
"Rana, makannya pelan-pelan, Nak. Nanti tersedak," ucap Kintan-Mama Rana saat melihat Rana memakan nasi goreng buatannya dengan terburu-buru.
Tak memedulikan ucapan Mamanya, Rana tetap melahap dengan sigap. Entah apa yang dikejarnya, padahal jam masih menunjukkan pukul 7 pagi dan Rana juga tidak piket kelas hari ini.
Iko datang sembari membawa tas ranselnya. Dia adalah kakak Rana. Baru saja menjadi mahasiswa. Dia pergi sepagi ini hanya untuk menjemput temannya dan pergi bersama ke kampus. Mengurusi hal-hal yang belum beres.
"Dek, lo potong rambut sependek ini?" Tanya Iko terkejut saat melihat penampilan baru adiknya. Tangannya menyentuh rambut pendek Rana yang sudah mirip seperti laki-laki.
Rana menyingkirkan tangan Iko. Dia cemberut. "Emang napa sih? Kan ga salah." Balasnya jutek.
"Ya ampun. Lo kan cewek, Ran. Jangan sependek inilah. Gak cocok tau." Protes Iko yang dibalas plototan tajam dari Rana.
Rana tampaknya tidak terima dicereweti. "IH, Abang! Diam aja bisa ga? Ini tuh keputusan gue. Lagipula, gue gak jadi lucinta luna kok!"
Kintan yang merasa akan terjadi keributan pun segera melerai. "Eh eh udah. Jangan berantam pagi-pagi. Nanti papa yang lagi mandi kedengeran loh."
"Mama kok setuju, sih, Rana potong rambut sependek itu? Kayak cowok tau, Ma."
"Iko. Bagaimana pun itu rambutnya Rana. Dia mungkin lagi pengen style rambut yang beda. Gak panjang mulu. Ga papa, lah. Rana juga masih kelas 2 SMA. Jadi Mama ijinin dia berkreasi." Kintan tersenyum menatap kedua anaknya yang duduk bersebelahan di hadapannya.
Iko mendengus. "Terserah, deh."
Rana selesai makan. Cewek itu meminum air hangat, meneguknya sampai habis.
"Ma, Rana pergi sekolah dulu, yak." Rana memakai tasnya, kemudian menyalim Kintan.
"Iya, Nak. Hati-hati. Jangan ngebut-ngebut bawa motornya. Santai saja. Kendaraan belum ramai, tapi kamu harus selalu waspada."
"Sip. Ma."
Rana mengulurkan tangannya pada Iko yang sedang menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. "Salim bang, cerewet."
Iko memberi tangannya. "Belajar yang rajin, dek kuh. Jangan kenal cowok ya." Cowok bertopi itu mengacak rambut Rana.
"Aish." Cepat-cepat Rana pergi sebelum Iko kembali nyinyir. Ya, kakaknya itu memang orang yang suka berkomentar. Sudah seperti lambe turah saja. Apa-apa dikomentar, bahkan upil Rana yang belum dibersihkan saja dia nyinyirin. Aneh.
__ADS_1
****
Rana memarkirkan motor maticnya di parkiran sekolah. Dia menurunkan roknya yang sebatas lutut dan menaikkan kaus kakinya agar lebih panjang, menutupi hampir semua betisnya.
Kemudian, dia berjalan seperti biasa menuju kelasnya yang berada di lantai dua.
Sepanjang perjalanan, dia melewati koridor kelas sepuluh. Semua mata tertuju padanya hari ini. Rana Rahmadilla lumayan popular di SMA Nusantara ini. Cewek itu adalah kapten tim basket putri. Permainannya tidak usah ditanya, dia sangat pandai. Rana sangat kuat, dan bukan cewek lemah apalagi manja. Itu sama sekali bukan sifatnya. Rana adalah Rana, cewek yang biasanya di sebut langka oleh siswa-siswi.
Kali ini Rana berhasil mencuri perhatian lagi, di samping permainannya yang hebat. Rana yang biasanya tampil dengan cantik rambut Panjang, kini memangkas rambutnya sependek laki-laki. Rana hanya ingin nyaman dengan gayanya sekarang.
“Woy!” Tepuk seseorang di bahu Rana ketika dia sedang menunggu lift.
“Apaan?” tanyanya tanpa menoleh.
