POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
Seorang Ayah


__ADS_3

Lili ingin kembali mendebat Ozzu ketika matanya melihat sekilas bayangan yang mustahil hadir di tengah-tengah mereka.


Lily berharap itu hanya ilusi yang tidak akan lagi menyebabkan terjadinya perselisihan yang lebih besar nantinya, namun sepertinya nasib baik tidak memihak nya kali ini, karena saat dirinya melihat kesamping dia benar-benar menemukan suaminya berdiri kaku di samping guci besar dekat tangga.


Oh Tuhan....hati Lily mencelos kala melihat tatapan redup dari mata yang selama ini menatapnya hangat dan penuh kasih.


Satu yang semakin membuat Lily terhenyak, penampilan suami nya yang tidak karu-karuan, bahkan ada bekas luka di sudut bibirnya.


Rasanya seperti ujian bertubi-tubi bagi Lily ketika tanpa sengaja melihat tangan suaminya mengepal kuat. Itu berarti suaminya mendengar perdebatan antara dia dan putranya.


Punggung Lily terasa lemas, kakinya tiba-tiba kebas dan tidak bisa berbuat apa-apa, sepertinya Ozzu juga syok . Pemuda itu segera memundurkan dirinya dari hadapan Lily ketika menyadari kehadiran Papanya.


" Papa"


Tuan Sean mengacuhkan sapaan putranya dan beralih menatap Lily.


" Masuk ke kamar mu!" tegas tuan Sean yang pastinya tidak berani Lily bantah dan langsung mengikuti perintah suami nya.


Selepas Lily pergi tuan Sean segera menghampiri putranya dan menampar kedua pipinya dengan sangat kencang, hingga suaranya terdengar dari lantai atas yang Lily tempati.


Lily ikut berjingkat mendengar pecahan kaca dari lantai bawah, entah apa yang terjadi di bawah sana, tetapi Lily tidak berani sama sekali untuk melihatnya, bahkan untuk membayangkan saja dia begitu takut. Lily hanya menunggu di setiap detiknya yang terasa mencekam dan merenggut pernapasannya.


Sementara tidak hanya Ozzu yang terlihat kacau bahkan keadaan tuan Sean tidak kalah kacaunya, bagaimana dia menghadapi hal seperti ini, mustahil sehebat apapun seorang pria tidak merasa hancur, tidak akan masalah jika yang menginginkan istrinya adalah orang lain tapi ini putranya sendiri.


Tuan Sean langsung merampas leher baju Ozzu untuk menarik anak muda itu untuk kembali di beri sebuah tamparan.


" Aku melakukan segalanya demi kebahagiaan mu dan masa depan mu, tapi karena cinta buta kau bahkan berani berpikir bahwa aku ini bukan Ayah biologis mu?" sentak tuan Sean dengan kemarahan yang sesungguhnya.


Sebuah Bogeman kini dilayangkan tuan Sean pada rahang Ozzu yang membuat pemuda itu tersungkur begitu saja.


Ini bukan masalah sepele bagi tuan Sean, Ozzu berani menyentuh istrinya dengan segala napsu bejatnya.


" Kau sungguh-sungguh menjijikkan!" tuan Sean kembali menarik kerah baju Ozzu untuk dihempaskan di atas sofa.


" Kau yang mengatakan padaku bahwa kau akan melupakan cintamu pada Lily dan menerimanya sebagai keluarga mu tetapi kenyataannya kau menginginkan istri ku dengan keras kepala!" maki tuan Sean yang seolah tidak perduli keadaan Ozzu yang bahkan sudah babak belur.


" Apa katamu...??? kau bisa melakukan hal itu dengan diam-diam dibelakang ku?? Sungguh keparat!"

__ADS_1


Pukulan terakhir tuan Sean membuat hidung Ozzu mengeluarkan banyak darah tetapi tuan Sean tidak juga menurunkan emosinya. Siapa yang tidak sakit hati ketika dengan terang-terangan mendengarkan putranya ingin menghianatinya diam-diam .


