
Herdian pun menceritakan wanita yang belakangan mencuri hatinya dan membuat ia mabuk kepayang.Cinta yang tidak mendapat balasan karena rana telah mimiliki suami dan penolakan rana membut hancir hati herdian,itulah sebabnya ia menjadi mabuk mabukan untuk menutupi kesedihanya.kebersamaannya bersama rana telah membuat herdian kembali merasakan debaran di hatinya.
"Aku harus bagaimana mam?hatiku sakit melihatnya bersama pria lain"
"Lupakan dia nak,wanita itu memiliki suami dan tidak baik merusak rumah tangga orang lain walau pun kau mencintainya"
"Aku tidak sanggup mam,lebih baik aku mati kalau tidak bisa memilikinya"
"Herdian dengar nak,apa kau mau disebut pebinor?"
"Aku tidak perduli mam,aku ingin memilikinya apa pun resikonya aku akan menanggungnya asalkan aku bisa bersamanya" jawab herdian lalu memalingkan wajahnya tidak ingin berdebat dengan wanita yang telah melahirkan nya kedunia.
Berhari hari herdian di rawat dirumah sakit dan tidak pernah sedikit pun kedua orang tuanya meninggalkannya,berbeda dengan istrinya nuria.nuria lebih memilih bekerja dikantor lalu disela sela waktunya dia membuat janji bertemu dengan boy pria yang baru ia kenal.
"Kenapa kau tampak murung?" tanya boy dengsn meraih tangan nuria.
"Aku takut terjadi sesuatu dengannya lalu aku aku harus bagaimana?"
"Hei ada aku,tidak ada yang perlu kau khawatirkan"
__ADS_1
"Tapi..." kata-kata nuria terhenti.
"Aku mencintaimu,apakah kau tidak merasakan hal yang sama?"
"Apakah kedua orang tuamu akan menerimaku dengan statusku?" nuria kembali terdiam.
"Aku tidak perduli jika kedua orang tuaku tidak merestui hubungan kita,aku akan tetap menikah denganmu"
"Terima kasih boy kau pria yang baik" nuria pun memuji pria yang baru saja ia kenal itu.
"Asalkan bisa bersamamu aku siap menerima resiko apa pun demi cintaku padamu "
"Ayo aku antar" keduanya berjalan sambil bergandengan tangan.
Sepulang dari kantor nuria pun mampir kerumah sakit untuk melihat kondisi suaminya,hari itu herdian kondisinya sudah semakin membaik dan tidak butuh waktu lama lagi ia akan meninggalkan rumah sakit.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya nuria yang duduk disamping herdian yang berbaring menatapnya.
"Seperti yang kau lihat aku baik-baik saja dan sebentar lagi aku di ijinkan pulang.
__ADS_1
"Aku senang mendengarnya" kata nuria singkat.
"Bagaimana perusahaan?"
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan" jawab nuria.
"Pulang lah kau pasti lelah setelah seharian bekerja" jawab herdian.
"Baik aku juga masih ada urusan yang harus aku selesaikan,kalau kau butuh sesuatu kau bisa menghubungiku" nuria pun pergi setelah berpamitan ke ibu dan bapak mertuanya.
Setibanya di kamar nuria pun menghempaskan tubuhnya di kasur empuk yang ada di kamarnya.Nuria pun meraih ponselnya lalu membalas pesan yang tidak lain itu adalah pesan singkat dari boy.
"Apa yang sedang kau lakukan?apakah aku bisa menghubungimu?" tanya boy.
"Aku baru saja sampai dan kau bisa menghubungiku sekarang" tidak butuh waktu lama ponsel nuria berdering keduanya bak remaja sedang jatuh cinta saling melemparkan kata-kata pujian.Sedangkan herdian menunggu balasan pesan dari rana.
"Aku merindukanmu" hanya itu kata-kata yang ia kirimkan,rana pun menghapus pesan singkat itu lalu mengomel bak ibu- ibu kompleks.
"Apa dia sudah gila?dia pikir dia sedang berhadapan dengan siapa?" kata nuria lalu segera meletakkan ponselnya lalu segera masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya.
__ADS_1