
" Phalosa!" lirih wanita tua yang kini memegang pundak wanita yang di panggilnya.
" Tentu, Bu."
Wanita tua itu tersenyum lebar, tangan nya memperbaiki hijab yang menutup kepala wanita cantik yang tengah menerima kotak kecil yang ia amanahkan.
" Itu adalah cincin blue Safir, bukan soal harga nya, tetapi itu sangat bernilai untuk ku!"
Menarik napas sejenak, wanita itu kembali bertanya.
" Bisa kau lakukan untuk ku?"
Wanita berhijab itu menatap sekejap lawan bicaranya sebelum mengangguk.
" Aku akan mengirim Hugo bersamamu"
Pria yang di sebut namanya maju dan berdiri di samping Phalosa. " Siap nyonya!" ucapnya dengan lantang.
" Kau boleh pergi!" Phalosa membungkuk hormat sebelum meninggalkan ruangan itu.
Sepeninggalan wanita itu, pria bernama Hugo mendongak.
" Bukankah Nona Phalosa punya kenangan kelam di negara itu?" tanya nya pada wanita tua yang masih menatap pintu yang baru saja dilewati wanita tadi.
" Untuk menyembuhkan rasa sakit, kita harus melawan rasa sakit tersebut, dia harus menghadapinya, bukan menghindarinya!" tegas wanita itu yang kini mengalihkan pandangannya.
" Pergi! dampingi dia!"
" Siap!"
*********
" Nona cat kuku anda terlihat pudar, biar saya bantu mengecatnya ulang!"
" Oh, tidak perlu! saya akan pulang lebih awal hari ini."
" Baik Nona, semoga hari anda menyenangkan!"
Wanita berhijab itu menatap asistennya pergi.
Satu setengah tahun yang lalu dia bukan siapa-siapa, tak punya apa, bahkan sekedar alas kaki, kini dia tidak hanya punya pekerjaan tetapi juga jabatan yang bisa di banggakan, semua ia miliki, kecuali cinta.
*********
" Bagaimana keadaan Mama?" tuan Sean baru saja tiba di rumah sakit. Satu jam yang lalu dia mendapatkan kabar jikalau nyonya Valeria kembali sesak nafas karena penyakit asmanya yang sering kambuh belakang ini.
Ini semua terjadi karena beban pikiran yang terus menekan perasaan nyonya Valeria.
" Beliau baru saja tidur tuan, beliau sedikit berbahagia karena mendapat kabar teman nya akan berkunjung!"
Tuan Sean mengerutkan keningnya.
" Siapa?" tanya nya.
__ADS_1
" Sepertinya Nyonya Lubis."
" Oh, sahabat lama Mama" Gunam tuan Sean sebelum masuk kedalam kamar rawat nyonya Valeria.
" Mama!" Tuan Sean melangkahkan kakinya mendekati wanita yang telah melahirkannya.
Nyonya Valeria tersenyum tipis melihat kedatangan putranya.
" Kau buru-buru datang kesini karena mendengar Mama sakit Sean?"
" Tentu." Jawab tuan Sean yang ikut duduk di samping ranjang.
Nyonya Valeria memperhatikan putranya dengan jeli sebelum hembusan napas panjangnya terdengar.
" Aku ingin melihat putra ku yang dulu" Gunam nyonya Valeria.
Tuan Sean hanya bungkam tanpa menanggapi apapun, karena baginya dia tetap Sean yang dulu sama sekali tidak berubah, hanya perasaan nya saja yang mati rasa, keseluruhannya masih sama.
" Minta pada Ozzu untuk menjemput orang kepercayaan Tante Lubis, dia akan mengunjungi Mama lusa!"
" Ku pikir Tante Lubis sendiri yang datang"
" Orang-orang tua seperti kami kesehatan sering naik turun, tidak bisa terlalu banyak rencana."
" Aku akan katakan pada Ozzu" kata tuan Sean.
" Sean soal kesehatan mu.....
" Aku sedang baik-baik saja, Mama jangan khawatir tentang ku!" tuan Sean memotong ucapan nyonya Valeria karena tau kearah mana Mama nya akan bicara.
*********
" Aku akan mengantar Papa lebih dulu sebelum menjemput orang kepercayaan Tante Lubis Pa!"
Ucap Ozzu ketika duduk sarapan bersama Papanya dan tentu saja Mamanya, namun tak sekalipun Ozzu menatap keberadaan nyonya Natalia.
Meski kerap kali terjadi beberapa perbincangan di meja makan, akan tetapi nyonya Natalia tidak pernah terlibat di dalamnya, tidak apa-apa, karena saat ini dia benar-benar menyadari kehadirannya sudah tidak di inginkan oleh dua pria itu, namun dia ingin menebus rasa bersalahnya dengan cara menyiapkan makan atau kebutuhan anak dan suaminya, walau kini dia tak sesehat dulu.
" Hati-hati Mas!" pesan nya pada tuan Sean.
Pria itu hanya bergumam.
