
Nyonya Natalia memasuki rumah dengan langkah pelan dan anggun.
" Berangkat bersama ku saja"
" Biar aku antar" putus tuan Sean
" Mas takut aku menyakiti istri muda mu?"
" Bukankah, itu yang selama ini kau lakukan Natalia?" Kening tuan Sean berkerut, matanya menatap awas istri pertamanya.
" Aku sudah berjanji tidak menyakitinya secara fisik." 'Tetapi aku akan terus menyakiti batinnya sehingga dia sendiri yang akan angkat kaki selamanya dari kehidupan mu' Tentu saja bagian akhir itu hanya nyonya Natalia ucapkan dalam hati.
" Tidak apa-apa mas, Lily sama Nyonya Natalia saja"
Masih pagi Lily tidak mau menjadi alasan perdebatan.
" Kau yakin?" Bukan tuan Sean, tetapi Ozzu yang terlihat cemas jika Lily pergi bersama sang Mama.
Lily menatap pada nyonya Natalia sebentar, sebelum mengangguk untuk menjawab pertanyaan Ozzu.
" Baiklah kalau begitu, jaga diri baik-baik" Tuan Sean mengecup kening Lily setelah Lily mencium punggung tangannya.
Karena kode dari Lily juga, akhirnya tuan Sean juga menghampiri nyonya Natalia untuk di cium di tempat yang sama seperti dia mencium Lily.
Nyonya Natalia sempat terkejut dengan perilaku tuan Sean, namun dia segera tersenyum lebar.
" Ayo"
Lily duduk di samping nyonya Natalia di bagian tengah, karena ternyata nyonya Natalia tidak mengemudi sendiri.
" Apa uang yang kau bawa sudah habis, sampai kau harus kembali?"
Lily sudah menduga jika nyonya Natalia akan terus membencinya dan menghinanya, untuk itu Lily hanya diam tanpa menanggapi hinaan dan tuduhan dari istri pertama suaminya.
"Aku hanya tak habis pikir, kenapa ada orang seperti kamu di dunia ini? Lihat saja, kamu tak akan mendapatkan apapun. Dia milikku dan akan selamanya begitu."
Banyak alasan seseorang melakukan penghinaan. Bisa karena tidak tahu hakikat orang yang dihinanya, bagaimana kondisi sebenarnya orang yang dihina tersebut, dan seperti apa sepak terjang dia yang sesungguhnya.
Lily menyadari kesalahannya, dia faham perasaan nyonya Natalia, hanya saja, dulu dia nekad minta dinikahi tuan Sean tidak untuk di sandingkan dengan istri pertamanya seperti ini, Lily yang masih lugu tidak faham bahwa perbuatan nya bisa menyakiti hati wanita lain, Lily pikir hal seperti ini tidak akan terjadi, dia hanya ingin dinikahi diam-diam dan tidak di perlukan istimewa seperti ini. Jika bisa memutar waktu, Lily ingin menjadi miskin saja dan tidak ingin berjumpa dengan seseorang yang bernama Sean Pramajha.
" Kenapa diam, apa yang kukatakan benar?" Nyonya Natalia memang tidak menyakiti Lily seperti biasanya, tetapi tak berhenti untuk mencecarnya.
" Untuk apa lanjutkan sekolah, mau jadi Pelakor berkelas?, wanita murah akan tetap murah meskipun dia memiliki gelar sarjana!"
__ADS_1
" Orang tuamu pasti tidak mampu mendidik mu dengan baik, maklum kalian hanya orang miskin yang ingin kaya dengan cara instan"
" Tolong jangan bawa-bawa orang tua saya Nyonya!" Yang tadinya Lily hanya diam akhirnya bersuara ketika nyonya Natalia mengungkit tentang orang tuanya.
" Haiiii.... Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, kau tersinggung?"
" Silahkan hina saya sepuas hati nyonya, tetapi tolong jangan bawa-bawa orang tua saya, beliau sudah lama meninggal dan tidak tau menahu perbuatan saya"
Nyonya Natalia tertawa.
" Kalian itu sudah miskin, tak punya harga diri lagi, sok-sokan mau lanjutin pendidikan, buang-buang duit Sean saja"
Lily hanya mengepalkan tangannya sekuat yang dia mampu. Dan itu diketahui oleh nyonya Natalia , membuat hatinya semangat untuk terus menekan istri muda suaminya.
Beruntung mobil sudah sampai di depan kampus, sehingga Lily bisa segera bebas dari suasana pengap .
