POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
Pilihan hati Lily


__ADS_3

Setelah kejadian Lily menangis di pelukan Udgam, sampai satu minggu berlalu Lily tidak menjawab ajakan Udgam menikah.


Lily masih engan, saat Udgam datang untuk bertemu Lyga, Lily bahkan rela tidak keluar kamar agar tidak bertemu dengan Udgam.


Udgam memaklumi dan memberi waktu agar Lily bisa memutuskan, melihat bagaimana luar biasanya pendirian Lily, membuat hati Udgam semakin jatuh hati pada wanita itu.


Hari ini Udgam kembali berkunjung ke rumah Lily, tidak seperti biasanya hari ini Lily yang menghidangkan jamuan sendiri untuk nya.


" Kak, ini kue buatan Lily resep Google, cobain!" kata Lily disertai senyum manis.


Udgam merasa Lily sudah bisa menerimanya, Udgam senang, mungkin beberapa hari lagi Udgam akan menanyakan keputusan Lily.


" Kak Udgam terimakasih sudah menyayangi Lyga dengan tulus." Ucap Lily tiba-tiba yang membuat Udgam menatap Lily sejenak.


" Li, aku juga sangat menyayangi Alfaaro." Udgam takut Lily merasa kasih sayang yang ia berikan untuk kedua buah hati Lily itu tempang.


" Iya Kak, Lily tau."


Udgam merasa hari ini Lily begitu murah senyum, tidak seperti biasanya, mungkinkah Lily sudah bisa menerimanya untuk menjadi calon suami?


" Assalamualaikum" Udgam ikut menjawab salam ketika melihat kedatangan Ozzu dan Romania.


" Om!" sapa Ozzu, sambil menyalami Udgam.


" Tumben kesini?" Tanya Udgam, karena sekarang Udgam memang rutin mengunjungi rumah Lily, dan baru kali ini Ozzu dan istrinya datang.


" Iya, mommy yang panggil!" jawab Ozzu sambil melihat kearah Lily.


" Aku mau nitip Alfaaro pada Ozzu dan Romania kak." ucap Lily menjawab kebingungan Udgam.


" Kan ada aku Li." ucap Udgam.


" Iya, tapikan, takut terlalu repot jika Kaka cuma sendirian."


" Kan ada kamu?" tanya Udgam. Ya kan mereka berdua bagaimana bisa kerepotan hanya mengurus Lyga dan Alfaaro, bahkan Udgam sendiripun mampu menjaga keduanya seorang diri.


Lily tertawa kecil.


" Lily mau jemput temen Lily ke bandara kak, makanya Lily panggil Ozzu dan Romania, untuk temani kak Udgam biar tidak kerepotan."


" Teman mu mau datang?" tanya Udgam.


" Iya Kak, Regan ada urusan ke Indonesia, jadi sekalian Lily ajak mampir!"


Wajah tenang Udgam sedikit berubah mendengar ucapan Lily, apakah karena kedatangan pria itu sehingga Lily tampak bersemangat hari ini?


" Kau mencintai nya?" pertanyaan Udgam itu seketika menyurutkan senyum Lily.


Lily mengalihkan pandangannya pada Ozzu, Ozzu yang tadinya menatap wajah Lily langsung menunduk tidak enak.


" Tidak!" Jawab Lily tegas.


" Kamu berbeda hari ini, karena mendengar kedatangan teman mu, ada semangat lain di jiwamu hari ini, tidak seperti biasanya Li, kamu tidak bisa berbohong."


Di cecar ucapan seperti itu oleh Udgam Lily malah kembali tersenyum.


" Jangan berprasangka kak, tidak baik." nasehat Lily yang membuat Udgam gemas.


" Ozzu, titip Alfaaro ya.." ucap Lily tersenyum pada Ozzu dan Romania.


" Kak Udgam jaga Lyga ya, sungguh Lily tidak pernah mencintai pria selain mas Sean!" jawab Lily serius yang membuat wajah Udgam yang kaku berangsur normal.


" Kita ke bandara sama-sama."


Mendengar ucapan Udgam Lily tidak marah, justru mengangguk setuju.


Sebenarnya tidak hanya Udgam yang merasa Lily terlihat berbeda hari ini, bahkan Ozzu dan Romania pun merasakannya, namun mereka tidak terlalu memikirkan, justru senang melihat Lily yang terlihat bahagia.