“Nekat banget lo, Ran. Motong rambut sependek ini.” Cowok itu memegang rambut Rana, lalu dengan cepat dia menepisnya.
“Apa, sih, Radit. Biarin aja ngapa. Rambut-rambut gue juga.” Lift terbuka, Rana langsung masuk. Sebenarnya ada tangga, tapi Rana malas pagi-pagi harus naik tangga.
Rana melipat tangannya di dada, lantas menatap Radit dengan sebal. “Lo kan tahu gue, dit.”
Radit beroh ria mendengarnya. Cowok yang memakai topi itu tersenyum tengil. “Efek baru putus dari Zidan, jadi supaya mup on gitu? Biar kayak orang-orang, potong rambut buat ngelupain seseorang.”
Mereka sampai di lantai dua, lalu berjalan beriringan menuju kelas 11 IPA 4 yang ada di ujung.
“Hah? Gue baru tahu kalua ada orang yang begitu. Motong rambut buat lupain mantan? Apa hubungannya?”
Radit mengangkat bahunya. “Ya, biar lebih fresh aja mungkin. Btw, lo udah gak papa, kan? Udah dua minggu sejak lo putus cinta, kayaknya murung banget. Sampai-sampai, latihan aja gak fokus.”
Rana membetulkan tatanan rambutnya kala semua orang memberi perhatian padanya. Tapi dia acuh. Menjadi pusat perhatian sudah biasa baginya. Apalagi saat dia dan Zidan pacaran, gossip itu menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Termasuk ibu kantin. Rana bersyukur, Zidan akhirnya memutuskan pindah sekolah saat putus dengannya. Dan Rana bias dengan mudah melupakannya.
“Woy, kok diem.” Radit mencolek pipi Rana.
__ADS_1
“Kagak. Gue move on 100 persen, kok. Prosesnya lebih cepet karena dia udah gak muncul lagi di hadapan gue.”
Kening Radit mengkerut, heran dengan penuturan Rana. “Ran, lo sama Radit pacaran setahun, loh. Ngelupainnya Cuma dua minggu?”
Rana berdecak keras. “Dit, kita udah sahabatan dari kelas dua SMP, dan lo masih nanya?”
Mendengar itu, Radit mengangguk saja. “Ya udah deh, ga usah dibahas lagi. Udah mantan juga.”
Rana menjitak kepala Radit yang sedikit lebih tinggi darinya. Untuk ukuran perempuan, Rana termasuk tinggi. Jadi, dia tidak terlalu susah untuk menjitak Radit yang jangkung.
“AW-‘
“Kan dari tadi elo yang bahas dia, Bambang.”
Radit menyengir lebar karena itu.
Sepasang kekasih- Ralat, sepasang sahabat itu sudah sampai di kelas. Alasan Rana pergi terburu-buru adalah agar tidak terlalu menjadi pusat perhatian sekelas. Terbukti, kelasnya masih sepi. Hanya ada tujuh orang di dalamnya.
Rana dan Radit duduk di meja mereka, ya, mereka sebangku sejak masuk SMA. Lagipula Rana tidak punya sahabat cewek, jadi nyaman-nyaman saja kalau bersama Radit.
“Buset, Rana. Ini elo?” Yanti mendatangi mejanya dengan wajah terkejut.
Yang lain juga melihat Rana sama terkejutnya.
Lia tertawa keras. “Ahahaha. Dua jempol buat lo, Ran. Lo emang cewek pemberani. Gue aja ga berani loh motong sependek itu.”
“Iya, dong. Gue bukan cewek lemah, atau cewek manja.” Rana tersenyum tengil.
Radit malas mendengarkan percakapan cewek-cewek, dia mendengarkan musik dengan earphone-nya sembari bermain games.
“Apa lo motong pendek karena ribet pas main, ya, Ran?” Ranti memang kepo dan banyak tanya.
Rana mengangguk mantap. “Itu juga alasannya, sih. Males aja gue, risi.”
“Tapi mau gimana pun lo kayak cowok, tetap cantik di mata gue, kok, Rana zeyeng.” Fahri yang mengatakannya, teman kelas mereka yang terkenal playboy.
__ADS_1
Semuanya tertawa mendengar itu, termasuk Rana. Dia jadi lebih merasa pede dengan penampilannya.
“Fahri memang terlalu jujur.” Rana tersenyum manis.