POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor

POV Pelakor: Akulah Sang Pelakor
Terombang-ambing Rasa


__ADS_3

" Apa kau sakit Li?" Tuan Sean buru-buru langsung ikut merangkak naik keatas ranjang, bahkan menempelkan punggung tangan nya di kening istri mudanya begitu pintu berhasil di dobrak dan di buka paksa " Kenapa kau mengurung diri?"


Lily yang baru beberapa jam tertidur agak terkejut melihat kehadiran Tuan Sean.


" Aku tidak apa-apa mas" ucap Lily dengan suara serak. Lily menatap Pria yang terlihat mengkhawatirkan nya, kemudian menyentuh rahangnya yang kasar dan menyapu tekstur bibirnya yang terasa dingin.


" Kau kenapa?" suara Tuan Sean masih begitu kentara rasa khawatir, membiarkan Lily nenyentuhnya


Ditanya seperti itu, membuat Lily mengingat apa yang baru saja di lakukan Ozzu padanya, anak tirinya menganggap nya seperti wanita ****** yang bisa di tiduri siapapun.


Rasa nyeri hatinya kembali menelusup, namun untuk jujur pada suaminya Lily tidak berani menanggung resikonya. Terlebih belum tentu juga Tuan Sean percaya apa yang dia katakan nya.


" Apa yang kau pikirkan?" tanya Tuan Sean yang melihat tatapan kosong di mata istri mudanya.


Lily meraih telapak tangan Tuan Sean dan membawa punggung tangan itu untuk di cium dalam.


Usia Lily memang masih sangat muda tetapi dia bukan gadis yang rewel, tindakan kecilnya sering kali membuat hati menghangat. Mustahil jika Tuan Sean tidak semakin menyayangi nya.


" Mas pintunya belum di tutup" ucap Lily ketika Tuan Sean menciumnya gemas


" Tidak apa-apa, aku begitu khawatir karena kau tak segera membuka pintu dan juga mengabaikan panggilan ku " tutur Tuan Sean yang masih menindih tubuh kecil istri mudanya


Tuan Sean memang mendobrak pintu bersama dengan Ozzu, tetapi setelah berhasil. Ozzu langsung menyingkir begitu saja, mungkin sebenarnya di hati kecil Ozzu juga menyesal telah mengatakan hal yang tidak seharusnya pada Lily yang notabenenya adalah istri muda Papa nya.


" Maaf mas, Lily ketiduran" Lily berusaha tersenyum.


" Ya, ku maafkan untuk kali ini. Akan tetapi jangan ulangi lagi!" Nasehat Tuan Sean.


Tuan Sean kembali mencium kening Lily sebelum melangkah ke kamar mandi.


Malam itu Lily sama sekali tidak melihat kehadiran Ozzu, entah kemana perginya Ozzu. Lily merasa sedikit tenang. Namun ketenangannya tidak berlangsung lama karena setelah bangun pagi Ozzu kembali mendatanginya saat Tuan Sean sudah tidak berada di rumah.


Ozzu kembali menyudutkan Lily dengan tatapan matanya yang penuh amarah

__ADS_1


" Carilah wanita manapun untuk kau ganggu, tolong jangan aku" ucap Lily dengan bibir bergetar " biarkan aku menjadi istri yang baik untuk Papamu"


Ozzu mencekal dagu Lily


" Kau yang terus saja menganggu ku, tidak di siang ku, maupun malam ku, otak ku tidak mau berhenti untuk memikirkan mu" bentak Ozzu dengan napas berderu kasar " Katakan, bagaimana cara nya aku mencari wanita lain sedangkan otak ku selalu menginginkan mu?"


Lily menangis karena takut dan itu membuat Ozzu melepaskan cekalan tangannya di dagu Lily, Ozzu berbalik untuk memunggungi istri muda Papa nya.


" Katakan bagaimana caranya, bagaimana aku bisa menghilangkan mu dari pikiran ku jika sekarang kau adalah istri dari Papaku?" Ozzu meraup wajahnya frustasi.


Lily masih syok dan tidak mampu bergeming mendengar kejujuran Ozzu. Sepanjang hidupnya dia tidak pernah di inginkan seseorang, namun saat dirinya sudah menikah justru anak tirinya menginginkannya dengan keras kepala.


" I- ini salah Zu!" lirih Lily saat Ozzu tiba-tiba berjongkok sambil menengadah menatapnya yang sedang duduk di bibir ranjang.


