Rana

Rana
Family


__ADS_3

Pukul lima sore, Devan dan Rana memutuskan untuk pulang. Devan mengantar Rana sampai ke depan rumahnya.


"Masuk dulu, Dev. Gak mau ketemu sama Mama?" Rana heran, Devan tidak pernah mau diajak bertemu Mamanya. Hanya Iko saja dia bertemu. Dia bilang, dia pasti akan grogi dan malu bertemu dengan Mama Rana.


Devan menggeleng. "Gue buru-buru. Nanti malem aja sekalian pas gue jemput lo, minta izin juga. Oke. Dah, Rana. Tunggu aja Kak Ela datang abis maghrib. Setelah itu, gue langsung dateng."


Mata Rana melotot tak terima. "Loh, lo jadi manggil Kak Ela buat make up? Ih, kan udah gue bilang gak usah, Dev. Gue gak terbiasa pake begituan." Wajah Rana kusut. Rana harus memakai riasan wajah yang menurutnya alay itu. 


"Gak mau tau. Pokoknya gue mau liat lo cantik malam ini. Bye, Rana. See you." 


Motor Devan melaju kencang. Meninggalkan Rana yang masih terdiam di atas motornya. "Kok dia maksa, sih. Ih kesel banget." Rana segera memarkirkan motor maticnya di garasi. Kemudian masuk ke rumah dengan cemberut. Devan sama sekali gak mendengar penolakannya.


"Muka lo kusut amat, Dek. Kenape lu?" Seperti biasa, Iko menyambutnya. Cowok itu sedang rebahan di depan tv sambil memakan camilan. 


Tanpa menjawab pertanyaan Iko, dia berjalan lurus saja menuju kamarnya. 


"Woy, panu anoa gue nanya." 


Baru saja Rana akan menaiki anak tangga pertama, dia berbalik menatap Iko sinis. "Oh lo nanya, bang? Gue kira ngeden." Rana mengayunkan langkah memasuki kamar.


"Dasar adek durhaka lo. Gue kutuk lo jadi telur kodok, wahai adek laknat!" Teriakan Iko menggelegar. Sudah suaranya cempreng, teriak lagi. 


"Iko jangan teriak-teriak. Kamu bukan toa!" Itu suara Papanya yang berasal dari ruang makan. Papanya pulang lebih awal hari ini.


"Ehehe, maap Pa."


*******


Rana melempar belanjaan yang dibelinya tadi ke atas tempat tidur. Dia mengacak rambutnya frustasi sambil menatap jengkel barang-barang itu. 


"Sial banget gua. Harus make sesuatu yang paling gue gak suka. Tapi kalau gue nolak kasian Devan." 


Karena terlalu pusing, Rana memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Baru setelah itu dia akan meminta izin dengan Papa Mamanya. 


Sekitar lima belas menit, Rana selesai mandi dan segera turun ke bawah. Tepatnya ke meja makan, di mana Mamanya membuat es krim. 


"Papa pulang cepat ya hari ini." Rana memeluk papanya dari belakang sebentar, lantas duduk di sebelahnya. 

__ADS_1


Papa Rana mengacak rambut anak bungsunya itu. "Iya, Rana. Papa pulang cepat karena malam ini habis maghrib Papa sama Mama mau pergi makan malam bareng boss besar."


Rana beroh ria mendengarnya. "Kok pas banget ya, Rana baru aja mau minta izin buat keluar malam ini. Habis maghrib juga." Dia menatap Papa dan Mamanya bergantian.


Mama Rana yang sedang mengaduk adonan seketika menoleh. "Kemana emangnya?"


"Sama siapa, sayang?" Tanya Papanya lembut. Rana bersyukur orangtuanya sangat peduli padanya. Papa tak pernah melarang Rana berpacaran, asalkan atas izin mereka. Sejauh ini, Rana hanya berpacaran dengan Zidan-mantannya. Jadi hanya Zidan yang mendapat restu. 


"Teman, Pa Ma. Boleh 'kan?" 


"Boleh. Cewek atau cowok?"


"Cowok dan cewek, Pa. Karena di sana Rana juga ketemu yang lainnya rame-rame. Hehe." Dalam hati Rana meminta maaf pada orangtuanya, dia sudah berani berbohong. Itu semua dia lakukan karena Devan tidak berani menghadap orangtua Rana. Rana tidak mau urusannya jadi panjang. 


"Omong-omong, kata mama tadi kamu menang ya?" 