Tuan Sean meminta pada sopirnya untuk memanggil Bi Sum dan dokter untuk mengurus Ozzu, sementara dirinya segera naik ke lantai atas menyusul Lily.


Tuan Sean memang tidak tau jika Bi Sum hari ini tidak datang, jadi dia pikir Bi Sum ada disini dan bisa mengurus Ozzu.


" Jadi seperti ini kelakuan Ozzu di belakang ku selama ini?"


Mata Lily ikut berkaca-kaca melihat beberapa bercak darah di kemeja putih suaminya, entah apa yang sudah terjadi dengan kedua pria beda generasi itu tapi melihat bagaimana keadaan suaminya Lily menyimpulkan suatu yang buruk telah dilalui tuan Sean. Dan semua terjadi karena dirinya, Ayah dan anak laki-laki itu bertengkar karenanya.


Lily benar-benar tidak bisa melihat mereka semua jadi seperti ini karena dirinya, Lily merasa buruk dengan situasi ini.


Setelah kembali mengambil napas dengan agak berat, tuan Sean mendekati Lily yang terlihat syok dengan semua yang terjadi.


" Apa aku membuatmu takut?"


Lily segera mengeleng untuk menjawabnya, entah bagaimana malapetaka ini bisa terjadi begitu saja, namun yang Lily tau setelah ini pasti semua tidak akan pernah sama, dan dari semua rasa sakit yang ditimbulkan yang menderita lebih dalam adalah suaminya, karena ini sudah seperti sebuah skandal.


" Lili, Ayo kita bercerai!"


Kata-kata tuan Sean membuat Lily membeku, Lily tidak menyangka tuan Sean akan mengatakan itu.


Hati Lily sakit bukan main mendengar setiap kalimat yang di ucapkan tuan Sean.


" Aku menyayangimu, tetapi aku juga sangat mencintai putraku, ku mohon kamu mengerti keadaan ku Li!" Air mata tuan Sean jatuh meskipun pria itu berusaha menahannya.


" Ya, mas." Lily menjawab sembari menahan perasaan hancur. Tidak ada alasan yang bisa membuat tuan Sean mempertahankannya, atau alasan untuk mengulur waktu kapan dia harus pergi, semua sudah berantakan dan Lily tidak akan sanggup jika Ayah dan anak menjadi musuh karena dirinya.


"Aku akan pergi keruang kerja ku, kamu berhak atas apa yang sudah aku berikan termasuk rumah ini" tuan Sean kemudian meninggalkan Lily.


Sampai di ruang kerjanya, pria itu membuka dasi dan kancing kemejanya yang paling atas, tuan Sean merasa tercekik dan susah bernapas.


Bibir pria itu bergetar dengan dada yang memburu kasar, tuan Sean baru saja bertengkar hebat dengan Nyonya Natalia karena istri pertamanya itu ketahuan berbohong tentang kehamilannya, ingin meredam emosi, dia pulang kerumah istri mudanya, namun ternyata dia juga mendapatkan fakta yang membuatnya merasa mati jauh lebih baik, semua yang di cintainya berkhianat.


Ozzu masih duduk di sofa dengan tangan mencengkeram kepalanya sendiri, ini benar-benar malapetaka besar, Papanya tidak pernah semarah ini sebelumnya bahkan memukulnya hingga berdarah-darah.


Bi Sum yang di hubungi oleh sopir Tuan Sean langsung bergegas datang diantar Yuyun.

__ADS_1


Tuan Sean sudah pergi meninggalkan rumah, mengabaikan anak laki-lakinya yang pingsan.


" Oh Tuhan, Tuan muda apa yang terjadi padamu?" Bi Sum terkejut melihat keadaan Ozzu dan keadaan rumah yang penuh pecahan kaca.


Tidak seberapa lama Dokter datang dan memberi Ozzu pertolongan pertama, anak laki-laki itu siuman beberapa jam setelahnya.


