POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
Luapan hati


__ADS_3

Ternyata benar. Dokter mengatakan tuan Sean bersikeras untuk tidak dirawat meskipun penyakitnya tampak serius, bahkan untuk melakukan pengobatan lanjut pria itu tidak mau, terakhir tuan Sean memeriksakan kesehatannya beberapa bulan yang lalu, bahkan pria itu sama sekali tidak membuka amplop coklat dari rumah sakit, justru Ozzu lah yang membacanya dan berlari kerumah Udgam untuk meminta tolong membujuk sang Papa untuk bersedia berobat.


Lily memperhatikan wajah pria yang begitu di cintainya, berbagai macam alat bantu menempel di sebagian tubuh pria itu.


Lily sudah ikut mendengarkan penjelasan Dokter, Tuan Sean menderita infeksi paru-paru, belum parah, tapi akan cepat berakibat fatal bila tidak cepat di obati.


Masih besar kemungkinan untuk sembuh, asalkan tuan Sean rutin berobat, masalahnya sejak sakit pria itu justru menjadi perokok aktif, yang membuat infeksi paru-paru nya semakin parah.


" Aku ingin bicara"


Nyonya Natalia membawa Lily di kantin rumah sakit.


Tangan Lily di raih oleh nyonya Natalia untuk di genggam.


Lily POV


Aku sedikit terkejut ketika nyonya Natalia mengenggam tangan ku.


" Apa kamu sudah menikah?"


Tanya nya, aku mengangguk sopan, karena beliau juga bertanya sopan.


" Mana suami mu?".


" Maaf, saya tidak bisa memberi tahu anda.!" kataku.


" Aku ingin bertemu, aku ingin memohon pada suamimu agar mau melepaskan mu supaya sean bisa menikahi mu!"


Aku syok mendengar ucapan nyonya Natalia. Wanita ini dulu begitu membenciku karena aku yang menjadi istri kedua suaminya, bahkan menyakitiku dengan begitu keji supaya aku bisa bercerai dengan suaminya, tetapi mengapa kini justru dia yang ingin aku kembali dinikahi suaminya?.


" Li tolonglah!, tolong kami."


Nyonya Natalia menangis, wanita itu terlihat seperti Ozzu saat memohon padaku agar aku mau menemui Papanya.


" Saya tidak bisa kembali bersama tuan Sean nyonya!" ucapku mencoba melepas genggaman tangannya dari tangan ku.


" Cinta Sean sangat besar untuk mu, kau tidak akan menyesal meski kau kehilangan cinta dari suami mu Li, Sean benar-benar mencintai mu!".


" Ini bukan soal cinta nyonya, tetapi saya sungguh tidak bisa kembali bersama beliau!" aku ingin pergi, karena saat ini semua orang seolah menyudutkan ku, tak taukah mereka aku juga ingin bahagia, aku juga ingin di cintai, tetapi tidak dengan kembali bersama pria masa lalu seperti ini, ada yang lebih membutuhkan ku.


Tak pernah aku membayangkannya, ketika Nyonya Natalia justru bersimpuh dengan kedua tangan menangkup di depan dada.


" Aku mohon Li!"

__ADS_1


Aku sadar kini kami mulai menjadi pusat perhatian, setiap mata menatap kearah kami.


" Nyonya berdirilah! jangan seperti ini!" aku mencoba membantunya berdiri, tetapi tanganku di tepis.


Wanita itu menangis sambil memohon ingin menemui suami ku.


Karena kami semakin menjadi pusat perhatian


Aku mengalah dan menarik nyonya Natalia berdiri.


" Saya akan katakan, tetapi tolong anda berdiri!" ucapku tegas dan nyonya Natalia menurut untuk kembali duduk diatas kursi.


Dunia benar-benar terbalik, dulu wanita ini melakukan apapun untuk membuatku pergi, kini dia rela memohon, kepada ku agar mau kembali. Takdir memang semisteri itu.


" Saya dan suami saya sudah bercerai!" kataku jujur.


********


Kami kembali kekamar rawat mas Sean saat Ozzu datang dan mengatakan jika mas Sean sudah sadar.


Awalnya aku tidak ingin masuk, tetapi semua orang memaksaku, jadilah aku masuk seorang diri.


Dadaku bergemuruh ketika melihat pria itu yang menatapku dengan tatapan mata teduh, sama seperti dulu ketika kami masih bersama, tangan nya melambai memintaku untuk mendekat.


" Aku rela terus sakit jika itu membuatmu iba dan mau datang kepadaku" ucapnya yang terdengar memilukan untuk ku.


Pria ini sungguh sudah membuatku kembali bersedih.


" Aku ingin memberimu ini!"


Mas Sean mengeluarkan sebuah kotak kecil dari bawah bantal, kotak yang begitu ku kenali.


