
Pagi itu kota Jakarta sedang di guyur hujan, Ozzu berencana akan berbelanja untuk kebutuhan putra mereka. Mengingat usia kandungan Romania sudah masuk sembilan bulan.
Malam nya, Romania sudah menasehati Ozzu agar segera tidur dan tidak terus bermain game, karena niatnya mereka akan sekalian cari sarapan diluar, Meskipun Ozzu menggantikan posisi Papanya, tetapi selama ini tuan Sean masih sering membantunya dimanapun.
Ozzu tidak terlalu terkekang dengan pekerjaan, meskipun dirinya sudah resmi menyandang gelar wisuda nya beberapa bulan yang lalu.
Pagi itu, Ozzu memang masih merasa ngantuk saat akan menuju pusat pembelanjaan, meskipun sebenarnya waktu sudah hampir jam Delapan pagi.
Ozzu bergadang hingga jam setengah tiga pagi, gegara main game.
" Apa kita pake supir saja?" tanya Romania yang beberapa kali mendapati Ozzu menguap.
" Kita mau dinner sampai malam Yang. Ngapain bawa sopir?" Canda Ozzu sebelum melakukan mobil sedan mewah miliknya.
Hari itu sedikit gerimis saat mereka keluar dari perumahan, tetapi sesampainya di jalan raya, hujan semakin deras.
Ozzu mengendarai mobilnya dibawah hujan, saat melewati persimpangan jalan, Ozzu yang baru usai menguap menyadari ada sebuah sepeda motor yang melaju di sebelahnya.
Niatnya Ozzu ingin banting setir ke kanan, tetapi karena panik mobilnya malah tergelincir, Ozzu masih sempat fokus beberapa menit selanjutnya, namun naas hanya karena kantuk yang datang tiba-tiba, tidak ada setengah menit dia terlena oleh kantuk. Semuanya berubah tragedi mengerikan.
Ozzu sudah ingin menghindari mobil sedan di hadapannya dan membanting setir ke arah kanan, namun apa daya sebuah mobil tronton datang dari depan dan menyapu begitu saja mobil yang dikendarainya. Ozzu hanya mengingat saat tubuhnya terlempar kedalam air, namun setelahnya, Ozzu tidak lagi melihat apa yang terjadi, bangun-bangun dia sudah berada di rumah sakit.
Ozzu memang bisa dikatakan beruntung, karena dirinya hanya syok yang membuatnya kehilangan kesadaran, tidak mendapat luka berarti, karena setelah membuka mata, Ozzu bisa mengingat segalanya dan mencari keberadaan istrinya.
Karena mereka tidak di bawa di rumah sakit yang sama.
Ozzu ditemukan seseorang yang sedang ingin menyeberang jembatan, badan Ozzu tersangkut di pinggir sungai dengan keadaan tak sadarkan diri. Dirinya segera melapor polisi ketika sadar dan tim kepolisian segera membantunya untuk sampai pada istrinya di rumah sakit.
" Mas.." Lily buru-buru menghampiri suaminya.
Lily tersenyum dengan linangan air mata, menengelamkan wajahnya di atas dada tuan Sean yang masih berdetak.
" Mas Sean berjanji akan hidup lebih lama bersama kami!" Lirih Lily.
" Aku sudah mempersiapkan segalanya untuk masa depan kalian"
" Mas..." Lily mengeleng di dada suaminya.
Tuan Sean terbatuk-batuk.
" Li, aku ingin bicara padamu." tuan Sean mengelus puncak kepala istrinya.
Lily bangun dari dada suaminya dan duduk di samping suaminya.
Hati Lily yang sudah cemas tambah cemas ketika suaminya terlihat sangat pucat begitu.
__ADS_1
" Kau wanita yang hebat, kau akan selamanya menjadi yang terbaik untuk siapapun. Aku hanya meminta mu agar menjadi ibu yang baik untuk anak-anak , semarah apapun nanti ketika menghadapi sifat kekanak-kanakan mereka, jangan pernah berkata buruk, redam amarahmu dan bicaralah setelah hati mu kembali dingin. Anak-anak adalah amanah dari Tuhan. Jangan karena amarah sesaat kita melukai hati mereka, Li, Aku percaya kau bisa."
Tuan Sean mengenggam tangan Lily dengan erat.
Lily menangis.
" Ozzu baik-baik saja, Mas!" beri tahu Lily.
Tuan Sean mengangguk.
" Aku juga merasa baik-baik saja"
Padahal kenyataannya tidak sama sekali, entah mengapa Lily merasa suaminya akan benar-benar meninggalkannya dan anak-anaknya.
Tuan Sean mengigil. Lily segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sampai batas dada.
" Ozzu akan datang sebentar lagi!" ucap Lily ikut mengusap kening suaminya yang terasa dingin.