" Tuan " Bi Sum segera bergegas membantu Ozzu yang hendak bangun.


Bi Sum sudah mendengar cerita dari supir tuan Sean, Bi Sum begitu menyayangkan tindakan Ozzu.


" Panggil Ozzu saja Bibi"


Bi Sum mengangguk.


" Papa mana?" Tanya Ozzu.


" Kamu harus tau, Ayah mu sangat mencintaimu, Ayah mu bisa melakukan apapun untuk kebahagiaan mu, tidak seharusnya kamu mengecewakan perasaannya, tidak seharusnya kamu meragukan pria itu sebagai Ayah kandung mu" Bi Sum mulai bercerita.


Ozzu masih berusia dua tahun, kala itu Jakarta di guyur hujan deras dua hari dua malam , listrik mati, jalanan tergenang air, Ozzu demam tinggi, tuan Sean begitu cemas, tidak perduli dengan banjir tuan Sean membawa putra kecilnya kerumah sakit terdekat, namun sayang banyaknya mobil mogok membuat perjalanan ke rumah sakit terganggu, tuan Sean yang mengkhawatirkan keadaan putranya rela turun dari mobil hujan-hujanan, menjunjung putra kecilnya menyebrangi genangan air yang bahkan mencapai dada orang dewasa untuk mencapai rumah sakit yang jauhnya berkilo-kilo meter, perjuangan seorang Ayah untuk menyelamatkan nyawa putranya.


Cinta tuan Sean pada Ozzu tak terukur, dia Ayah yang sangat baik, dia juga Ayah yang siaga, karena jika terlambat satu jam saja kala itu nyawa Ozzu bisa tidak tertolong, meskipun setelahnya tuan Sean harus mengalami demam tinggi berhari-hari pria itu rela melakukannya demi putranya.


Saat Ozzu berusia enam tahun, anak laki-laki itu pernah kabur dari rumah karena tidak mau di khitan, tuan Sean mencari putranya tanpa kenal lelah, seperti orang sinting yang mendatangi dari satu tempat ketempat yang lain berjalan kaki dan membawa lembaran foto di tangan nya.


Di usia Ozzu yang ke sepuluh tahun, kala itu kue ulangtahun yang datang tidak sesuai dengan keinginan putranya membuat Ozzu marah dan mengurung diri, lagi-lagi tuan Sean rela mencari kue sesuai keinginan putranya bahkan sampai keluar kota dan mencarinya sendiri untuk membuat sang putra bisa berbahagia, tuan Sean rela melakukan apapun untuk Ozzu, cinta tuan Sean pada putranya tak terukur, bahkan rela menukar nyawanya andai jika itu bisa memberikan kebahagiaan untuk putranya. Namun jelas tindakan Ozzu kali ini salah besar, perbuatannya tidak hanya melukai tuan Sean tetapi juga merusak kebahagiaan pria itu.


" Kau segalanya bagi tuan Sean, beliau rela melakukan apapun demi kebahagian mu" Bi Sum terisak-isak, menceritakan kepahitan seorang Ayah yang membesarkan anak laki-laki seperti duda tanpa istri, karena sejak dulu Nyonya Natalia tidak menyukai kehadiran putranya.


Pria itu pasti kini telah hancur, dan itu semua karena Putra yang disayanginya.


Ozzu juga pasti tau bagaimana Papanya terus menuruti keinginannya, bahkan sampai sekarang pun dia masih suka rewel. dan tuan Sean tidak pernah sekalipun mengeluhkannya.


Air mata Ozzu tak terbendung, anak laki-laki itu merasa buruk, Ozzu menyesal sudah bertindak ceroboh, kini bagaimana dia bisa memohon maaf pada Papa nya???


Karya akan author lanjutan jika like dan komentar banyak....


Sambil nunggu update bisa baca novel teman author ya...

__ADS_1



__ADS_2