
Dia mengangkat kepalanya, lalu menoleh ke sumber suara. Matanya membelalak, jantungnya serasa copot saat itu juga melihat siapa yang ada di depannya sekarang. Bahkan mulutnya tak sanggup mengeluarkan suara.
"Kok kaget gitu? Santai aja kali. Kita 'kan bisa silaturahmi." Cowok itu tersenyum dan duduk di kursi, berhadapan dengan Rana.
Tangannya terulur, mengajak bersalaman. "Apa kabar?"
Rana hanya diam saja. Dia berdehem pelan sebelum berbicara. "Ngapain lo di sini, Zidan?" Dia bertanya tapi melihat ke arah lain. Terlalu malas menatap orang itu.
Zidan memasukkan tangannya ke saku celana, tersenyum mengejek pada cewek di depannya. "Hai, mantan. Harusnya gue yang nanya lo ngapain ada di sini? Nyasar?"
"Gue pergi sama Devan. Lah lo siapanya Devan?" Rana bingung apa yang terjadi.
"Sepupu. Devan itu anaknya tante gue. Masa lo gak tahu?"
Rana terkejut bukan main. Pasalnya Devan tidak pernah cerita tentang Zidan. Itu artinya Devan tahu bahwa Rana adalah mantan Zidan? Benar-benar diluar dugaan.
Melihat Rana yang bingung, Zidan makin semangat menggodanya. "Cie yang udah jadi pacar Devan, selamat ya mantan."
Tatapan tajam Rana tertuju tepat pada manik Zidan.
"Ini Rana makanannya." Devan datang dan menaruh makanan itu di atas meja. Lalu duduk di sebelah Rana. Tidak sedikit pun terkejut melihat Zidan ada di sana, Rana heran dengan dua orang itu.
"Jadi, ini reuni para mantan ya, Zid."
"Hahaha. Iyalah, Van. Kapan lagi ya 'kan, mantanan ketemu sama pacar barunya. Haha. Seru banget, asli."
Devan malah ikutan tertawa, seolah itu adalah lelucon yang pantas ditertawakan. "Lo kok gak bawa pacar lo yang baru? Kesian amat sendirian." Dia berkata sambil memakan kentang gorengnya.
Mata Zidan melirik Rana yang sedang menunduk, sepertinya cewek itu sedang menahan emosinya. Zidan tidak takut kalau Rana mengamuk dan menghancurkan meja ini. Toh, jika itu terjadi pasti Rana sendiri yang akan menanggung malu. Bukan dia ataupun Devan. Ah, membuat Rana emosi adalah kesukaan Zidan. Untungnya, pawangnya si Radit tidak ada di sini.
__ADS_1
"Pacar gue lagi sakit. Sayang banget dia. Ngenes banget gue gak bisa jalan bareng di malam minggu." Zidan memasang ekspresi sedih dan murung. "By the way, best friend lo kemana, Ran? Ups, udah tersingkirkan sama Devan ya. Hehehe."
Rana mengepalkan tangannya kuat. Mendengar celotehan Zidan barusan, dia memukul meja dengan sebelah tangan.
Zidan sadar, marahnya Rana sama persis seperti Radit. Mereka berdua biasanya akan memendam amarah dahulu, sebelum akhirnya meledak. Dan pastinya itu sangat mengerikan.
"Sabar ya, Ran. Zidan emang gitu orangnya." Devan mengusap pundak Rana, berniat menenangkan meski gagal. Anehnya cowok itu seolah tak tahu bahwa Rana lebih mengenal Zidan.
Helaan napas pelan Zidan terdengar. Zidan menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap wajah Rana yang jengkel.
"Dev, kenapa lo gak pernah cerita kalo kalian itu sepupuan..." Rana memberanikan diri bertanya.
Devan malah tersenyum senang. "Hmm, biar surprise, Rana."
"Sekaligus buat mastiin apa bener lo sama Radit udah jauhan atau belum. Gue harus tahu itu melalui Devan, Ran. Ah elah, masa lo gak tahu, sih. Kudet amat." Zidan berkata santai, sembari ikut memakan kentang Radit.
Sungguh, Rana tidak paham dengan ini semua. Keningnya berkerut, dia menatap Devan seakan meminta penjelasan.
"Jadi intinya, Radit gak mau sahabatan lagi sama Rana atau gimana, Van? Jelasin, dong."
