POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
Kejahilan Ozzu


__ADS_3

" Saya terima apa pun keputusan Bapak Bram sekeluarga, saya tidak bermaksud apa-apa, tujuan saya hanya ingin jujur!" ucap Udgam dengan ketenangan dan juga kesopanan yang tinggi.


" Bagaimana, Nak?" Pak Bram, menanyakan pendapat putrinya.


Tanpa disangka-sangka, Anastasya mengangguk, gadis itu tersenyum lebar.


" Anastasya insyaallah siap menerima Mas Udgam dengan kelebihan dan kekurangannya Ayah!" ucap gadis itu tanpa ragu.


" Alhamdulillah..." Seru mereka semua.


Yang paling lega diantara mereka adalah Lily, dirinya sampai tidak menyadari jika sedari tadi sudah menahan napasnya, begitu Anastasya menjawab, Lily meraup udara sebanyak-banyaknya.


Udgam menatap penuh penyesalan pada Lily, akan tetapi Lily justru menatapnya dengan senyuman tulus.


" Jadi, pernikahan nya bisa kita langsungkan bulan depan?" Tanya Nyonya Duby.


" Lebih cepat lebih baik;" ujar Pak Bram dengan senyum mengembang.


Tidak semua pria bisa se jujur Udgam, bisa saja pria itu tidak mengatakan status nya yang sebenarnya, siapapun tidak akan ada yang tau karena pria tidak meninggalkan bekas, duda atau perjaka tidak ada yang bisa membedakan. Namun Udgam memilih jujur, karena dirinya sadar Allah maha mengetahui, meskipun tidak dikatakannya, tetapi dirinya tau dengan pasti kebenarannya, Udgam ingin menjalin hubungan yang di awali dengan kejujuran, agar nantinya mawadah, warahmah, pernikahannya.


Setelah mereka pulang Tuan Sean membawa Lily naik kekamar mereka.


Tidak bosan-bosannya tuan Sean terus menciumi istri nya.


" Mas Sean, Kenapa Mama Ozzu terlihat sangat pucat?" tanya Lily, tadi dirinya ingin membagi kebahagiaan bersama madunya, namun melihat keadaan nyonya Natalia, Lily mengurungkan niatnya.


Tuan Sean menghentikan tangan nya yang sedang mengusap lembut perut Lily yang hangat.


" Aku tidak memperhatikan tadi!" jujur pria itu." Dia terlihat sibuk dengan Ozzu" tuan Sean mencium kening Lily.


" Terimakasih kamu sudah membuat Ozzu memaafkan Mamanya"


" Itu atas kemauan Ozzu sendiri, mas. Lily tidak melakukan apa-apa"


Tuan Sean terseyum, Lily selalu saja menyembunyikan kebaikannya, gadis lembut yang membuat siapapun nyaman dekat dengan nya.


" Madam mengizinkan ku untuk cuti kehamilan mas!"


" Aku ingin bicara sama Tante Lubis, apa tidak bisa jika kamu resign saja?"


" Ngak bisa mas, kontrak Lily dua tahun!"


" Aku menyesal sudah menceraikan mu waktu itu, aku jadi tidak bisa leluasa bersama mu!"


Lily tersenyum, terkadang suaminya begitu manja.


" Kamu tidak mual muntah?" tanya tuan Sean, yang baru sadar jika Lily tidak seperti ibu hamil pada umumnya yang mengalami morning sickness.

__ADS_1


Lily mengeleng, kemudian gadis itu merebahkan kepalanya di dada tuan Sean yang tengah berbaring.


" Kamu ingin makan sesuatu?" Tanya tuan Sean antusias.


" Belum ingin makan apa-apa untuk saat ini mas!" jawab Lily sambil menikmati aroma khas tuan Sean.


" Kalau makan sosis?" bisik pria itu mengoda iman.


Mata Lily langsung terbuka.


" Sosis beneran, atau sosis mas Sean?" tanya Lily yang membuat tuan Sean terbatuk-batuk. Ia tidak menyangka Lily bisa menjawab kejahilannya.


" Kamu udah berani kayak gitu, ngak boleh ya selain sama aku!" tutur tuan Sean.


Lily cekikikan, pria ini sungguh lucu, memangnya Lily mau ngomong kayak gitu di mana-mana, ya jelas cuma sama pemilik nya Lily baru berani.


Pagi harinya, Lily bangun terlambat, karena tadi malam dirinya bercanda bersama suaminya hingga larut malam.


Gegas Lily melaksanakan sholat, sebelum menyiapkan makanan untuk dirinya dan Tuan Sean.


