Rana

Rana
Air mata


__ADS_3

"Gue jadi manusia kok bodoh amat ya."


"Di saat gue udah mulai buka hati. Devan bohongin gue." 


Wajah Rana yang awalnya cantik dengan riasan, kini sudah basah karena air mata yang membanjir. Rana merasa lemah dan tidak berdaya, bisa-bisanya tertipu oleh cowok seperti Devan.


"Gue bodoh. Bodoh banget. Harusnya gue dengerin apa kata Radit. Sekarang apa? Devan bohongin gue, Radit jauhin gue."


Tangisnya mengeras. Padahal Rana sudah berjanji pada dirinya sendiri agar tak lagi menangis karena laki-laki. 


Rana terus berjalan di trotoar dengan kaki tanpa alas. Dia tidak peduli jika orang menganggapnya gila atau stress. 


Sebuah motor berhenti di dekat Rana. Membuat Rana menoleh sambil mengerutkan kening. 


Orang itu membuka helmnya. "Rana? Ngapain malem-malem jalan sendirian?" Katanya sambil turun dari motor.


Tubuh Rana kaku. Otaknya masih mencerna apakah ini nyata atau hanya mimpi. "R rad-it?" Rana tergagap. 


"Jawab, Rana. Lo kenapa sendirian? Jalan gak pake sepatu lagi. Dan kenapa juga sambil nangis, ada apa sebenarnya?" Radit memegang bahu Rana dengan kedua tangannya. Menatap Rana dengan serius.


Mereka saling beradu pandang. Mengunci bayangan masing-masing dalam pertemuan lensa berbeda warna tersebut. 


Rana menggigit bibir bawahnya, menahan tangis. Namun percuma saat Radit mengangkat alisnya, meminta penjelasan. Tangis Rana pecah seketika. Bahunya naik turun saking terisaknya. Tangannya menggenggam lengan Radit yang tengah memegang bahunya. 


Seolah paham apa yang harus dilakukannya, Radit mengangguk pelan sebelum akhirnya memeluk Rana. Dia mengusap kepala dan bahu Rana agar cewek itu sedikit lebih lega. 


"Gue hancur, dit. Gue juga bodoh." Rana mencengkeram jaket Radit dengan kuat, menumpahkan segala luapan emosinya yang sejak tadi dia tahan. Air mata membanjir membasahi pipi, tak terbendung lagi. 


"Tumpahin semuanya, Rana. Keluarin semua uneg-uneg dan rasa sakit lo. Sini, bagi sama gue. Biar gue ngerasain juga gimana sakitnya perasaan lo sekarang." 


Ucapan Radit sangat pelan. Menusuk ke dalam relung hati Rana yang sedang terluka hebat. 


"Mereka mempermainkan gue. Orang-orang itu udah rencanain ini jauh-jauh hari." Rana berkata di sela tangisannya. 


Radit tidak lagi menyahut. Dia hanya memejamkan matanya sembari terus mendengarkan ocehan Rana tanpa harus berkomentar. Cowok bertopi hitam itu meletakkan dagunya di kepala Rana. Entah kenapa hatinya teramat sakit melihat Rana sehancur ini. 


"Jebakan yang luar biasa. Luar biasa menyakitkan." 


Sekitar sepuluh menit mereka bertahan dengan posisi seperti itu, akhirnya Rana mengurai pelukan mereka. Dia sudah lebih tenang sekarang. 


Radit langsung menghapus air mata yang membasahi wajah Rana dengan tangannya. "Udah selesai nangisnya?"

__ADS_1


Mata sembab itu menatap Radit, lalu mengangguk pelan. Secara tidak sadar, Rana malu sekali karena sebelumnya mereka 'kan sedang musuhan.


"Oke." Radit melihat arloji yang melingkar di tangannya. "Mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu buat tenangin diri? Baru jam delapan soalnya." 


"Jalan." Suara parau Rana terdengar. 


Radit mengangguk paham. Pandangan matanya tertuju pada penampilan Rana. Lantas cowok itu membuka jaketnya dan memberikannya pada Rana. "Nih, pake. Udara malam dingin. Terserah lo mau pake di mana." Setelah mengatakan itu, Radit naik dan menyalakan motornya. 


Tak butuh waktu lama, Rana ikutan naik dan memakai helm cadangan yang diberikan Radit. Jaket milik Radit dia gunakan untuk menutupi kakinya yang terbuka.