"Ya gitulah bro. Gue gak tahu apa yang terjadi diantara mereka, tapi yang gue tangkep mereka kayak orang asing sekarang."
Zidan tepuk tangan, tak lupa tertawa mendengarnya. "Hebat banget lo, Devan."
Tak tahan lagi dengan semuanya, Rana bangkit berdiri dan meraih tas selempangnya. "Gue pulang, Devan. Naik taksi aja gak perlu lo antar." Mata Rana sudah merah. Sejujurnya dia ingin sekali meninju dua orang itu, namun dia masih sadar tempat. Rana tak ingin mengacaukan acara orang lain.
"Eh jangan dulu, Ran. Lo belum makan. Ini gue udah ambilin." Devan memegang tangan Rana, tapi segera ditepisnya secara kasar.
"Udah dandan cakep-cakep malah pulang cepet. Sayang banget tau, Ran. Sini dulu ngapa nongkrong bareng kita. Jangan sombong-sombong atuh." Zidan belum berhenti membuat Rana emosi.
__ADS_1
"*** banget, sih kalian." Rana menahan tangisnya, dia melihat Zidan dan Devan bergantian dengan tatapan menusuk.
Tiba-tiba ada tangan yang menarik bahu Rana dari belakang, memaksanya agar membalikkan badan.
Rana tidak tahu detail kejadiannya seperti apa, yang jelas semuanya terjadi begitu cepat. Cewek yang menariknya kasar tadi melemparkan isi gelas yang dipegangnya ke wajah dan badannya. Membuatnya basah kuyup, juga mata yang pedih kemasukan air.
"Astaga, Jelita. Kamu di sini? Sejak kapan?" Devan mendekati Jelita dan menenangkannya.
Rana dengan susah payah mengusap wajahnya yang terias make up.
Sedangkan cewek yang sekarang dirangkul Devan itu menatap nyalang Rana. "Lo siapa, sih megang-megang cowok gue!!?" Dia berteriak lantang, menciptakan kerumunan yang menyaksikan drama yang ada.
Zidan mengasingkan diri. Sejujurnya dia tidak tahu bahwa Jelita akan datang ke pesta ini juga.
Setetes air jatuh dari kelopak mata Rana. Hatinya sangat sakit mengetahui kenyataan yang ada. Bibirnya kelu, tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
"Sayang, dia siapa? Aku sengaja datang ngasih kejutan untuk kamu, karena kita dua bulan gak ketemu. Aku percaya kamu, Devan. Kamu bukan cowok yang tukang selingkuh. Aku kenal banget kamu kayak mana. Jawab, sayang."
Devan memeluk Jelita, membuatnya jadi sedikit lebih tenang. "Dia mantan Zidan, sayang. Dia juga sahabat aku di SMA yang baru."
"Terus kenapa kamu pake pegang tangan dia segala, sih?" Jelita masih tak terima.
Dipegangnya bahu Jelita dengan kedua tangannya. "Denger, sayang. Dia tadi mau pulang duluan, jadi aku nahan dia karena Zidan masih pengen ngobrol." Tangannya juga mengelus kepala Jelita.
Cukup sudah. Rana muak dengan ini semua. Perasaannya hancur lebur. Tak butuh waktu lama, Rana memutuskan untuk pergi dari sana. Menyelinap di antara kerumunan dan segera berlari ke luar rumah. Semua orang menatapnya, Rana tak peduli. Keadaannya sangat kacau sekarang, bahkan tampilannya rusak.
Tangannya menutup mulut, berusaha menahan tangis yang akan pecah sebentar lagi.
Saat di depan pintu, Rana melepas sepatunya dan membawanya dengan tangan. Kini dia berjalan tanpa alas. Dirinya dipermainkan sebegitu kejamnya oleh Devan dan Zidan. Orang-orang melihatnya aneh, Rana cuek saja. Toh, harga dirinya sudah diinjak malam ini. Rana merasa seperti manusia paling tak berguna.
__ADS_1
Rana berjalan ke luar gerbang. Dan langsung berlari sekencang-kencangnya meninggalkan rumah itu. Dia berjalan di pinggir jalan sambil menangis terisak. Tangisnya pecah saat itu juga. Untungnya jalanan sepi, hanya ada beberapa pengendara saja yang lewat. Rana tak peduli dia akan pulang jalan kaki.
"Kenapa rasanya sesakit ini?" Dia menenteng sepatu hak yang dibelikan Devan. Tanpa pikir panjang, Rana membuangnya ke sembarang arah.