Kecemasan Rana segera berlalu saat papanya bertanya yang lain. Dia tersenyum manis lalu mengangguk.


Papa Rana mengelus kepala anaknya dengan bangga. "Anak Papa memang hebat sekali. Keturunan papa ya kamu, dulu papa itu jagoan banget di sepak bola."


"Ahaha, iya. Rana juga bangga punya papa jagoan." Rana memeluk papanya dari samping.


"Mau dong, Ma." Rana menatap mamanya dengan mata berbinar. "Rana mau novel yang banyak.


"Loh kok request? Kan surprise." 


"Ehehe, iya ma. Sorry."


"Yah Mama. Harusnya jangan spoiler dulu sama anaknya." Papa Rana tampak sedikit kesal.


"Iko kok gak di suprisin sih. Gak adil ah." Iko selalu muncul tiba-tiba, sudah seperti hantu saja. 


Semuanya tertawa melihat Iko yang cemberut. 


"Kamu harus jadi juara juga biar dapet, Ko."


Iko merengek seperti anak kecil. "Ih kesel ah. Lihat nanti deh ya, iko pasti bisa juga ngalahin me-RANA." 

__ADS_1


Sebuah pukulan mendarat di bahu Iko, membuatnya mengaduh. "Muka lo kusut amat, bang. Ahahaha." Rana berkata sambil tertawa puas. Senang rasanya bisa membalas meledek Iko.


"Iya, belum disetrika. Puas lu."


"HAHAHA."


*****


Selesai berkumpul dengan keluarga, Rana kembali ke kamarnya. Menghadapi kekacauan yang ada. 


Rana membuka bungkusan yang sedari tadi masih utuh di atas tempat tidurnya itu. Kemudian dia mencoba-coba dress selutut berenda dengan tangan sebatas siku. Cukup tertutup, pikir Rana. Untuk hiasannya, dia memilih memakai kalung permata yang pernah dibeli mamanya. 


Simple saja, tidak perlu yang norak. 


Yang membuat Rana cemas kali ini adalah sepatu hak yang dibeli Devan. Demi Tuhan, Rana tidak pernah memakainya selama dia hidup di dunia. Terlebih lagi, dengan make up. Rana takut riasannya sangat tebal dan berakhir seperti badut atau boneka mampang. 


Rana hanya tidak mau mengecewakan orang lain. Dia bertekad harus memakainya suka tidak suka. Lagipula, hanya untuk malam ini saja, kan?


Selama satu jam Rana habiskan belajar berjalan dengan memakai sepatu itu. Sangat susah sekali bagi pemula sepertinya. Bisa-bisa kalau salah melangkah, resikonya adalah terkilir. Memang, sih tak terlalu tinggi tapi tetap saja sulit untuk Rana. 


"Rana, Mama sama Papa pergi dulu ya."


Rana segera keluar dan turun ke bawah ketika Santya berteriak. Cewek itu mengantar sampai ke pintu. "Mama sama Papa hati-hati ya. Jangan lupa foto selfienya."


"Iya kamu juga sayang, hati-hati." Ucap sang Papa sebelum meninggalkan rumah.


Rana baru saja menutup pintu, bel sudah berbunyi lagi. "Abang, lo bawa temen ke sini ya?"


"Nanti satu jam lagi. Gue mau malam mingguan bareng mereka di rumah gue." Kata Iko dari dapur. 


Lantas siapa yang datang sekarang? Tidak mungkin Devan 'kan. Devan akan datang setengah jam lagi. Penasaran, Rana langsung membuka pintu masuk. Mulutnya terbuka. 


"Dengan Rana, ya? Saya Ela, Devan yang pinta saya untuk-"


"Eh, Kak Ela? Ayo masuk, Kak. Iya aku udah tau kok. Silakan masuk, kita langsung ke kamar aku aja ya. Soalnya setengah jam lagi Devan jemput. 


Kak Ela menurut, dia mengikuti langkah Rana menuju kamarnya. "Iya, dek. Make up nyaa gak lama, kok. Cuma sepuluh menit udah selesai."

__ADS_1


"Siapa, Ran?" tanya Iko sehabis makan. Matanya melotot melihat orang yang ada di depannya. "Buset, cantik bener kamu, mbak. Namanya siapa-"


"Bacot amat, bang. Kita berdua buru-buru, nih. Nanti aja kalo mau kenalan." Potong Rana cepat, sambil membawa Ela ke atas. 


__ADS_2