"Siap?"


"Udah."


Motor Radit melaju dengan kecepatan sedang. Dia berhenti sebentar di kedai kecil di pinggir jalan. "Bentar ya."


"Mau beli apa?" tanya Rana heran.


Radit tak menjawab, dia segera pergi. Beberapa menit kemudian Radit kembali dengan membawa sendal jepit yang baru dia beli. "Pakai. Gak mungkin kita pergi dengan lo nyeker gitu, kan."


Rana menurut. "Makasih."


"Kuy, jalan." Radit menjalankan motornya menuju pasar malam. Kebetulan karena malam minggu pasar malam pasti ramai. 


Radit tak ingin bertanya lebih lanjut apa yang terjadi pada Rana. Yang jelas Radit tahu ini pasti ada hubungannya dengan Devan. Sepertinya cowok itu harus diberi pelajaran yang setimpal dengan Zidan dahulu.


Sepanjang perjalanan hanya di isi oleh keheningan. Hanya ada suara dari pengendara lain serta angin yang menemani perjalanan mereka. 


Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Terutama Rana yang sedang mempersiapkan diri untuk meminta maaf pada Radit atas perbuatannya. 


Mereka sampai ke tempat tujuan, yaitu pasar malam. Benar saja, malam ini sangat ramai pengunjung. Mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, sampai orangtua. 


"Rame ya. Mau makan dulu? Gue tau lo pasti laper."


"Iya, ayuk." Jawab Rana canggung. 


Lalu Radit membawa Rana masuk dan duduk di meja makan yang tersedia di tempat penjual batagor dan sate. 


"Mau batagor atau sate?" Tawar Radit lagi. Radit sadar bahwa malam ini dirinya banyak menawar. 


"Batagor aja kayak biasa." 

__ADS_1


Radit langsung memesan. dan kembali ke tempat duduk. Dia melirik Rana yang sedang memakai jaketnya.


"Lo gak kedinginan, dit? Kalo iya, biar lo aja yang pake, gue gak usah." Rana bertanya seperti itu karena Radit hanya memakai kaos hitam saja sebagai atasan.


Baru saja Rana akan membuka jaketnya, tapi segera dilarang oleh Radit.


"Pake aja. Gue udah biasa, kok."


"Hm, oke."


"By the way lo cakep tau, Ran. Didandanin kayak gitu. Biar gak pake baju laki mulu." Puji Radit tiba-tiba, membuat Rana menutup wajahnya dengan telapak tangan. 


"Ih, malu gue. Jangan komen penampilan gue, dit. Nanti gue kesel lagi."


Radit memaksa Rana membuka wajahnya. "Bulu mata lo sini gue copot dulu." Tangan Radit bergerak memegang bulu mata Rana. 


Sebuah pukulan mendarat di bahu Radit, dia terpaksa menghentikan aksi jailnya. 


"Ahahaha." Tawa Radit menyembur.


Rana cemberut. "Aih, muncrat tau air liur lo. Jorok banget, sih ah!" 


Cewek itu menghujani Radit dengan cubitan bertubi-tubi. Radit tertawa puas meski cubitan Rana sangat bar-bar. 


Penjual batagor datang dengan membawa makanan yang dipesan oleh Rana dan Radit, menginterupsi aksi keduanya. 


"Terima kasih, Pak."


"Sama-sama, dek. Kalian kayak pasangan yang baru nikah muda tau gak." Ucap bapak itu sambil tersenyum. "Cocok dek."


Rana dan Radit saling berpandangan, sebelum akhirnya memasang ekspresi mual dan batuk-batuk.


"Enggak cocok, Pak. Saya nemu dia dipinggir jalan tadi. Karena kasihan jadi saya bawa aja ke sini, takutnya dia diculik om-om pedo 'kan serem."


Bapak itu tertawa lalu pamit karena masih banyak pembeli.


"Ih ngeselin amat, sih. Tengil lo." Rana merengek. Sedetik kemudian, tangannya meninju lengan Radit.


"ASW! Sakit coeg." Ringis Radit. Pukulan Rana tidak bisa dianggap sepela. Dia seperti seorang cowok yang menjelma menjadi rupa cewek. 


❤Jangan lupa komen, vote, dan like ya.. biar saya makin semangat update Rana 🤗

__ADS_1


❤Buat yang udah ngedukung terima kasih banyak ya..


❤Follow instagram saya : @ratulebah20


__ADS_2