
Rana sampai ke sekolah. Ya, mereka sering mengadakan rapat di sekolah. Lebih tepatnya ke ruang khusus ekskul basket. Rana mengayunkan langkahnya ke sana.
"Hai, Kak Rana." Sapa Putri, adik kelasnya dengan sopan. Rana sudah menjadi kapten tim basket puteri sejak dia kelas sepuluh. Kemahirannya di bidang ini membuat beberapa senior dan pelatih menunjuknya sebagai kapten. Omong-omong, tim basket mereka sekarang hanya di isi oleh kelas sepuluh dan kelas sebelas saja, karena kelas dua belas sudah tidak diperbolehkan mengikuti ekskul atau organisasi lagi-sudah harus fokus ujian.
"Hai, Put." Rana membuka maskernya. Kemudian duduk di salah satu kursi. Jadi, di ruangan ini tersusun meja berbentuk lingkaran.
Bola mata Rana melihat sekeliling, "tinggal siapa lagi yang kita tunggu?" tanyanya pada semua. Semuanya sudah berkumpul, hanya ada beberapa kursi lagi yang masih kosong.
"Pak Bondan sama Sevi, Ran," sahut Riska.
Rana mengangguk sebagai jawabannya. Dia menunggu kedatangan dua orang itu sembari bermain ponsel. Cewek itu tahu, para anggotanya terkejut dengan rambut Rana yang baru, tetapi dia cuek saja. Lagipula, mereka tidak mungkin berani bertanya yang macam-macam pada Rana. Lebih tepatnya, mereka segan karena sikap Rana yang acuh tak acuh. Meski begitu, mereka adalah tim yang solid.
"Siang semuanya." Itu Sevi, dia langsung menyapa dengan senyum ramahnya.
"Siang, Kak."
"Siang juga, Sev."
Sevi duduk di sebelah Rana. "Hei, Ran."
Yang dipanggil hanya menoleh dan tersenyum sekilas, lalu sibuk memainkan ponsel lagi.
"Ciee, rambut baru. Tetep cakep, kok. Hehe." Disaat yang lain segan berbicara dengan Rana-karena Rana hanya akan heboh kalau bersama Radit-, Sevi-lah yang paling tahan dengan perlakuan Rana.
"Gue tau gue jelek, buriq."
"Gue serius, Rana. Lihat, kulit lo masih tetap putih meskipun lo suka olahraga laki."
Pembicaraan itu harus terpotong karena Pak Bondan (ketua tim basket puteri) datang.
"Selamat siang semuanya."
"Siang, Pak."
Pria berumur dua puluh lima tahun itu tampaknya tak punya waktu lama. "Baiklah, langsung saja kita mulai rapatnya. Enggak lama kok, sekitar lima belas menit. Karena saya harus buru-buru, ada urusan mendadak."
"Baik, Pak."
Kemudian, Pak Bondan memberitahukan bahwa akan ada perlombaan segala jenis olahraga yang diadakan di sekolah. Mereka akan melawan SMA Binusa. Sebulan lagi perlombaan akan diselenggarakan. Pak Bondan memerintahkan mereka untuk menyiapkan segala hal seperti, waktu latihan, strategi, dan lain sebagainya.
"Oke, sampai di sini apa ada yang ingin bertanya?"
Rana mengangkat tangannya.
"Iya, Rana."
__ADS_1
"Saya gak mau bertanya. Saya cuma mau bilang sama bapak, agar bapak gak usah khawatir karena lawan kami sangat kuat. Saya dan teman-teman yang lain berjanji akan usaha memenangkan pertandingan ini. Iya, kan, semuanya?" Rana mengatakannya sebab Pak Bondan agak pesimis melihat lawan.
"Iya, Pak. Kami akan latihan yang giat." Ucap salah satu siswi.
"Bener, Pak." Sahut yang lainnya.
Anggukan mantap Pak Bondan berikan. "Saya pegang percayakan sepenuhnya sama kalian. Tim basket sekolah kita harus rebut kemenangan. Baiklah, sudah lima belas menit. Saya pamit dulu, buru-buru soalnya." Pria itu segera keluar ruangan setelah pamit pada semuanya.
Rana berdiri dari tempat duduknya. Kedua tangannya bertumpu pada meja yang berisi kertas-kertas untuk mencatat segala hal yang diperlukan.
"Kalian lihat, kan? Pak Bondan aja pesimis sama kita. Gue rasa karena kekalahan kita kemarin. Dan kali ini kita harus bangkit, buktikan sama orang kalo kita tuh yang paling kuat. Kekalahan kemarin jadikan pelajaran, jangan terus-terusan terpaku ke situ." Rana menatap satu persatu wajah anggota timnya. "Terutama lo Gita, mental lo jangan cepet down kalo kita lagi kalah atau di poin kritis."
"Kita harus punya mental baja. Mau dijatuhin gimana pun gak boleh gampang terpengaruh. Paham semua?"
Semua yang ada disitu memperhatikan Rana dengan serius.
"Paham semua?" tanya Rana lagi, tegas.
"Paham, Rana."
