.


" Gigi Al ada kumannya yang bikin rumah, makanya gigi Al sakit di malam hari" keluh putra Lily dengan menatap lucu dokter di hadapannya.


Seketika sedang menunggu resep, Lily kembali terkejut karena Regan ikut duduk di sebelahnya seperti sedang ikut mengantri.


" Mereka anak-anak yang lucu"


Lily melihat Regan yang turut memperhatikan Lyga dan Alfaaro yang sedang bermain di fasilitas kesehatan.


" Ya" jawab Lily ikut tersenyum.


" Kau dari Indonesia?"


Lily terkejut saat Regan tau asalnya.


" Jangan terkejut, tadi aku mendengar mu mengucapkan terimakasih saat aku memberikan payungku!".


Lily jadi ingat payung yang disimpannya di dalam mobil.


" Oh, iya payung Anda" ucap Lily.


" Aku tidak memintanya, simpan untuk mu!"


Lily jadi sedikit kikuk.


" Bisa kita berkomunikasi dengan bahasa Indonesia saja?"


########


Yang setuju Lily sama Udgam mana suaranya...

__ADS_1


yang setuju Lily sama Regan juga boleeeehhh


__ADS_2