
" Mas Sean, Lily hamil "
" Kau sungguh-sungguh?"
Lily mengangguk dengan bibir tersenyum , ternyata begitu jelas kebahagiaan suaminya.
Senyum tuan Sean sampai agak bergetar ketika pria itu segera mencium Lily dan meraba perutnya yang masih rata, Tuan Sean sedang merasa bahagia sampai rasanya penuh hingga dadanya.
" Akan aku berikan apapun untuk mu, apapun yang terbaik dan apapun yang kau minta." tuan Sean masih menaungi Lily, membelai pipinya dan tidak berhenti berterimakasih karena kebahagiaan luar biasa' yang diberikan istri mudanya.
Lily agak malu untuk menanyakan nya, tetapi dia harus.
" Apa yang tadi, tidak jadi?"
Pria itu mengeleng.
" Aku rela berpuasa demi kalian sejahtera dan sehat, aku tidak mau ambil resiko"
Tuan Sean berbaring di samping Lily, pria itu memeluk istrinya. " Cukup begini saja dulu!"
Lily jadi ikut melingkarkan tangannya untuk memeluk tuan Sean, dia juga masih sangat rindu pada lelakinya.
Tuan Sean juga menikmati kebahagiaan yang tidak biasa ini, kebahagiaan meluapi hatinya, mendengar berita kehamilan Lily, sesuatu yang tak terpikirkan akan datang begitu cepat. Tuan Sean memeluk Lily lebih erat, hingga tubuhnya meringkuk seperti anak kecil dan menciumi puncak kepala istrinya tanpa henti.
Mereka akhirnya turun untuk mengambil surat keterangan hamil dari Dokter yang kemarin membantu Lily di bandara, saat melakukan pendaratan darurat perut Lily terasa kram dan wanita itu muntah-muntah sampai di ketahui dia ia sedang mengandung.
" Kok cepat?"
Di ujung tangga Ozzu yang muncul dari dapur dengan secangkir coklat bertanya.
" Apanya?" tanya tuan Sean.
" Lepas kangennya lah Pa!" ucap Ozzu melirik Lily.
" Nanti malam saja, takut kamu ganggu!" ucap tuan Sean.
" Dih, padahal udah niat bikin minum mau intip gaya kayang Papa"
Tuan Sean menjewer telinga anaknya. " Jangan ngawur kamu!" kesal tuan Sean.
" Kan mau latihan Pa, soalnya aku baru bisa gaya tanam jagung!" Ozzu berlari menjauhi papa nya takut di tampol, pemuda itu tertawa renyah, puas menjahili sang Papa.
********
" Jadi Lily hamil?" Ozzu ikut melotot membaca surat dari dokter hasil tes Lily.
__ADS_1
Tuan Sean cuma mengangguk dan tersenyum kemudian menarik pinggang Lily agar duduk di atas salah satu pangkal pahanya.
" Bagaimana ini?" Ozzu sampai gelisah dengan keriangannya sendiri hingga salah tingkah padahal Lily yang sedang hamil. " Apakah dia akan memanggilku Kaka nanti? Abang? atau.....
" Masih lama Ozzu...!" Lily ikut gemas melihat tingkah Ozzu.
Tuan Sean hanya terus tersenyum tanpa memperdulikan bagaimana ekspresi Ozzu yang terlihat menggelikan.
Lily memang tidak pernah tahu seberharga apa kabar kehamilannya untuk tuan Sean, tuan Sean yang sudah tidak muda lagi merasa diberi sebuah berkah keajaiban, bagaimanapun dia merasa sangat beruntung memiliki istri yang muda dan sangat cantik, baik, mencintainya dan kini tengah mengandung anak nya.
Pria itu belum pernah merasakan kebahagiaan yang tidak biasa seperti ini, tuan Sean takut jika ini hanya mimpi dan akan lenyap ketika matanya terbuka.
" Aku-aku belum bisa mengantikan popok bayi, ah, bahkan aku belum berani mengendong bayi yang baru lahir, jujur aku takut memutuskan bagian tubuhnya!"
Racauan Ozzu membuat tuan Sean menatap putranya horor.
" Awas jika sampai kau berani menyentuh adik mu nanti!" ujar tuan Sean penuh ancaman.
" Aku pasti akan belajar Pa!" protes Ozzu.
" Tidak perlu, Papa akan mengurus nya!"
" Aku juga ingin mengurus saudara ku Pa, aku ingin belajar mengurus anak sejak dini karena aku ingin menjadi sosok Ayah seperti Papa, yang sanggup mengurus ku seorang diri, meskipun aku bukan anak piatu!"
Mendengar alasan putra nya tuan Sean terharu, begitu juga Lily, melihat Ozzu tidak keberatan untuk mendapatkan saudara saja mereka cukup bersyukur apalagi jika Ozzu sampai berpikiran seperti itu. Mereka benar-benar terharu.
" Ngak ada, modus!" ketus tuan Sean.