"Paham, Kak Rana."
Rana duduk kembali. Ia membereskan kertas-kertasnya, meletakkannya ke dalam laci. "Besok kita udah mulai latihan. Semangat semuanya." Ia tersenyum.
Sevi menepuk bahu Rana dua kali. "Lo emang cocok jadi pemimpin," bisiknya pelan. Anggota timnya sudah mulai beres-beres.
Rana tersenyum tipis pada Sevi. Lalu bangkit berdiri. "Gue pulang, ya, guys." Pamitnya pada semua yang dibalas sahutan oleh mereka.
Baru saja Rana akan melangkah, Sevi memegang lengannya. "Eh, Ran. Gue nebeng, dong. Lagi gak ada tumpangan nih. Mobil gue dibengkel." Pintanya dengan muka memelas.
"Ck, yaudah ayo."
Sevi bersorak senang mendengarnya.
***
Setelah mengantar Sevi yang super duper cerewet, Rana singgah sebentar di lapangan basket yang ada di kompleknya. Lapangan itu selalu sepi, karena orang-orang lebih banyak ke taman. Letaknya juga tidak terlalu jauh. Rana juga merasa lapangan basket sederhana itu sepi karena kurangnya minat olahraga orang-orang. Kebanyakan remaja sekarang lebih suka rebahan, nongkrong, shopping, main games.
Rana memarkirkan motornya di pinggir. Membuka masker dan penutup kepala dari jaketnya. Dia mengambil bola yang sudah tersedia dan langsung memainkannya. Kali ini Rana sendiri, biasanya dia bersama Radit .
Setidaknya dengan begini hati Rana mulai membaik dari kejadian siang tadi. Rana selalu menyibukkan diri ketika rasa sakit itu datang. Dia juga tidak mau terus terlarut dalam kegalauan yang tidak penting itu.
Rana berhasil memasukkan bola ke dalam ring berkali-kali, itu sangat mudah untuk dilakukannya. Keringat mulai mengucur di pelipisnya.
"Pulang, Ran. Udah mau maghrib."
__ADS_1
Suara itu berasal dari belakang Rana. Cewek berambut pendek tersebut segera menoleh. Senyum cerah tercetak jelas di wajahnya.
"Radit?"
Radit turun dari motornya. Dia berjalan menghampiri Rana, lantas merebut bola yang sedang Rana peluk. Diletakkannya bola itu ke tempat semula. "Jaket hitam lo jadi kotor karena peluk bola. Lagian bola dipeluk-peluk, mending lo peluk gue aja."
"Aw-" Ringis Radit, Rana mencubitnya tanpa ampun.
"Ganjen lu." Rana melipat tangannya di dada. "Biar aja kotor, kan, jaket gue."
Tangan Radit bergerak menjitak kepala Rana, membuat Rana mencubitnya lagi.
"Ayo pulang, udah maghrib. Anak kecil gak boleh keluyuran pas maghrib." Radit berkata seolah Rana adalah anaknya yang menjadi tanggung jawabnya.
"Biar aja Radit, gue mau ngelepas stres." Niat Rana mengambil bola harus urung karena Radit menahannya. Tatapan sebal dia berikan pada cowok berhoodie abu tersebut.
"Lo mau jadi tuyul, ya?"
"Kok tuyul?"
"Berkeliaran maghrib-maghrib. Ayo pulang." Ajak Radit lagi. Radit tahu, mood Rana sedang tidak bagus saat ini.
Rana berdecak sebal. "Lo juga masih di luar pas maghrib. Berarti lo juga tuyul, hehe."
Radit menghela napas kasar. "Gue baru pulang futsal. Terus mampir ke sini ngeliat anak gue ada nyasar di sini apa enggak. Eh ternyata ada. Dan sekarang, ayo pulang, nak." Dia memegang tangan Rana dan membawanya ke motor.
"Naik."
Rana masih berdiri mematung dengan ekspresi datar. Dia tampak menggigit bibir bawahnya.
"Naik, Rana."
Sebenarnya Rana ingin mengatakan soal kejadian tadi siang saat dia bertemu dengan Zidan. Tapi Rana takut Radit akan marah dan menghajar habis Zidan. Rana tidak mau itu terjadi lagi. Terakhir Radit begitu saat dia tahu Zidan dan Rana putus.
Kali ini Rana lebih memilih memendamnya dulu. Mungkin juga Rana tidak akan menceritakannya.
"Radit lo bego apa gimana, sih?"
Radit memasang wajah bingung. "Kenapa?"
Tawa pelan Rana terdengar. Dia meninju lengan Radit. "Gue bawa motor, ogeb. Masa gue ninggalin motor gue."
"Oh. Ahahaha. Lupa gue. Yaudah ayo pulang, gue temenin sampe depan rumah." Radit tidak fokus karena otaknya sedang menebak-nebak apa yang membuat Rana menjadi badmood seperti ini. Apa ini ada hubungannya dengan Zidan? Radit belum mau menanyakannya, membiarkan Rana yang curhat sendiri.
"Radit ogeb."
__ADS_1