
"Gue pulang ya, Ran. Bye." Pamit Radit saat seisi kelas sudah kosong. Tinggal mereka bertiga lagi, kecuali anak eksul yang sudah pindah tempat ke ruangannya masing-masing. Termasuk Rana, dia dan Devan akan langsung latihan.
Rana menatap Radit dengan sendu, matanya berkaca-kaca. Bermaksud meminta simpati Radit sebelum dia pulang. "Lo tega diemin gue, dit?"
Radit yang sudah berdiri di ambang pintu tiba-tiba berbalik dan menghampiri Rana. "Jaga diri baek-baek." Setelah mengatakan itu dia pergi. Tak sedetik pun melirik atau menganggap keberadaan Devan.
Helaan napas kasar Rana terdengar. Moodnya jadi buruk karena Radit. Padahal, kejadian tadi menurut Rana hanya hal sepele. Tapi Radit sampai begini marahnya.
"Udah gak usah dipikirin. 'Kan ada gue. Kalo lo minta tolong apa-apa minta sama gue aja. Gak usah canggung."
"Ya udahlah lagian besok juga dia udah baik lagi. Santai aja. Sekarang latihan dulu yuk, tapi gue ganti kaos dulu. Lo nunggu aja di lapangan, ntar gue nyusul bareng Yanti dan yang lain." Usul Rana pada Devan.
****
Dua minggu berlalu...
Sejak saat itu hubungan Rana dengan Devan semakin dekat. Bahkan Devan sering memberi Rana cokelat atau buket jajanan meski berakhir di perut Iko. Ya, Rana tidak suka kedua benda itu. Karena diberi, Rana tak enak jika menolak pemberian orang. Untungnya ada Iko yang siap menampung.
Sementara itu, perlahan Radit dan Rana mulai berjarak. Bukan Rana atau Radit yang meminta, tapi keadaan yang memaksa mereka untuk berjauhan. Mereka hanya bersama saat jam pelajaran saja, itu pun karena mereka duduk sebangku.
Ketika jam istirahat, Rana makan berdua dengan Devan dan Radit mengasingkan diri bersama teman laki-lakinya yang lain. Ketika pulang sekolah, Rana diantar oleh Devan. Ketika weekend, Rana hangout dengan Devan, padahal biasanya Radit dan Rana sering menghabiskan weekend bersama. Radit juga tidak pernah lagi datang ke rumah Rana, Mama Rana juga selalu menanyakan hal itu pada anaknya. Dan sayangnya, Rana hanya bisa memberi alasan lain.
Rana sadar atas apa yang dilakukannya. Dia juga sedih. Radit tidak pernah menelponnya lagi atau bahkan hanya sekadar mengirimi pesan singkat. Sungguh, Rana merindukan Ikan Radit. Rana senang dekat dengan Devan, tapi bukan berarti Radit harus menjauhinya. Dulu, saat Rana pacaran dengan Zidan, cewek itu masih bisa membagi waktunya antara pacar dan sahabat. Namun sekarang anehnya dia tidak bisa melakukan itu. Devan selalu bersamanya hingga Radit jengkel dan memilih mengalah. Ah, Rana benci itu.
__ADS_1
Bukan hanya Rana yang memikirkan hal ini, Radit juga. Hari-harinya terasa hampa tanpa kehadiran Rana yang galak seperti Maemunah.
"Dit, lo gak nonton Rana? Hari ini pertandingannya, lho. Lo gak mau support gitu?" Septian berkata sambil menepuk bahu Radit yang sedang menatap ponselnya sendu. Mereka sedang nongkrong di kantin.
Radit menepuk jidatnya sendiri. Dia baru ingat bahwa Rana tanding, makanya hari ini tidak ada jam pelajaran. Kemarin, Radit tidak masuk sekolah. Jadi dia tak tahu apa-apa soal acara hari ini. Radit dan Rana juga sudah bertukar tempat duduk, jadilah mereka semakin berjauhan.
"Lah? Lo sendiri baru ingat?" Papar Baihaqi.
"Ya udah lah biarin aja. Rana juga ditemenin Devan di sana. Kehadiran gue gak begitu dibutuhkan." Jawab Radit pasrah.
