
" Apa kau masih ingat Mama Lie?" tanya Mama tuan Sean pada menantunya
Nyonya Natalia langsung tersenyum senang.
" Apa yang membuatmu senyum-senyum sendiri?" tanya Mama tuan Sean. Nyonya Valeria.
" Ma, Natalia membawa berita bahagia, Natalia hamil anak mas Sean" ucap nyonya Natalia berbinar
" Apa kau yakin anak yang kau kandung itu anak putraku?"
" Maaaa... Natalia memang salah, tapi itu membuat Natalia sadar dan tidak akan mengulangi lagi kisah masa lalu" Nyonya Natalia terlihat memohon.
" Tumben, kamu kemari!, tidak mungkin hanya untuk memberi kabar kehamilan mu bukan?" tanya Nyonya Valeria yang sudah sangat hapal dengan sifat menantunya.
" Hehehehe...Mama tau aja" Nyonya Natalia memeluk manja Mama tuan Sean.
" Apa yang kau mau?"
" Bantu Natalia untuk mengusir gundik Sean"
Nyonya Valerina terkekeh
" Apa kau sudah jatuh cinta pada Sean sampai begitu takut kehilangannya?"
" Maaaaaa...." Rengek nyonya Natalia bermanja.
" Bereskan masalah mu sendiri Natalia... Aku tidak mau Sean semakin jauh dari ku"
" Tapi Ma, istri muda Sean tak se drajat dengan kita, bahkan dia itu seperti memiliki kelainan hormon, kayak..... albino gitu Ma" hasut nyonya Natalia
" Aku sudah melihatnya, tetapi sepertinya tidak seperti dugaan mu"
" Itu karena Sean sudah merubahnya , aslinya dia itu aneh, jelek, dan lagi... wanita itu sepertinya bukan wanita baik-baik"
Nyonya Valeria menghela napas panjang
" Akan ku coba bicara dengan Sean nanti" ujar nyonya Valeria.
" Terimakasih ya Ma, Mama terbaik deh"
Nyonya Natalia kembali memeluk nyonya Valeria, tapi kali ini dengan senyum kemenangan.
Malam itu, Lily tidak bisa memejamkan matanya meski sejenak, perkataan tuan Sean terus membuatnya terpuruk, Lily merasa sudah tidak di inginkan, terlihat dari tuan Sean yang memberi pertanyaan tentang dirinya memilih pergi suka rela atau perlu di usir.
__ADS_1
Lily benar-benar tidak tahu kemana tuan Sean tidur , namun untuk Lily sendiri untuk sekedar memejamkan mata saja sulit
Bi Sum sudah menyiapkan sarapan dan juga keperluan Lily saat Lily keluar dari kamar, saat turun untuk mencari Bi Sum, Lily melihat wanita se usia Bi Sum, namun tampak begitu gelamor dan berkulit putih
Wanita itu juga memperhatikan Lily begitu intens
" Anda siapa?" tanya Lily yang baru pertama melihat Ibu suaminya.
Nyonya Valeria mendekat.
" Aku yang harusnya bertanya siapa kamu yang berani menikah dengan Putra ku"
Lily yang masih sedih tambah linglung di hadapkan dengan Mama tuan Sean.
" Anda, Mama mas Sean?" tanya Lily lirih, ingin menyalami Ibu suaminya, namun tangan Lily di sentak.
Lily kembali menarik tangannya yang terabaikan, bahkan di tolak.
" Aku tidak mau basa-basi, kedatangan ku kesini untuk memberi tahu, bahwa aku tidak merestui pernikahan kalian"
Nyonya Valeria menatap Lily penuh kebencian, bagaimana tidak. Nyonya Natalia terus mempropokasinya.
" Mata Sean sudah buta karena mu, tapi harusnya kau sadar siapa dirimu, bagaimana Sean bermurah hati untuk memungut mu, bukan malah berbuat kotor dengan putranya" nyonya Valeria mengikis jarak untuk menatap penuh emosi gadis yang sebenarnya juga menantu nya.
Nyonya Valeria memang masih cantik, tetapi saat dia menyeringaikan senyum sinis dan jijik seperti itu membuat dirinya tampak jahat untuk siapapun bahkan untuk Lily yang sebenarnya belum mengenalnya.
Lily semakin menunduk dalam, air matanya sudah tidak mau keluar, meskipun hatinya tengah hancur lebur.
