POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
Berdamai


__ADS_3

Ozzu baru saja pulang dari kantor. Hari ini dirinya tidak ada jadwal kuliah, pemuda itu sedang duduk seorang diri.


Ozzu menerawang pertemuan nya pada Lily saat dirinya menjemput Papanya kerumah sakit dan mengantar mereka pulang kerumah baru. Saat itu Ozzu mengajak Lily untuk bicara.


Flashback On


" Katakan apa yang kau inginkan, aku janji akan mengabulkan nya, seperti janji ku, jika kamu bersedia kembali pada Papaku"


Lily menghampiri Ozzu dan ikut duduk.


" Ku kira kau tak akan mudah melakukannya!"


" Aku bukan pecundang, jika aku sudah berjanji pasti akan ku tepati!" sumbar Ozzu.


" Yakin?" Lily tersenyum mengejek.


Di mata Ozzu Lily sedikit lebih menyebalkan saat ini.


" Yakinlah!" seru Ozzu, penuh percaya diri.


" Maafkan Mama mu, berdamailah dengan keadaan, aku ingin itu!"


Ozzu tidak berkutik mendengar permintaan Lily. Dari jutaan permintaan mengapa harus itu yang di inginkan Lily, apa untungnya untuk wanita itu?.


" Aku tidak bisa!" tolak Ozzu.


" Aku juga tidak memaksa" Lily tersenyum.


" Kau tidak mendapatkan apapun dengan permintaan mu itu. Yang lebih menguntungkan banyak!"


" Aku hanya ingin kita semua akur" ucap Lily sambil akan berlalu.


" Why??"


Tanya Ozzu dengan tangan yang mencoba meraih tangan Lily.


" Mamaku tak pernah menyukai mu, mengapa kau perduli?"


" Aku tidak ingin menjadi pendendam, iklas akan membuat hati kita tenang!"


Setelah itu Lily ikut menyusul suaminya yang lebih dulu masuk kedalam kamar.


Flashback off


Ozzu meraup wajahnya frustasi, sampai saat ini dirinya belum bisa mengabulkan keinginan Lily, dia seperti seorang pengecut.


" Apa aku benar-benar harus melakukannya?" Gunam pemuda itu bimbang.

__ADS_1


Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja kaca sebelum akhirnya tetap menyambar kunci mobil.


Nyonya Natalia sedang membantu Bi Sum di dapur saat tiba-tiba Ozzu datang dan ikut bergabung.


" Ada yang bisa Ozzu bantu Bi?" tanya pemuda itu yang mengejutkan kedua wanita itu.


Nyonya Natalia menatap putranya sebentar, sebelum bergegas melangkah, menjauh, nyonya Natalia tidak ingin membuat Ozzu kembali marah padanya, entah apa tujuan pemuda itu datang, karena tidak biasanya Ozzu berkunjung.


" Ma, apa Papa semalam di sini?" tanya Ozzu basa-basi, yang membuat langkah kaki nyonya Natalia terhenti.


Wanita itu gemetaran, benarkah Ozzu kembali memanggilnya Mama?.


Ozzu meraih pundak Mamanya, pemuda itu menariknya untuk berhadapan.


" Mama terlihat kurusan, Mama sakit?"


Air mata nyonya Natalia meleleh. " Ozzu..." hanya itu yang sanggup ia ucapkan.


*******


Tuan Sean sedang cemas dan gelisah karena Lily yang sudah berhari-hari tidak bisa di hubungi.


Ini hari keempat nomor telepon Lily tidak aktif, tuan Sean juga sudah menghubungi nyonya Lubis, tetapi ternyata nomor telepon nyonya Lubis juga sama tidak aktifnya.


Lusa, mereka akan di undang di acara pertemuan keluarga Udgam dan calon istrinya.


Harusnya mereka sedang berbahagia karena masih pengantin baru, tetapi yang terjadi Lily di sibukkan segala macam kegiatan.


Tuan Sean mencoba menghilangkan sesak di dadanya, tiga minggu tidak ada Lily hidupnya rasanya sepi, tidak ada istri kecilnya yang suka manja. Tidak ada suara ricuhnya di meja makan. Tidak ada yang suka tarik- tarik jenggot nya saat bangun kesiangan.


Ponsel tuan Sean berkedip, tanda ada pesan masuk. Mata tuan Sean berbinar membaca sebuah pesan dari nomor baru.