"Bro, lo kok nyerah gitu aja, sih? Lo harus bisa ambil Rana dari dia. Masa ngalah gitu aja. Maju dong!" Kiki menyemangati Radit. Mereka semua heran dengan sikap Radit yang bodoamatan.
"Radit, dengerin gue ya. Kalau lo ngebiarin Rana deket sama Devan terus dan mereka jadian, Rana sendiri yang akan tersakiti, dit. Lo tahu sendiri kan si Devan itu gimana. Untung ada Kiki yang kenal sama aslinya Devan, kalo gak lu pasti udah restuin tuh hubungan mereka." Septian berkata dengan semangat membara, geram dengan Radit yang terlalu santuy.
Radit menyimpan ponselnya di saku, kemudian menyesap jus jeruknya sebelum berbicara. Dia menatap satu persatu temannya. "Gue udah usaha, guys. Gue juga udah ngasih tahu Rana buat hati-hati sama orang baru, tiga kali malah gue ngasih tau. But, apa respon dia? Ketawa! Wahai Septian, Bai, Ki. Gue kecewa sama dia, dia lebih percaya sama orang yang baru dikenalnya beberapa hari daripada gue yang udah bertahun kenal sama dia." Napasnya memburu mengatakan itu semua, sorot matanya menggambarkan dengan jelas kekecewaan itu.
Baihaqi menggosok punggung Radit. Septian memandang Radit dengan kasihan.
Kiki yang tadinya duduk berjauhan dari Radit kini mendekati Radit. "Oh gitu ya, dit. Sorry bro, kami gak tahu apa-apa."
"Setidaknya Radit pernah berjuang, meski tak pernah ternilai di mata Rana." Kata Baihaqi.
"Keputusan lo udah bener, dit. Sekarang terserah Rana mau ngapain, yang pasti suatu saat dia akan nyesal udah abaikan perkataan lo." Septian iku bergabung.
__ADS_1
"Jadi, gak papa kan kalo gue gak nontonin dia? Kalian jangan maksa lagi deng. Kesel gua." Gerutu Radit.
*******
Rana mendribble bola dengan serius. Pihak lawan mengincarnya. Dengan gesit dia berlari dan memasukkan bola ke dalam ring. Pendukung, pelatih, dan pemain bersorak senang.
Sekarang adalah poin terakhir sebelum tim basket putri SMA Bakti memenangkan pertandingan hari ini. Rana sangat bersemangat, dia sempat melirik Devan yang sedang bertepuk tangan dan tersenyum ke arahnya. Devan mengepalkan tangan ke udara, Rana balas tersenyum padanya.
Pluit dibunyikan. Persaingan semakin sengit, anggota tim Rana berhasil merebut bola dan melemparkannya kepada Rana. Tak butuh waktu lama, Rana segera memasukkan bola itu ke dalam ring dan mencetak poin final.
Serentak semua pendukung tim Rana bersorak. Rana beserta anggotanya berkumpul di tengah lapangan dan berpelukan membentuk lingkaran. Pak Bondan dan Devan selaku pelatih ikut menghampiri robongan wanita itu.
"YEY! KITA BERHASIL GIRLS!" Rana sangat bahagia, apalagi ketika melihat teman-temannya yang sudah bekerja keras untuk ini.
"Selamat ya kalian, bapak bangga banget." Pak Bondan mengucapkan selamat, lalu mengobrol dengan Yanti, Mariska, dan yang lainnya.
Devan menghampiri Rana. " Selamat ya Rana. Lo udah melakukan yang terbaik. Perjuangan lo gak sia-sia." Dia mengulurkan tangan pada Rana, cewek itu membalas jabatan tangannya.
Rana tersenyum. "Makasih. Ini juga berkat pelatih yang hebat luar biasa."
Alis Rana bertaut saat Devan mendadak berlutut di hadapannya, sebelah tangan yang Devan sembunyikan sedari tadi ternyata memegang sebuket bunga. Devan mengunci Rana dengan tatapan matanya.
"Devan, lo ngapain? Bangun hey!" Rana malu karena mereka sekarang jadi pusat perhatian.
__ADS_1
"Gue sayang sama lo, mau gak jadi pacar gue?" Sudut bibir terangkat membentuk sebuah senyuman kebahagiaan, berharap Rana menerimanya.
**********