
Setelah memikirkan selama beberapa hari rana pun membulatkan tekadnya untuk bertemu dengan suaminya,rana pun mengirimkan pesan singkat akan ajakannya untuk bertemu untuk menyelesaikan permasalahannya.
"Mari bertemu" rana pun menekan tombol kirim pesan pun terkirim ke nomor ponsel suaminya.baru saja rana ingin meletakkan ponselnya namun tiba-tiba saja ponselnya berdering karena tami menghubunginya.
"Ha-halo" jawab rana.
"Kemana saja kau selama ini?" tanya tami.
"Aku berada disuatu tempat"
"Berikan alamatmu aku akan menjemputmu"
"Tidak tami aku yang akan menemuimu besok"
"Baiklah kita bertemu besok,lalu apakah kau sudah menikah lagi?"
"Aku belum menikah,aku harus menutup telepon" tanpa menunggu jawaban dari tami rana pun mematikan ponselnya,jantungnya berdebar dengan kencang.
Pagi itu setelah memastikan penampilannya berkali kali rana pun berangkat dengan pakaian casual dan memoleskan sedikit make up diwajah mulusnya.setelah berpamitan dan menitipkan lintang rana pun berangkat untuk menemui tami yang masih sah suaminya itu.Dengan menempuh perjalanan yang lumayan panjang rana pun terus merangkai kata kata ketika beretemu dengan tami nantinya.
"Aku sudah sampai,aku tunggu di cafe xxx" kata rana lewat sambungan teleponnya.
__ADS_1
"Tunggu aku disana aku akan segera tiba" jawab tami.lalu segera menuju tempat dimana rana menunggunya.
"Duduklah" jawab rana santai.
"Kenapa kau pergi?dimana selama ini kau tinggal?kenapa baru menghubungiku?" pertanyaan tami yang bertubi tubi itu membuat rana binggung harus menjawab yang mana terlebih dahulu.
"Apa aku harus bertahan dengan semua keadaan ini?" tanya rana kembali.
"Lalu dengan kepergianmu apakah meneyelesaikan masalah?"tami kembali bertanya.
"Lalu bagaimana denganmu?apakah aku berarti dimatamu setelah wanita itu memberimu anak?" air mata rana pun jatuh karena sudah tidak terbendung lagi.
"Bukankah kita sepakat untuk mengadopsi anak?lalu kenapa kau berubah pikiran?" tanya rana dengan nada pelan karena semua mata tertuju padanya.
"Maafkan aku karena aku semua menjadi berantakian karena desi sudah terlebih dahulu hamil anakku" jawab tami dengan wajah tertunduk menahan malu.
"Sudahlah semua sudah terjadi,mari bercerai" kata kata yang keluar dari mulut rana membuat tami bagai disamber petir.
"Kau ingin bercerai?" tanya tami dengan wajah memelas.
"Ya karena tidak baik seorang pria memiliki istri lebih dari satu" jawab rana dengan wajah tertunduk menahan air matanya yang hampir terjatuh lagi.
__ADS_1
"Desi meninggal karena kecelakaan mobil dan aku kesulitan mengasuh anak kami,kembalilah rana"
"Apa!!?" rana tidak percaya apa yang ia dengar.
"Desi meninggal sewaktu kami sedang dalam perjalanan menuju tempat wisata,aku dan anakku selamat" jawab tami.
Rana hanya diam sambil menutup mulutnya menahan tangisnya karena ia tidak percaya secepat itu desi pergi,begitu juga dengan tami.Ingatannya masih tertuju dengan kejadian yang ia alami bersama desi.Tami tidak menyangka itu menjadi hari terakhirnya bersama desi.
"Bagaimana rana?apa kau mau kembali denganku dan membatalkan perceraian kita?"
"Beri aku waktu untuk memikirkan ini semua"
"Baiklah aku akan menunggu" jawab tami.
"Aku pergi"
"Kau tinggal dimana biar aku antar"
"Tidak perlu,aku ingin sendirian untuk memikirkan ini semua"
"Baiklah aku mengerti" tami pun hanya bisa memandangi rana yang berjalan perlahan meninggalkan cafe tempat dimana mereka bertemu.
__ADS_1