Tuan Sean turun tangga dengan panik.


" Li, kenapa ngak bangunin aku?" Pria itu masih mengenakan jubah mandi yang di ikat asal saat menyusul istrinya turun.


" Apa mas ke kantor hari ini?" Tanya Lily.


" Tidak!" ucap pria itu yang sudah mulai menganggu pekerjaan istrinya.


" Aku akan cari makan untuk kita!"


" Lily bisa buat sendiri mas!" ucap Lily sambil tangannya mengusap tangan suaminya yang melingkar di pinggang nya.


" Aku tidak mau kamu capek!"


" Ngak capek, cuma buat makanan untuk kita!" Seru Lily.


Suara bel membuat tuan Sean hendak berjalan membuka pintu sebelum Lily mencegah kepergian suaminya.


" Biar Lily saja, mas belum berpakaian dengan benar"


Tuan Sean memindai tubuhnya yang hanya tertutup oleh jubah mandi, lelaki itu tadi terburu-buru untuk menemui istrinya makanya ngak sempat berpakaian.


" Hai momyyyy...!" suara Ozzu melengking hingga di pendengaran tuan Sean. Pria itu mengurungkan niatnya untuk berpakaian dan segera kembali turun untuk melindungi sang istri dari kemesuman putra nya.


" Ngapain Zu!"


Lily melotot melihat suaminya yang kembali turun dan masih tanpa busana di balik jubah mandi nya.

__ADS_1


" Apelin Mama, Pa!" ucap Ozzu santai sambil melepaskan kaca mata hitam nya.


Tuan Sean memutar matanya malas.


" Jangan suka gangguan istri Papa, kualat nanti kamu!"


" Orang aku lagi PDKT kok Pa"


Tuan Sean menjitak kepala putranya.


" Pendekatan untuk menjadi anak yang baik maksudnya Pa." rengek Ozzu mengusap keningnya yang baru di beri hadiah sang Papa.


" Pulang aja!" Seru tuan Sean.


" Dih, Momy aja ngak keberadaan Ozzu disini!" bela Ozzu.


" Aku geli dengan sebutan mu untuk ku Zu!" protes Lily.


" Oh, jadi mau nya dipanggil apa?" tanya Ozzu sambil menatap Lily dan menjahit dagunya sendiri. " Sayang ? "


Kali ini tidak hanya tangan Papanya yang memukul nya, tetapi juga tangan Lily.


" Duh, duh, ini penganiayaan namanya!" protes Ozzu.


" Sayang kita kekamar saja, nanti biar ku pesankan makanan untuk kita"


" Sekalian ya Pa, nasi Padang tanpa serundeng dan peyek"


" Pesan sendiri Ozzu!"


" Kan Papa baik, terimakasih sebelumnya!" pemuda itu nyengir watados.


Tuan Sean hanya semakin memeluk Lily untuk dibawanya kabur Kedalam kamar.


Ozzu menatap Papanya dan Lily dengan senyum indahnya, pemuda itu ikut bahagia melihat kebahagiaan Papanya, Ozzu sedang menyiapkan diri untuk mandiri, beberapa hari ini hubungan nya bersama Papanya kembali hangat dan tiba-tiba dia juga malah gemar menjahili Papanya. Ozzu senang saat melihat kecemburuan sang Papa, tidak biasanya ekspresi itu Ozzu lihat, baru kali ini Ozzu melihat Papanya terlihat natural seperti pria pada umumnya.


Sesampainya di kamar tuan Sean meraih dagu Lily dengan telunjuknya.


" Kita bisa pergi kemanapun yang kau inginkan, setelah aku percaya bisa melepaskan tanggung jawabku pada Ozzu"


" Ozzu masih butuh bimbingan mas, meskipun aku percaya dia juga memiliki tutor tersendiri!"


" Kau benar Li, untuk itu mohon bersabar lah!" pria itu sudah mencium bibir Lily dengan ritme ringan.


Lily mengangguk di sela ciuman mereka. " Jadi besok mas Sean waktunya bersama Mana Ozzu!"


" Apa kamu masih ingin aku disini?"

__ADS_1


Lily terseyum "Sejauh apapun jarak kita, mas tidak pernah pergi dari sini!" Lily menunjuk dadanya. " Mas selalu ada di setiap napas Lily "


Tuan Sean segera mendorong lembut tubuh istrinya, ucapan Lily selalu membuatnya bahagia, rasa syukur terus di rapalkan pria itu, dadanya sedang bergemuruh hangat, sehangat dekapannya untuk terus memeluk tubuh mungil istri nya.


__ADS_2