Di bandara. Regan yang dua hari lalu memberanikan diri menghubungi nomor Lily sedang menunggu kedatangan wanita itu.


Regan tidak berniat menghubungi nomor Lily, tetapi pria itu sedang berada di Jakarta dan tidak tahan untuk tidak mengabari Lily.


Regan juga tidak menyangka jika respon Lily begitu senang. Bahkan langsung akan mengajak Regan berkunjung ke rumah nya.


Kini Regan melihat kehadiran wanita pujaan hatinya, yang benar-benar melangkah kearah dimana dirinya berdiri. Tetapi wanita itu tidak sendirian, ada dua pria yang juga di kenal Regan, satu pria yang Regan ketahui sebagai putra pertama suami Lily dan pria kedua adalah Ayah Lyga. Dan yang membuat senyum laki-laki itu merekah adalah dua anak kecil yang juga sudah sangat Regan rindukan.


Dua buah hati Lily itu juga langsung berlari kearah Regan, meninggalkan ketiga orang dewasa yang masih berjalan ke arah Regan.


" Apa kabar Pak Regan" setelah berbasa-basi pada yang lainnya, kini giliran Udgam yang menyapa pria yang membuat ketenangannya terusik.


" Baik, Anda sendiri?" tanya Regan ramah.


Mereka mengobrol dengan baik meskipun terlihat dari nada bicara keduanya ada kata-kata saling menyindir, tetapi mereka tidak berdebat, mereka cukup bisa mengendalikan ego masing-masing.


" Kak, Lyga mengantuk!" Lily yang melihat Lyga mengayunkan kepalanya segera memberitahukan kepada Udgam.

__ADS_1


Meskipun masih ingin mengobrol dengan Regan secara laki-laki namun mendengar ucapan Lily Udgam segera mengendong putrinya yang sedang di tuntun Lily, sementara Alfaaro memang asik bermanja-manja di punggung sang Kaka dengan Romania yang menggoda nya di belakang punggung pria kecil itu.


Lily tersenyum di belakang mereka semua, dan Regan bisa melihat dengan jelas senyum Lily.


" Ku pikir kalian sudah menikah!" ucap Regan yang berjalan di samping Lily.


" Aku tidak menerima cintamu bukan karena mengincar pria lain Re.."


Lily terseyum geli, mendengar perkataan Regan.


Regan juga tersenyum, entah mengapa Regan bahagia mendengar jawaban Lily.


" Demi Tuhan, aku pernah melihat putra suamimu memandang mu dengan binar cinta, bukan aku ingin menghasut tetapi sebagai pria aku..."


" Aku bercerai dengan Papanya, karenanya!" jawab Lily yang membuat Regan terhenyak.


Lily mengangguk memantapkan.


" Ya Tuhan.." sungguh hanya itu yang mampu Regan ucapkan.


Lily tersenyum.


" Jadi sebenarnya, di sekeliling mu sekarang ini adalah tiga pria yang hatinya dipatahkan oleh mu?"


Regan sampai tidak habis pikir, tetapi Lily memang sangat pantas di perebutkan.


Tetapi Regan salut dengan Ozzu yang sudah bisa memerangi hatinya dan memutuskan menerima Lily sebagai saudara.


Mereka mampir ke restoran untuk menjamu Regan, meskipun Udgam tidak suka dengan kedatangan Regan, tetapi mereka tampak akur duduk berdampingan.


Setelah makan mereka akan kembali pulang.


Mereka sudah sampai di dekat mobil, saat tiba-tiba ponsel Udgam terjatuh karena tersenggol kaki Lyga.


Udgam akan berjongkok tetapi Regan membantu mengambilkannya, Lily akan melewati mereka tetapi pandangannya melihat sebuah mobil yang melaju dengan kencang kearah Udgam dan Regan.


Secepat mungkin Lily berlari mendorong dua tubuh pria yang sama-sama mencintainya itu.


Bugh'


Tubuh itu terpental dan masuk ke dasar parit pinggir jalan.


Lily segera bangun dan terengah-engah karena parit itu berisi air


" Hai..., apa kau tidak apa-apa?" Suara bariton seorang pria membuat membuat Lily mendongak dan menatap wajah pria dewasa itu dengan raut kaget.


" Kemarikan tangan mu, aku akan menarik mu keluar dari sana!" Lagi-lagi pria itu bersuara.