" Ini cincin Oma yang dahulu di pinjamkan Mama kepada Tante Lubis, takdir mengirim ini kembali beserta pemiliknya yang baru. Ini milikmu!"


Mas Sean menyematkan cincin itu di jari manisku, jauh-jauh aku pergi menghindari pria ini ternyata sebuah cincin bisa membuatku kembali bertemu dengan nya.


Aku ingin melepas cincin itu, namun mas Sean justru mengenggam tangan ku erat.


" Biarkan berada di jari nanis mu, kumohon!"


Mata mas Sean menatapku begitu lekat. Yang membuatku tak berdaya adalah pria itu menangis. Oh Tuhan...begitu berat cobaan hamba Mu.


" Pria yang menemanimu kesini sudah kembali ke Prancis atas perintah Tante Lubis, dan Tante Lubis juga mengizinkan mu tinggal lebih lama disini."

__ADS_1


Ini bukan lagi lelucon, tetapi ini sudah keterlaluan, aku ingin menyangkal, akan tetapi ponselku berdering dan tertera nama 'Madam' disana, yang berarti nyonya Lubis.


Ku hela napas dalam begitu pangilan berakhir, ternyata apa yang di ucapkan mas Sean benar. Tak mampu ku bendung lagi air mataku, lagi-lagi aku merasa dibuang oleh seseorang.


" Apa sesakit itu hanya untuk menemaniku beberapa saat Li?" Tanya mas Sean.


" Bapak yang membuangku, jika Bapak lupa?" Aku tidak mau di sudutkan lagi, cukup aku sakit dimasa lalu, aku tidak mau mengalah lagi.


" Mengapa kau harus menghindari ku sampai ke luar negeri?"


Aku memejamkan mata. Lelaki ini! mudahnya berucap demikian!.


" Bukankah Bapak yang ingin menghindari ku?"


" Tidak seperti itu, Lily!"


Kerongkongan ku terasa sakit sekali.


" Lalu, apa yang bapak inginkan sekarang?" tanyaku sedikit emosi.


" Jangan menghindari ku, Li!"


" Bapak jangan plin-plan, bapak seperti sedang bermain tarik ulur sekarang, dulu tiga bulan saya Bapak asingkan tanpa tau saya salah apa, hingga berhari-hari saya terus berpikir apa yang sebenarnya salah dari diri saya, setelah tiga bulan tiba-tiba Bapak muncul, yang membuat saya kembali memiliki harapan, tetapi beberapa hari kemudian, Bapak bahkan menceraikan saya tanpa menemui saya dan bertanya bagaimana perasaan saya saat itu, dan sekarang, tiba-tiba semua orang meminta saya untuk kembali sama Bapak, apa itu adil buat saya Pak?" Sungguh aku sudah tak mampu lagi membendung perasaan kecewaku yang terpendam. ku keluarkan semua yang pernah kurasakan pada pria ini. Tak taukah dia, aku juga tersiksa dengan perpisahan ini.


" Maaf!" Lirih mas Sean.


" Aku hanya menuruti apa yang Bapak inginkan!" kataku lagi, yang kali ini sambil menghapus air mataku yang sudah mengalir, membahas masa lalu hanya menggali luka hati untuk ku.


" Aku tidak pernah meminta mu untuk pergi, Li!"


" Secara tidak langsung mas Sean memang mendorongku pergi, aku benar-benar seperti tiada artinya untuk mas Sean, bahkan untuk sekedar pelukan perpisahan atau pelukan penenang tidak mas berikan untuk ku, jika hanya sebuah pesan bagaimana mas bisa melihat keadaan ku, aku sakit tetapi tidak bisa untuk mengeluh, aku menangis, mas juga tidak akan tau, aku membutuhkan mas Sean untuk sandaran bukan hanya sebuah pesan!"


Tidak bisa lagi ku tahan gejolak emosi ini, bahkan aku sampai kembali memanggilnya mas, aku hanya ingin dia tau sekali lagi. Dia yang waktu itu ku butuhkan, bukan harta nya. Aku benar-benar merasa buruk ketika tidak ada yang memberiku sandaran, aku merasa semakin tertekan karena keadaan, dan semua berawal dari keputusannya yang sepihak.


Menyadari emosiku yang mulai tidak stabil aku akan beranjak pergi, tetapi mas Sean menarik tangan ku sekali lagi.


" Sungguh Li, aku tidak bermaksud membuang mu, aku hanya takut jika harus menemui mu, karena aku tidak akan sanggup melepaskan mu!"


Aku mencoba melepaskan tangan mas Sean dan ingin keluar, tetapi sekali lagi mas Sean meraih tangan ku.


" Maafkan aku, jangan pergi, Li."


Aku tidak sanggup menjawabnya, aku tidak mau mas Sean melihatku menangis sekali lagi.

__ADS_1


Pria ini...Kenapa takdir kembali membawaku padanya??


__ADS_2