Nyonya Natalia tidak mempermasalahkan perilaku dingin suaminya, dia sadar, dia memang pantas di perlakukan seperti itu, tidak di ceraikan oleh tuan Sean saja nyonya Natalia sudah sangat bersyukur.
Setelah kedua pria beda generasi yang sama-sama ingin di renggut hatinya itu tak terlihat dari pandangan, barulah nyonya Natalia masuk kembali kedalam rumah.
" Bi Sum, bantu aku bersiap, aku ingin mengantarkan makanan untuk Mama!"
" Baik nyonya!"
Sebenarnya hubungan antara nyonya Natalia dan nyonya Valeria juga merenggang setelah apa yang terjadi. Nyonya Natalia tidak memiliki seorang pun yang mendukungnya, bahkan kedua orang tuanya tidak lagi mau menganggapnya sebagai anak, sejak kejadian itu mereka juga tidak sudi menerima sepeserpun uang yang ia berikan.
Mereka lebih baik langsung meminta pada tuan Sean dari pada dirinya, nyonya Natalia tak ubahnya sebuah barang yang dibuang oleh keluarganya.
__ADS_1
Ia bertahan karena keyakinannya bahwa suatu hari mereka mau menerimanya, setidaknya tidak terus membencinya.
Nyonya Natalia sadar dia sudah benar-benar melakukan kesalahan besar pada putranya dan itulah sebabnya dia ingin menebus semua kesalahannya pada Ozzu, Ozzu memang lahir dari rahimnya, dia tidak menerima Ozzu karena wajah Ozzu mengingatkan nya pada pria masa lalunya alih-alih mirip tuan Sean. Tetapi barangkali itulah cara Tuhan menghukumnya, dengan menatap wajah putra nya dia akan mengingat kesalahan besar yang ia lakukan hingga membuat pria yang mencintainya berbalik membencinya.
*******
Di dalam pesawat ada seorang wanita sedang berusaha membalut luka masalalu nya dengan sekuat tenaga, mencoba tetap tenang meskipun hatinya sedang risau, ingatan tentang kejadian masa lalu masih sangat membekas di hati, ingatan kepiluan itu tidak bisa hilang , walaupun ia sudah berusaha melupakan kenangan itu dengan susah payah.
Hal yang paling tidak ingin ia lakukan dalam hidupnya adalah kembali ke tempat dimana dia mendapatkan banyak luka. Namun sekali lagi takdir membawanya kembali, dia hanya bisa berdoa tidak akan bertemu siapa pun dimasa lalunya, menyakinkan diri bahwa Jakarta itu luas.
Selalu ada pilihan sulit dalam hidupnya, tetapi demi orang yang telah menyelamatkan nyawanya dia tidak ragu datang kembali ketanah kelahirannya.
Dan disinilah dia sekarang, berdiri di depan bandara yang ia datangi satu setengah tahun yang lalu, dengan harapan tidak akan pernah menginjakkan kakinya kembali ketempat ini, namun manusia hanya bisa berencana, yang maha kuasa sudah memberi jalan untuk kakinya melangkah.
*******
" Pa, orang kepercayaan Tante Lubis sudah tiba di bandara!" Ozzu menyetir mobil sendiri sambil menoleh pada Papa nya.
" Lebih cepat jadi jadwal sebenarnya!"
" Ya, jadi bagaimana?"
" Berapa orang katanya?" tanya tuan Sean.
" Dua saja, wanita bernama Nona Phalosa dan satu asisten prianya."
" Kita jemput mereka dulu!" putus tuan Sean.
" Pertemuan Papa?"
" Menghargai tamu jauh lebih penting, jangan sampai mereka menunggu lama, karena mereka datang untuk Oma mu!" seru tuan Sean.
" Baik" ucap Ozzu yang sudah menaikkan kecepatan mobil nya.
Setibanya di bandara, tuan Sean dan Ozzu turun.
" Mereka menunggu dimana?" tanya tuan Sean.
" Di pintu kedatangan!" ucap Ozzu sambil memasukkan ponselnya ke saku jas dalam.
" Apa itu mereka?" Tanya Tuan Sean, melihat seorang wanita berhijab dan seorang pria yang sedang berdiri sambil memainkan ponselnya.
" Apa mungkin wanitanya berhijab?" Tanya Ozzu ragu.
" Coba hubungi nomor ponsel Nona Phalosa saja kalau begitu" ide tuan Sean.
Baru saja berdering, pangilan Ozzu langsung di terima.
Tuan Sean turut memperhatikan wanita berhijab yang terlihat mengarahkan ponselnya ke ketelinga.
" Kami melihat Anda!" Seru Ozzu saat melambaikan tangannya.
Wanita berhijab itu berbalik dan melihat seorang pria yang melambaikan tangannya.
__ADS_1
Seperti ada bom atom di hati wanita itu saat matanya menatap dua orang yang kini juga menatap nya.
Sepanjang perjalanan dia selalu berdoa agar selama berada di Jakarta tidak akan pernah bertemu dengan orang-orang masa lalunya, namun takdir justru kembali membawa nya ke jalan yang rumit. Entahlah!.