Rana

Rana
Luka menganga


__ADS_3

Rana pulang dengan mengendarai motor maticnya. Dia tidak pulang Bersama Radit karena cowok itu ada jadwal latihan futsal Bersama teman-temannya. Biasanya mereka berdua berjalan beriringan dengan motor masing-masing menuju rumah. Dan Radit juga satu komplek dengannya, makanya mereka sering jumpa. Radit sering main ke rumah Rana, begitu pun sebaliknya.


Sampai setengah perjalanan, motor Rana mogok karena habis bensin.


“Sial banget gue kayanya. Haduh.” Rana turun dari motornya.


“Pom bensin masih jauh lagi. Mau gak mau gue dorong dah nih kambing.”


Rana memakai jaket hitam serta masker. Dia juga menutup kepalanya. Setidaknya dengan itu tidak begitu memalukan jika dilihat orang-orang.


Sekitar satu meter berjalan, akhirnya Rana berhenti di pinggir jalan di mana penjual bensin eceran. “Bang, bensin.”


“Iya, neng.” Abang-abang itu langsung mengisinya.


“Capek, Ran?”


Suara itu berasal dari belakang Rana, cewek itu segera menoleh dan terkejut. “Ha?”


Orang itu mematikan mesin motornya. Lantas dia membuka helm fullfacenya. “Dari tadi gue liat elo. Cuma males aja nyamperin. Pengen lihat seberapa strong-nya elo. Hahaha.” Di ujung kalimatnya, dia tertawa seolah tidak pernah ada masalah apapun di antara mereka.


Rana memakai masker, jadi ekspresi terkejutnya tadi tidak bisa dilihat oleh Zidan. Rana mengabaikan keberadaan Zidan, dia langsung membayar.


“Apa kabar, Ran?”


Helaan napas lelah Rana keluarkan. “Lo emang ***. Kenapa masih muncul di hidup gue?” Rana menggeram, menahan kekesalannya. Ingin rasanya dia menonjok kepala cowok yang ada di depannya ini dengan helm yang ia pegang.


Zidan malah tertawa. “Gue Cuma mau mastiin, mantan kesayangan gue ini bisa hidup atau enggak tanpa gue?”  Dia tersenyum meremehkan.


Rana menggelengkan kepalanya, dia tak habis pikir atas sikap Zidan. “Lo lebih Bahagia lah, secara, kan bisa langgeng sama selingkuhan.” Tatapan menusuk Rana tertuju tepat pada lensa mata Zidan.


Senyuman memuakkan itu Zidan berikan lagi pada Rana. “Jelas dong, gue yang selingkuh gue yang putusin. Mantap.”


Nyatanya perkataan itu membuat hati Rana kembali sakit. Luka menganga yang sudah perlahan sembuh namun sekarang terbuka lagi. Rana masih tak menyangka bahwa Zidan yang dulu sangat mencintainya kini berkata semenyakitkan itu.


Mata Rana memanas. Tapi, dia tetap teguh pendirian- tak akan menangis lagi karena cinta. Itu akan terlihat sangat lemah.


“By the way, mana sahabat lo yang katanya bakal ngelindungin lo terus? Kok gak ada? Bukannya kalian gak terpisahkan ya. Ternyata Radit itu lebih bodoh dan kayak banci, ninggalin sahabat ceweknya sendirian. Dorong motor lagi.”


Tidak seharusnya Rana masih berdiri di sana. Hati Rana sakit, seolah tertusuk ribuan jarum. Dia meletakkan helmnya di kaca spion, kemudian mencengkram kuat kerah seragam sekolah Zidan yang baru.


“LO BOLEH HINA GUE SEPUASNYA. MAKI GUE, TERSERAH. TAPI JANGAN HINA RADIT!!” Rana berteriak di depan wajah Zidan. Lalu dia menghempaskannya kasar.


Zidan menyeringai. Dia merapikan seragamnya. “Bilang aja lo udah cinta mati sama Radit.”

__ADS_1


Cukup. Rana tidak tahan lagi. Dengan cepat dia memakai helmnya, lalu menjalankan motor dan pergi meninggalkan Zidan.


Hati Rana sakit sekali. Zidan tak hanya menghina Rana, tapi juga Radit. Air mata cewek itu akhirnya jatuh juga meski setetes.


“Gue nyesel pernah punya hubungan sama bajingan itu,” gumamnya pelan.


 


****


 


Rana memarkirkan motornya di garasi. Langkahnya terayun menuju pintu masuk.