[ Pria besar, jemput istri mu di bandara jam 8 malam.]


Pesan itu baru masuk, dan sekarang sudah jam 7: 20, sepertinya pesan itu baru terkirim meskipun sejak lama di kirim.


" Oh, Tuhan..."


Senyum tuan Sean merekah. Tidak ada yang memanggilnya pria besar, selain istri kecilnya, Buru-buru pria itu mandi kilat dan langsung bersiap menuju bandara.


Ozzu baru tiba setelah dari rumah Mama nya lebih dulu, pemuda itu tampak heran melihat tuan Sean yang turun tangga tergesa-gesa.


" Pa ini berkas.....


" Papa ke bandara dulu!" potong tuan Sean.


"Pa, siapa yang akan datang?"

__ADS_1


" Momy mu!" seru tuan Sean.


" Lily?" tanya pemuda itu yang malah lebih dulu meminta Papanya masuk kedalam mobilnya yang bahkan mesinnya belum mati.


" Biar Ozzu antar"


Tuan Sean tidak menolak, pria itu segera masuk dan duduk tertib dengan debaran jantung yang syahdu.


Lily mengenggam ponselnya. ia menarik koper di satu tangan nya dan melangkah melewati pintu kedatangan, bibirnya tertarik keatas saat melihat kehadiran suaminya.


" Mas Sean!" Wanita itu berlari tergesa-gesa dan segera memeluk tuan Sean dengan sangat erat.


" Lily takut tidak akan lagi bisa memeluk mas Sean, Lily takut akan benar-benar tidak bertemu dengan mas!"


" Apa yang terjadi?" Tuan Sean baru sadar jika Lily terlihat sangat pucat.


" Penerbangan nya sempat terganggu dan kami melakukan pendaratan darurat di Dubai."


" Oh, Tuhan.." tuan Sean semakin mengeratkan pelukannya, mereka lupa jika masih di bandara, sementara Ozzu di buat iri hati melihat kemesraan Papa dan momy mudanya.


" Ngenes amat jadi jomblo!" lirih Ozzu sambil melangkah mendekati sepasang suami istri di hadapannya.


" Lanjut di rumah saja ya Pa, Mom, please... kasihanilah jomblo, kalo di rumah kalian mau kawin laripun ngak masalah!"


Tuan Sean melotot menatap wajah putra nya, Lily tersenyum tipis sembunyi di balik lengan suaminya.


Di mobil, Lily tidak berhenti memeluk lengan suaminya.


" Kupikir aku benar-benar tidak akan bisa pulang untuk mu, Mas!"


Belasan jam Lily di dalam penerbangan komersil dengan ponsel tidak aktif, pesawat pertama yang di tumpangi nya mengalami trouble dan sempat mengguncang seluruh isi kabin, Lily pikir dirinya akan benar-benar tidak selamat, ternyata Tuhan masih menyayangi nya.


" Apa kau yang mengirimkan pesan untuk ku?"


" Ya, tadi aku pinjam ponsel orang, ponselku baru ku hidupkan"


Sampai di rumah, Lily langsung di gendong oleh tuan Sean, dan melupakan Ozzu yang bahkan masih sibuk menarik koper mama mudanya.


Ozzu hanya mengeleng pasrah, tanpa berani ikut Papanya naik ke atas, pemuda itu tau apa yang akan terjadi, pasti dirinya semakin ngenes, Ozzu memilih berbaring di atas sofa untuk istirahat sejenak, nanti dia juga butuh bicara dengan Lily, saat ini biarkan Papanya melepas rindu dulu.


Lily di angkat dan diciumi seperti anak kecil, Lily merasakan deru napas suaminya yang meningkat terus menciumnya tanpa jeda, tua Sean bertingkah seperti pemuda tidak sabaran.


Lily sampai harus berjinjit-jinjit untuk mengimbangi suaminya yang ingin terus menarik bibirnya dan mendorongnya mundur hingga di jatuhkan di atas ranjang. Lily membiarkan suaminya yang sedang ingin mengajaknya buru-buru.


Sampai pada saat tuan Sean akan menenggelaminya, Lily mendorong pelan dada suaminya.


" Mas, pelan-pelan!"

__ADS_1


Tuan Sean diam sejenak. " Kenapa?" meski sedang ingin meledak pria itu masih mampu menahannya.


" Ada anak kita!"


__ADS_2