" Aku hanya ingin merasakan pergerakan bayinya"
" Belum ada Ozzu!" kesal tuan Sean. " Nanti jika perut Lily sudah besar baru mulai gerak!"
Lily malah ngantuk mendengar perdebatan dua pria di hadapannya. Sejak kapan dua laki-laki ini jadi hobby berdebat, dirinya juga tidak tau.
Hari ini mereka sedang bersiap untuk pergi kerumah Nyonya Duby.
Lily sudah masuk kedalam mobil yang akan membawanya kembali bertemu dengan Udgam.
Meskipun hubungan mereka baik-baik saja, bertemu masa lalu bukanlah hal yang menyenangkan, meskipun mereka tidak saling menuntut.
Rumah nyonya Duby tampak ramai, sepertinya acara inti akan segera dimulai.
Lily, Ozzu, tuan Sean bahkan nyonya Natalia ikut hadir di acara makan malam bersama itu.
" Namanya Anastasya, dia putri kami satu-satunya" ucap pria yang bernama Bram rekan tuan Sean memperkenalkan putri nya.
__ADS_1
Gadis yang di sebut namanya itu tampak malu-malu, terlihat sekali jika gadis itu pendiam dan sopan, sepertinya memang cocok dengan Udgam yang juga memiliki kepribadian yang lembut.
" Jadi bagaimana nak Udgam, apa nak Udgam bersedia mengambil alih tanggung jawab saya sebagai Ayah dan menjadikan putriku istri yang akan nak Udgam jaga?"
Lily menahan napas, saat Udgam justru menatapnya.
Lily meremas dress yang ia pakai, karena gugup.
" Jangan khawatir, putri kami ini tidak terikut pergaulan bebas, dia benar-benar kami didik dan kami besarkan dengan akhlak dan adab yang baik, insyaallah dia adalah wanita shalihah!"
Udgam yang mendengar perkataan Ayah wanita yang di jodohkan dengan nya mendongak, Udgam tau apa yang sedang pria itu sampaikan, jika seperti itu Udgam juga merasa harus meluruskan.
" Bagaimana nak Udgam?" Semua fokus pada Udgam termasuk Lily.
Udgam terlihat menegakkan tubuhnya sebelum menatap semua orang.
" Maaf sebelumnya, saya ingin jujur sama kalian semua, kalian mengetahui status saya sebagai seorang lajang, pria yang belum pernah menikah" Udgam mengehentikan ucapannya sejenak. " Yang sebenarnya status saya yang sesungguhnya adalah seorang duda!"
'Duarrr'
Semua orang terkejut, begitupun Lily yang sampai menahan napas.
" Udgam kamu jangan bercanda Nak!" Seru Nyonya Duby pada putranya.
" Maaf, Ma, Om, Tante, Anastasya, Lily, Kak Sean, Ozzu" tutur Udgam lembut, menyampaikan maaf pada mereka yang hadir.
" Bagaimana bisa?" Tanya nyonya Duby yang ikut syok.
" Ceritanya panjang Ma, lebih tepatnya kami terpaksa menikah karena keadaan, kami di jebak dan hampir di keroyok warga karena kesalah fahaman, kami dinikahkan siri oleh warga."
" Kenapa kamu tidak pernah cerita Udgam!" seru Nyonya Duby dengan tatapan pedih.
" Udgam tidak mau membuat Mama sedih, lagi pula, Udgam jujur karena Udgam tidak mau menipu keluarga Bapak Bram, seperti yang beliau katakan jika putrinya wanita baik-baik, dan pasti jika kami menikah, Udgam lah yang menyentuhnya pertama kali, rasanya tidak adil jika Udgam tidak jujur!"
" Maksudnya bagaimana nak Udgam?" Bapak Bram masih terlihat tenang dan ingin mendengarkan penjelasan Udgam.
" Saya sudah bukan perjaka lagi Pak"
Udgam menatap Lily.
"Maaf Li, aku membuat kamu kecewa, selama ini kamu selalu memujiku menjadi pria yang baik . Nyatanya aku tak sebaik itu, kamu menganggap aku sebagai kakak yang layak di contoh, nyatanya aku ngak se layak itu"
Semua orang menganggap ucapan Udgam pada Lily, adalah ungkapan penyesalan seorang Kaka pada adiknya, karena semua tau Lily dan Udgam dekat sejak Lily tinggal bersama dan Lily sudah menganggap Udgam kakaknya sendiri.
Sementara untuk Lily, ucapan Udgam adalah upaya Udgam memberi tahunya bahwa pria itu pernah menyentuhnya, karena Udgam memang mengira waktu itu Lily tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Telapak tangan Lily terasa dingin dan lembab. Lily tau, meskipun Udgam tidak memberitahu nya, Lily tau karena perbuatan Udgam tak akan bisa Lily lupakan seumur hidupnya.
Setelah ungkapan kejujuran Udgam semua orang diam , membuat suasana menjadi hening.