" Kenapa kau menangis?" tanya tuan Sean yang mendengar Isak rendah dari bibir istrinya.
" Jangan dulu temui nyonya Natalia, tolong temani aku yang masih sangat membutuhkan mu disini Mas!" Isak Lily.
Dada tuan Sean agak bergetar bibir pucatnya tertarik keatas.
" Aku akan selalu berada di sisi kalian semua, kau jangan khawatir"
Mata jernih putra kecil tuan Sean berbinar ketika melihat Papanya yang sudah membuka mata.
" Papa.." Anak laki-laki itu segera mendekat dan ingin di cium oleh Papanya .
" Jagoan Papa.." Lirih tuan Sean.
" Jadilah anak yang hebat okee..!"
" Iya Pa.."
" Jaga Mama kalau Papa sedang tidur okee.."
" Iya Pa.."
" Alfaa mau janji sama Papa?" tanya tuan Sean.
" Mau.."
" Janji jangan buat Mama menangis, janji jika Papa tidak ada Alfaa akan menjaga Mama, membuat Mama tersenyum dan bangga karena memiliki Alfaa, Janji..?"
__ADS_1
Anak laki-laki itu mengangguk dan TOS bersama Papanya.
Tuan Sean begitu lembut memperlakukan anak-anak nya, sampai usia Alfaaro yang hampir tiga tahun, Lily memang belum pernah sekalipun melihat suaminya kasar pada putranya, jangankan menyakiti fisik, meninggikan suaranya saja tidak pernah pria itu lakukan.
Alfaaro kembali tertidur saat Ozzu sampai di rumah sakit tempat Papanya di rawat.
Tuan Sean langsung mengecup putranya berkali-kali, melihat itu dada Lily kembali sesak. Tuan Sean memang sangat menyayangi semua buah hatinya, jangankan seumur Alfaaro yang masih mengemaskan, seusia Ozzu saja masih pria itu perhatikan dengan baik.
" Jaga Mommy mu, jangan pernah memutuskan hubungan saudara"
Ozzu mengangguk dengan air mata yang meleleh.
" Jangan bersedih, Putramu kelak yang akan membantu kalian di akhirat, semua yang pergi adalah atas kehendaknya, jadilah suami terbaik untuk Romania, jadilah Anak yang baik untuk Mama mu, dan jadilah saudara yang baik untuk adik-adik mu, Papa yakin kamu bisa!"
" Akan ku ambilkan Selimut lagi!" kata Lily tetapi belum sampai melangkah, tuan Sean memanggilnya.
" Kemarilah!"
Lily buru-buru mendekat dan menciumi seluruh wajah suaminya, sebelum menangis tanpa suara di dadanya yang hangat, yang sudah beberapa hari tidak bisa bergerak dari pembaringan.
" Maafkan Papa!" tuan Sean meraih tangan putranya.
Ozzu sudah tidak mampu bicara, napasnya berat dan sesak, seperti napas Papanya yang mulai bergetar.
Lily merasakan usapan lembut di kepalanya, sebelum napas suaminya terdengar berbeda.
Tuhaaaaaan. Tubuh Lily bergetar dan mengigil, sementara Ozzu menciumi papanya tiada henti seperti yang baru saja dilakukan Lily.
Napas tuan Sean bergetar dan tersendal Ozzu segera mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Papanya, yang membuat Lily tak mampu lagi berpijak.
Ternyata impian mereka harus terkubur karena batas waktu, tuan Sean dinyatakan tiada pukul 21: 45.
Lily tidak sadarkan diri setelahnya, Ozzu masih menggenggam tangan Papanya dan enggan melepaskan.
Meskipun orang-orang menyemangatinya jika itu sudah garis takdir, Ozzu merasa Papa nya pergi terlalu cepat karena ulahnya.
Tuan Sean di makamkan di samping makam nyonya Natalia. Lily menangis di atas gundukan tanah yang menutupi jasat keduanya.
" Nyonya Natalia memang akan menjadi cinta pertama mas Sean, dan akan nomor satu karena kalian jodoh yang sebenarnya, Aku tidak pernah menyesal hadir diantara kalian, walaupun aku hanya hadir sebagai Pelakor, tetapi aku tidak bisa mengubah takdir kita, selamat beristirahat Mas, Aku mencintaimu".
Meski sempat berpikir ingin ikut kemanapun suaminya pergi, tetapi Lily sadar kini dia menjadi seorang Ibu yang harus tegar untuk anak-anaknya. Lily akan meninggalkan negara ini dan akan menetap seperti rencana mereka sebelumnya, bedanya kini dia datang kembali bersama luka, orang yang sangat dicintainya sudah tidak ada untuk selamanya.
Lily hanya butuh waktu untuk berpamitan kepada Ozzu, Romania, dan Nyonya Valeria.
#######
__ADS_1
Tinggalkan komentar untuk author yaaa...