Lily tersentak, dan langsung menitihkan air matanya, saat menyadari siapa lelaki yang kini tengah mengulurkan tangannya untuk menolong nya.


Senyum pria itu. Tatapan matanya. Lily tersenyum dengan air mata yang terus mengalir, rasa sakitnya tergantikan dengan kebahagiaan yang tidak bisa di gambarkan.


" Mas Sean...


Udgam dan Regan hanya terpaku saat tubuhnya terjerembab kepinggir jalan, belum selesai dari keterkejutannya, mereka melihat dengan jelas seorang wanita terpental dengan badan menghantam mobil sebelum tubuhnya melayang ke udara.


Regan syok. Udgam hanya terpaku, Ozzu berteriak keras memanggil nama Lily.


Secepat kilat, tubuh kecil itu menghantam aspal.


Ketiga pria itu seperti kehilangan nyawa mereka, Romania menjerit memeluk kedua anak Lily, tangis wanita itu pecah dengan tubuh bergetar.


Ozzu terengah-engah menghampiri tubuh Lily yang sudah berlumuran darah, Ozzu mengguncang tubuh Lily dengan napas tersendat-sendat.


Regan yang sadar dari keterpakuannya ikut membawa langkah kakinya yang pincang menghampiri wanita yang sudah menolongnya.


Tidak ada satu katapun yang keluar dari bibir Regan selain air mata.


Udgam, terengah-engah mengambil alih tubuh Lily dari pangkuan Ozzu.


" Bangun Li, bertahan Li, Li, kamu dengar Kaka? Li, Lily..hai..!" Udgam terus mengguncang badan Lily untuk menyadarkan wanita yang sangat dicintainya itu.


Tetapi nihil. Mata wanita itu sudah tertutup rapat dengan bibir terseyum, wajah cantiknya sudah berlumuran darah, bibirnya berdarah, hidung Lily berdarah, bahkan telinga wanita itu berdarah.


" Li, Lily, Li..Lily ,bangun, Kaka janji tidak akan memaksamu menikah dengan Kaka, Kaka tidak akan mengajukan gugatan atas Lyga, tidak, kamu buka mata ya sayang!" Udgam megap-megap dengan tangis yang terus membujuk Lily untuk membuka matanya.


Sementara Regan terpaku pada ingatan nya akan ucapan Lily.


" Kamu..tidak merubah keputusan mu untuk melihatku seperti seorang pria yang menginginkan mu Li, apa selamanya kamu ingin aku jadi sahabatmu?"


" Jika kamu meminta nyawa ku, aku akan memberikannya Re..tetapi aku sudah tidak memiliki tempat di hatiku untuk menampung nama laki-laki lain"


Sekelebat bayangan percakapannya bersama Lily membuat Regan menutup matanya rapat dan air matanya jatuh. Karena Lily benar-benar menukar nyawanya demi menyelamatkan kehidupannya.


Orang-orang mulai mendekat, Lily langsung dibawa kerumah sakit.

__ADS_1


Lily masuk rumah sakit dengan tubuh berlumuran darah, Lily keluar dari rumah sakit sudah berkainkan kafan.


Ozzu duduk di samping gundukan tanah yang di nisan nya tertuliskan Nama Lily, tangis Ozzu pecah.


" Apakah kamu terlalu senang akan bertemu Papa, sampai sepanjang hari kau tersenyum Li?" Ozzu kembali terisak-isak.


" Kenapa kau sangat mencintai pria tua itu? Sampai kau tinggalkan kami yang masih sangat membutuhkan mu."


Bibir Ozzu bergetar, napasnya pun begitu.


" Bahagia disana Li, aku janji akan membesarkan Alfaaro seperti Papa dulu membesarkan ku, maafkan aku yang belum menjadi putra terbaik , Mommy!" Setelah mengatakan isi hatinya Ozzu berlari kedalam mobil, dirinya tidak sanggup membendung air matanya.


Regan tersenyum di atas makam Lily.


" Aku tidak pernah menyesal pernah jatuh cinta pada mu Li, istirahat dengan tenang Li, Semoga Allah menempatkan mu didalam surganya yang indah."


Regan pergi setelah mencium batu nisan Lily, kini hanya menyisakan Udgam.