" Aku tidak mau menjadi keluarga mu dengan cara begini, aku hampir gila saat melihatmu sedang merintih di bawah tubuh Papaku, persetan dengan hubungan ini aku tidak bisa melupakan kejadian itu"


Ternyata Ozzu juga menangis, pemuda itu tampak kacau dengan tampilan yang tidak serapi biasanya.


" Maafkan aku" manik mata Lily ikut berkaca-kaca saat memberanikan diri menatap pemuda yang menjadi anak tirinya


" Tolong jangan seperti ini Ozzu, aku takut Papa mu nanti tiba-tiba datang" Lily benar-benar takut, bagaimana jika tiba-tiba suaminya melihat mereka yang berduaan di kamar dan Ozzu yang sedang duduk berlutut di hadapannya.


" Aku tidak perduli" Ozzu berdecih


" Ozzu dia Papa mu" bentak Lily tanpa sengaja


" Kau hanya perduli dengan perasaannya, tapi sama sekali tidak perduli dengan ku Li!"


Ozzu mencoba meraih pipi Lily yang putih bersih.


" Oh, hentikan Ozzu!" Lily segera menepis tangan Ozzu yang belum sempat menyentuhnya.


" Aku istri Papa mu, kau tidak boleh menaruh perasaan terhadapku, pergilah Ozzu, pergilah sejauh mungkin dari ku, agar kau sadar perasaan itu salah"

__ADS_1


" Aku bisa pergi kemanapun, tetapi aku tidak bisa jika harus menjauh darimu"


Ya Tuhan....Lily menangisi nasib malangnya, betapa rumit hidupnya saat ini.


****


Tuan Sean menepati janjinya kepada Lily untuk membelikan sebuah rumah dan juga memenuhi segala haknya sebagai seorang istri, Namun karena rumah itu perlu beberapa renovasi Lily masih harus tinggal bersama Ozzu.


Sebenarnya Lily merasa terlalu berlebihan dengan rumah yang diberikan Tuan Sean, rumah itu dua lantai dengan halaman super luas, hanya melihat dari halamannya saja Lily sudah merinding, berbagai tanaman seperti yang pernah dia sebutkan benar-benar memenuhi halaman, deretan pot-pot besar terisi sayur mayur dan berbagai jenis tanaman obat, Lily merasa jadi princess yang berada di cerita dongeng, bisa mewujudkan rumah impiannya yang dulu terasa sangat mustahil untuk di jadikan nyata, tetapi ternyata suaminya mampu mewujudkannya dengan mudah dan waktu yang sangat singkat.


Lily sempat begitu khawatir karena masih harus tinggal satu atap bersama Ozzu. Tetapi beruntungnya Ozzu sudah kembali untuk kuliah tadi pagi, berkat Tuan Sean yang mengancam akan suatu hal yang tidak Lily ketahui.


" Li" Panggil Tuan Sean yang ternyata hanya mengenakan jubah tidurnya asal, pria dewasa itu menindih tubuh kecil Lily dan mencekal dagunya untuk balas menatapnya.


" Mas Sean sangat berat dan besar" kata Lily pura-pura mengeluh yang mampu membuat Tuan Sean Pramajha tersenyum.


" Apa aku seberat itu?" Tanya Tuan Sean yang enggan beranjak.


" Iya" Lily mengangguk dengan semangat.


" Aku akan benar-benar mengigit telinga kecil mu Li"


Lily tertawa kecil. " Lily hanya bercanda mas" kata Lily yang kali ini memberanikan diri untuk mencium hidung suaminya.


Sebenarnya setelah kejadian hari itu, pikiran Lily tidak pernah tenang, selalu kepikiran tentang perasaan Ozzu terhadap nya, dia yang baru berusaha untuk mencintai suaminya, ikut sedikit khawatir jika hatinya goyah, namun berbagai usaha keras akan Lily lakukan, untuk memantapkan hatinya hanya untuk suaminya seorang, memupuk cinta yang nyatanya tidak semudah yang dia bayangkan.


" Ikut aku" ajak Tuan Sean pada Lily " aku ada janji yang belum ku penuhi untuk mu"


Lily yang merasa Tuan Sean Pramajha tidak pernah berjanji apapun tampak bingung, sebelum pada akhirnya Tuan Sean menunjukkan sesuatu yang berada di tangannya.


" Kau yang akan melakukannya untuk ku"


Kaget dan takut, Itu yang Lily rasakan saat Tuan Sean memberikannya sebuah pisau cukur yang hendak di colok pada listrik.

__ADS_1


" Apa tidak apa-apa?" tanya Lily polos. meskipun sebenarnya Lily juga begitu penasaran dengan wajah suaminya jika tanpa bulu-bulu


__ADS_2