Sepi.


Rana tidak tahu mamanya pergi kemana. Setelah membuka sepatu. dia cepat-cepat masuk ke kamarnya yang ada di lantai dua.


Meletakkan tasnya di belakang pintu, lalu mengambil handuk dan segera mandi.


Sekitar lima belas menit, Rana keluar dengan kaos hitam dan celana tidur berwarna senada.


Saat sedang mengeringkan rambutnya, ponsel Rana berbunyi. Rana mengangkatnya setelah melihat siapa yang menelponnya.


“Rana, tadi pas pulang sekolah gue ketemu Pak Bondan dan dia bilang sore ini jam empat kita harus kumpul. Ada pengumuman penting yang mau disampaikan. Lo ngasih tahu anak-anak yang lain ya, gue buru-buru nih soalnya mau makan lambung gue udah kumat.”


“Oh, iya, oke. Nanti gue sampein di grub. Udah lo cepetan makan sana, Vi.”


“Oke, bye, Rana.”


“Bye.”


Sevi adalah wakil ketua tim basket puteri. Dan Rana adalah ketuanya. Rana dan Sevi sangat cocok bekerja sama dalam tim. Meski begitu, mereka hanya teman, bukan sahabat.


Rana melirik jam yang ada di ponselnya, lantas melemparnya ke tempat tidur.


“Makan dulu, lah. Laper gua.”


Rana segera turun ke bawah dan makan.


“Loh,  udah pulang aja anak mama.” Desi muncul dari balik dinding yang membatasi ruang makan dan dapur. Wanita pruh baya itu membawa beberapa kantong plastik berisi sesuatu.


“Mama dari mana?”

__ADS_1


“Mama suntuk banget di rumah. Jadinya pengen bikin sesuatu yang bisa dijual. Mama beli bahan-bahannya tadi.” Desi menaruh kantung plastik itu di atas meja makan dan mengeluarkan isinya satu-satu.


“Apa itu? Mama mau bikin usaha es krim?” Bola mata Rana berbinar melihat Oreo dan susu dikeluarkan Mamanya.


Desi mengangguk mantap. “Nanti Mama jual di koperasi Om Hasan.”


“Wah, ide bagus, Ma. Sisain Rana ya.”


“Siap sayang.”


Rana selesai makan. Menaruh piring kotornya di tempat biasa lalu minum. “Ma, jam empat nanti Rana mau pergi, ada rapat tim basket puteri. Izin, ya, Ma.”


“Sekarang masih jam tiga. Kamu istirahat dulu. Baru pulang sekolah juga, kan.”


“Mama bener juga.”


“Rana, Radit udah dua hari gak ke sini. Ke mana aja dia?”


“Biasa, Ma. Anak itu lagi sibuk-sibuknya futsal. Dah ya Mam, Rana istirahat bentar.” Pamit Rana, mencium sekilas pipi mamanya.


“Iye.”


 


***


Rana merebahkan tubuhnya di kasur empuk. Pandangan matanya menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya kembali pada kejadian tadi. Sungguh memilukan. Rana benci itu.


Rasanya memblokir nomor telepon dan akun media sosial milik Zidan tidak cukup untuk menyembuhkan lukanya.


Berminggu-minggu waktu yang dibutuhkan Rana untuk menyembuhkan pilunya. Dan Zidan dengan sengaja mendatanginya lagi, mengatakan hal-hal yang menyakitkan untuk didengar.


Lebih sakit lagi saat Zidan menghina Radit.


Zidan memutuskan Rana saat Rana tidak sengaja memergokinya sedang berkencan dengan gadis lain di café. Kala itu Zidan membawa Rana ke tempat lain dan langsung memutuskannya tanpa pikir panjang. Dan disitulah Zidan mencari kesalahan Rana dengan membawa-bawa nama Radit. Padahal Rana sudah rela membagi waktunya antara Zidan dan Radit-sahabatnya. Tapi, Zidan selalu punya celah agar Rana tampak salah.


Rana beringsut duduk. Dia menghapus jejak air matanya yang tak sengaja tumpah. Padahal, Rana sudah janji pada diri sendiri agar jangan menangis karena hal bodoh lagi.


Rana memakai jeans hitamnya, baru kemudian memakai jaket. Tak lupa, dia juga memakai topi dan masker. Mengambil kunci motor dan pamit pada Mamanya.


“Hati-hati, Rana.”


“Iya, Ma.”

__ADS_1


__ADS_2