Bibirnya bergetar, namun matanya kering.
Lily seperti seonggok sampah yang sudah tidak memiliki tempat saat ini, siapa yang menginginkannya? jika kemarin Tuan Sean. Bahkan saat ini pria itupun tak berada di pihaknya, kini ditambah ucapan Ibu tuan Sean. Semakin membuat Lily sadar, tiada guna dirinya tetap tinggal.
Lily, buru-buru kembali masuk kekamarnya, begitu Nyonya Valeria pergi, Lily akan pergi sebelum Bi Sum pulang dari belanja, dan satpam belum bertugas, membuat Lily gegas untuk mengambil barang tak berharganya.
********
"Bagaimana mungkin kau pergi Li...? bukan kah aku sudah memintamu untuk tetap menyayangi suami mu meski kalian sedang bermasalah." lirih Bi Sum yang ikut terduduk di samping tuan Sean.
" Kenapa kamu memilih pergi?" lagi Bi Sum, berbicara dengan angin.
" Lili pergi karena aku mengusir nya!"
Ucapan tuan Sean membuat mata Bi Sum, terbuka lebar.
__ADS_1
Bi Sum sampai menatap tak percaya tuan Sean dihadapannya, bagaimana bisa pria seperti Tuan Sean bertindak gegabah seperti itu.
Tuan Sean kembali meraih selembar kertas yang Lily tinggalkan
[ Assalamualaikum, Mas Sean. Maaf jika Lily membuat mas kecewa, seperti yang Lily ucapkan tadi malam, Lily memilih pergi dengan suka rela. Mohon redanya untuk apa yang pernah Lily makan, minum, dan Lily gunakan, selama Lily tinggal. Halalkan dari ujung rambut hingga ujung kaki untuk Lily, Lily datang membawa diri, Lily pergi juga hanya membawa diri, Lily kembalikan apa yang sudah mas Sean berikan pada Lily, sekali lagi Lily ucapkan terima kasih banyak mas, semoga mas Sean sehat selalu.
Wassalamu'alaikum.]
Surat yang di tulis Lily dengan tulisan sederhana itu sudah basah oleh air mata Tuan Sean.
POV Tuan Sean
Mengapa rasanya sesakit ini saat aku di tinggalkan oleh Lily???
Mengapa rasanya puluhan kali lebih sakit di banding apa yang dulu ku rasa saat Natalia menghianati ku di depan mata??
gadis itu bahkan tidak membawa apa-apa, tetapi kenapa rasanya aku kehilangan segalanya??
Author POV
Tuan Sean bersimpuh dengan secarik kertas di tangan nya, pria dewasa itu menangis seperti anak yang kehilangan mainan kesayangannya, selama Bi Sum bekerja dengan tuan Sean, ini pertama kalinya Bi Sum melihat Tuan Sean menangis. Mungkin tuan Sean sudah mencintai istrinya, namun tuan Sean tidak menyadarinya, dan mungkin itu adalah air mata penyesalan seorang suami terhadap istrinya.
*****
Hampir semua penghuni kampus tau siapa itu Ozzu Pramajha, karena anak itu selalu royal dan tidak pernah perhitungan dengan siapapun, tetapi kembalinya dia sekarang tampak begitu berbeda di mata teman-teman nya, Ozzu jadi lebih suka menyendiri bahkan tidak pernah lepas dari buku-buku yang biasanya pemuda itu abaikan.
Ozzu juga tidak ke club' seperti biasanya, hanya menghabiskan waktunya di dalam asrama, bahkan sekedar mengenggam ponsel saja sepertinya tidak di lakukan pemuda itu.
****
" Apa kau tidak dengar, dari tadi aku memanggilmu!"
Lily terkejut saat tas di tangan nya di tarik begitupun dirinya oleh pria tampan blasteran yang begitu rapi di hadapannya dengan santai dan tenang.
" A-anda siapa?" Lily tergagap takut kalau pria ini mungkin mengenal suaminya.
" Masuklah lebih dulu, aku hubungi Mama, untuk memintanya agar jangan khawatir"
Lily yang di bukakan pintu mobil tampak ling-lung, karena dia benar-benar tidak tau siapa pria ramah yang membantunya itu.
*******
Udah tepati janji khan???
__ADS_1
Siapa yok, pria yang bantuin Lily?
happy reading