" Terimakasih sudah mengantar saya nyonya"
Bibir Nyonya Natalia berkedut melihat Lily yang masih mau mengucapkan terimakasih setelah apa yang dia lakukan, kadang dia juga menyadari Lily bukannya tidak bisa melawannya, namun gadis itu memang tidak mau melakukannya, apakah sikapnya yang seperti itu yang membuat suaminya tertarik dengan gadis muda itu. Karena kelembutannya? benarkah?.
********
" Udgam Mama mau bicara" nyonya Duby menghentikan langkah Udgam yang hendak menaiki undakan tangga.
" Sean menghubungi Mama, dan mengatakan alasan dia menjemput Lily, apa benar kamu meminta Kaka sepupu mu meninggalkan istrinya?"
" Udgam melakukan itu agar Kak Sean bisa tegas mengambil keputusan" ucap Udgam tenang.
Nyonya Duby menatap anaknya serius
" Kamu menyukai Lily?" Tanya Nyonya Duby begitu hati-hati.
Udgam tersenyum.
" Bukankah Lily tipe menantu idaman Mama!"
" Udgam Mama serius."
" Yang harus Mama tau, Udgam lakukan itu untuk membuat kak Sean cepat mengambil keputusan, dan Udgam juga tidak terlalu serius. Tetapi jika kak Sean memilih melepaskan Lily, Udgam juga tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab kak Sean, Udgam siap menikahi Lily" tidak ada keraguan saat Udgam mengatakan nya. Nyonya Duby juga baru melihat tekat besar Dimata putranya, Udgam tidak sedang bercanda, itu berarti Udgam memang menyukai Lily.
" Kau jatuh cinta pada Lily?"
" Tidak menutup kemungkinan, karena kami selalu bersama, pagi, siang bahkan banyak hal yang sudah kita lalui bersama. Secara general memang wanita dan pria nggak akan bisa bersama tanpa sebuah hubungan, apalagi kami tidak ada hubungan darah yang sebenarnya. Bahkan bersahabat dengan lawan jenis tidak di sarankan, karena selalu ada ketertarikan secara emosional antara keduanya meskipun hanya sedikit."
__ADS_1
" Oh, Tuhan." hanya itu yang bisa di ucapkan oleh nyonya Duby sebagai luapan rasa keterkejutan.
" Mama jangan khawatir, untuk itu aku mengatakannya secara terus terang pada Kak Sean, agar dia bisa mengambil langkah. Dan aku senang karena dia bertindak cepat dan benar." Setelahnya Udgam kembali melanjutkan keinginannya untuk pergi ke lantai atas.
***********
[" Aku sudah menunggu di luar gerbang"]
Lily baru saja keluar dari gedung kampus ketika sebuah pesan masuk di ponselnya.
Senyum gadis muda itu merekah saat tau suaminya sendiri yang menjemputnya. Buru-buru Lily melangkahkan kakinya, sampai Rika menghampirinya dan ingin ikut pulang bersama nya.
" Bisa aku ikut pulang bersama mu sampai ke asrama?"
Langkah Lily langsung berhenti untuk melihat Rika yang sudah tersenyum manis.
Lily agak terkejut, kali ini dia bingung karena bukan Udgam yang menjemputnya, melainkan suaminya, jika Udgam, dia tidak akan keberatan menawarkan tumpangan pada temannya karena Udgam pria yang tidak terikat kerja, tetapi suaminya adalah bos perusahaan yang begitu sibuk, dan Lily sangsi apakah tuan Sean ada waktu untuk mampir-mampir.
" Tapi aku tidak di jemput oleh Kaka ku" Lily berkata demikian, karena Lily tau teman barunya tertarik pada Udgam.
" Tidak masalah, aku hanya ingin cepat sampai ke asrama, karena aku merasa kurang enak badan"
" Oh"
Hanya itu tanggapan Lily sebelum mengetik pesan untuk meminta izin pada tuan Sean.
[" Mas, apa boleh teman Lily ingin ikut minta tumpangan sampai asrama?"]
" Kau belum di jemput?" tanya Rika yang sudah tidak sabar.
" Sepertinya masih di jalan" jawab Lily masih was-was kalau saja suaminya keberatan ada yang minta tumpangan. Namun Lily langsung lega begitu sebuah balasan masuk dari suaminya.
[" Tentu."]
########
Jangan lupa jejak cintanya untuk author yaaa.....
happy reading...
Sambil nunggu author update..bisa mampir ke novel teman author ya...
__ADS_1