Nyonya Valeria dan nyonya Duby tidak bisa mengantar Lily keperistirahatan terakhir nya, karena kedua wanita itu pingsan hanya mendengar kabar Lily tiada.


Dua puluh tahun kemudian.


" Ayah......Aro bikin ulah lagi, aku malu Ayah! Aro selalu menyalahgunakan jabatan untuk melecehkan teman ku!" Adu seorang gadis cantik pada seorang pria paruh baya yang sedang sibuk membaca buku.


Seorang pemuda tidak lama ikut menyusul sang wanita .


" Oh sungguh Ly, kau benar-benar pengaduan!" sarkas sang pemuda begitu duduk didepan pria paruh baya yang kini tengah melepas kacamata bacanya.


Pria yang di panggil Ayah itu kini menatap kedua anak nya.


" Ada apa anak-anak Ayah?" tanyanya lembut.


" Ayaaah! Aro membuatku malu, masak Aro meminta temanku yang sedang interview kerja membuka roknya!"


Pria yang dipanggil Ayah itu mendelik, sedangkan pemuda yang bernama Alfaaro itu berdecih.


" Aro, apa benar?" tanya Udgam mulai menanyai putranya.


" Itu tidak benar Ayah!" sanggah Alfaaro.


" Itu benar Ayah!" Lyga mengadukan dengan manja di lengan Ayahnya.


Udgam duduk dengan serius.


" Alfaaro Ayah tanya sekali lagi kenapa kamu meminta seorang wanita membuka roknya, itu tidak benar nak!"


Alfaaro berdecih melirik kakaknya.


" Teman anak Ayah aja yang ngak bener, ngapain nangis disuruh buka roknya, sedangkan tidak dibuka saja hampir semua kelihatan!" Alfaaro menjawab dengan kesal.


" Tapi kamu tidak sopan dek'!" ucap Lyga.


" Aku hanya tidak suka ada wanita tidak beradab di kantor ku, Ly. Berhenti mengadukan apapun pada Ayah, kau terlalu kekanakan!" geram Alfaaro yang menatap tajam Kakanya.


Lyga hanya bergelayut manja di lengan Udgam.


Udgam hanya mampu menggelengkan kepalanya. Anak-anaknya sudah besar, tetapi kemanjaan Lyga tidak pernah surut.


Lyga tumbuh menjadi wanita yang pintar dan mandiri, tetapi akan sangat manja ketika bersama nya.


Alfaaro sudah tumbuh menjadi pemuda hebat, menjadi seorang CEO mengantikan Kakanya Ozzu, kini Ozzu sudah pensiun seperti dirinya.


Ozzu dan Romania memiliki satu orang putra yang datang sedikit terlambat, putranya baru sekolah menengah atas saat ini.


Sedangkan Udgam sendiri terlalu mencintai wanita pujaan hatinya, Udgam tidak menikah dan memilih membesarkan kedua buah hati Lily.


Alfaaro yang cerdas sangat berbakat, tetapi dia tumbuh menjadi pria yang dingin, sikapnya keras, tidak suka wanita yang manja, entah dari mana jiwa kemesuman nya tumbuh, usianya kini dua puluh empat tahun, Alfaaro seperti seorang bodyguard yang selalu menjaga Kakanya Lyga, meskipun mereka sering kali bersitegang tetapi mereka sama-sama saling menyayangi.


" Shhhhhttt" Udgam menekan dadanya yang terasa nyeri membuat Lyga dan Alfaaro langsung mendekati Ayahnya.


" Ayah!" Seru mereka berdua dengan kompak. terlihat Alfaaro dan Lyga sangat mengkhawatirkan keadaan nya.


Udgam tersenyum, Udgam sudah sangat bahagia hidup bersama anak-anaknya, setiap harinya dirinya juga selalu merasa Lily ikut memperhatikan tumbuh kembang mereka.


Sekarang keduanya sudah dewasa, tumbuh menjadi putra-putri Udgam yang tangguh, hari tua Udgam tidak pernah kesepian, kini Udgam hanya terus berdoa semoga kelak dia bertemu bidadari surga yang menyambutnya disaat nyawa di ujung raga.


End.


Haiiii para pembaca, Alhamdulillah akhirnya kisah Lily selesai juga, terimakasih atas dukungan kalian semua selama ini...


tinggalkan komentar untuk author yaaa..


Jangan lupa mampir ke karya author berikutnya..


__ADS_1


__ADS_2