Rana

Rana
Sikap Radit


__ADS_3

Radit sudah pulang. Sekarang Rana baru selesai mandi. Dia tidak betah berlama-lama dengan baju yang berkeringat. Sebelum pergi, Radit sempat meledeknya karena tampilan Rana sangat kacau alias seperti kuli bangunan. 


Rana mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Rambut Rana yang pendek memudahkannya dalam beraktifitas, juga saat keramas bisa menghemat shampo. 


Setelah selesai, dia menyalakan televisi yang ada di kamarnya lalu merebahkan tubuhnya ke kasur empuk. Matanya melirik jam berbentuk bundar yang terletak di dinding. 


Pukul setengah delapan. Pasti Papanya sudah pulang. Berhubung Rana sudah makan, jadi dia tidak ikut bergabung dengan yang lainnya saat makan malam sekarang. 


"Apaan sih acaranya kok alay semua. Ah gak asik." Rana mematikan televisi dengan remotnya. Dia memutuskan untuk menonton film saja di komputernya. Gadis berpiyama biru tua itu duduk di meja belajarnya. Kemudian menyalakan komputer. 


Tit tut (anggap aja suara hp)


Ponsel Rana berdering, menandakan pesan masuk. Dia mengambil benda pipih itu, melihat siapa yang mengirim. 


Alis Rana bertaut, nomor tak dikenal mengiriminya pesan. Baru saja Rana hendak melihat foto profilnya, orang itu sudah menelponnya. Rana segera mengangkatnya, sangat penasaran.


"Halo. Siapa ya?" Rana merapatkan ponsel ke telinganya. 


"Devan Anggara. Cowok terganteng seindonesia."


Rana terkekeh geli. "Astaga. Devan. Gue kira siapa." 


"Kan tadi siang kita udah tukeran nomor. Lupa ya." 


"Hehehe. Iya lupa."


"Ya udah gue cuma mau ngasih tahu ini nomor gue aja. Takutnya lo lupa nge save. Kebetulan gue kurang suka telponan."


"Loh kenapa?"


"Sukanya ngomong langsung. Biar orangnya baper." Di seberang sana, Devan tersenyum paksa.


Lagi, Rana tertawa. Devan orang yang cukup menghibur. Rana rasa dia akan betah berteman dengan Devan. Setelah ngobrol dengan dia, ternyata orangnya seru dan menyenangkan.


"Ya udah gue juga mau istirahat, bye Devan."


"Bye, Ran. See you in our school." 


Pip. 


Rana melempar ponselnya ke atas kasur. Kemudian langsung menonton film di komputernya. 

__ADS_1


***


Bel masuk pelajaran pertama berbunyi. 


Bu Killa-guru Bahasa inggris masuk ke kelas Rana dan Radit dengan seorang cowok yang mengekor di belakangnya. 


Semua perhatian penghuni kelas tertuju padanya. Tubuh tegap, tinggi, hidung mancung dan alis tebal mencuri banyak hati wanita. Mereka semua terkejut karena sebelumnya tidak ada desas desus bahwa akan ada siswa baru di kelas 11 ipa 4 itu. Tak seperti biasanya. 


Kecuali Rana dan anggota tim basketnya yang sudah tahu kemarin. 


"Sok cakep amat si Devan," cicit Radit pelan. Ternyata Rana mendengarnya, cewek itu menaruh telunjuknya di bibir Radit, menyuruhnya untuk diam. 


"Diem."


"Selamat pagi anak-anak..."


"Pagi Ibu Killa.."


"Hari ini kalian kedatangan teman baru. Baiklah, Devan perkenalkan diri kamu." Bu Killa mempersilakan Devan berbicara di depan kelas.


Sekarang Devan berdiri dengan percaya dirinya, tak lupa senyum melebar membuat para siswi menjerit tertahan. 


"Devan ganteng siapa yang punya."


"Devan nanti kita makan bareng ya."


"Minta nomor kamu dong."


"Eh sudah sudah. Devan kamu bisa duduk di samping Noval." Perintah bu Killa yang dihadiahi anggukan patuh oleh Devan. 


Cowok itu dengan senang hati duduk di samping Noval-cowok super nakal alias badung. Mereka sempat bertegur sapa. 


Sementara itu, Radit mengalihkan pandangannya ke arah lain, tak ingin melihat keberadaan Devan. Sekilas Radit menyaksikan Rana sedang beradu tatap dengan Devan. Cowok itu berdecak sebal, lantas dia menutup mata Rana dengan telapak tangannya. 


"Rana lo ngapain, sih? Kurang kerjaan banget senyum senyum gaje begitu." 


Rana menyingkirkan tangan Radit dari matanya. Ralat, dari wajahnya, karena tangan Radit sangat besar dibandingkan dengan wajah Rana. "Ih, Ikan. Harusnya gue yang nanya gitu. Lo ngapain sih tutup-tutup segala. Kayak gue ngeliat yang enggak-enggak aja." 


"Lo macem orang yang lagi kasmaran tau gak, Ran." Wajah Radit merengut, dia melipat tangannya di dada. Tatapannya lurus menatap Bu Killa yang sedang membuka lembar buku yang akan dipelajari hari ini.


"Kasmaran?" Sedetik kemudian Rana tertawa kecil. "Ya enggaklah. Devan itu teman baru gue. Wajar kali lempar senyum. Radit, asal lo tahu aja ya, Devan tuh orangnya baik kok. Lucu juga." 

__ADS_1


"Serah lu deh. Entar kalo dia nyakitin lo awas aja ngadu sama gue." Radit berucap datar. Mendadak hari ini dia ingin bungkam seribu bahasa. Rana sangat sulit diberitahu soal orang baru.


Tangan Rana memeriksa kesehatan Radit dengan cara menempelkannya di jidat cowok yang alisnya kusut tersebut. "Lo kenapa, Dit? Sakit? Dari kemaren sikap lo aneh. Bingung gua." Jujur, Rana sangat tak mengerti dengan Radit. 


"Pikir sendiri." Jawab Radit singkat, padat, jelas. 


Rana memilih diam dulu karena Bu Killa sudah memulai pelajaran.


***********


"Rana, kantin yuk." Ajak Devan, dia menghampiri meja Radit dan Rana. Kedua sahabat itu masih ada di sana. Di kelas hanya ada mereka bertiga sekarang.


Rana mengangguk semangat. "Ayuk. Sekalian aja. Ya kan, dit. Kuy kantin." Dia segera mengamit tangan Radit dan membawanya menuju kantin. 


Devan segera mengikuti langkah keduanya. Dia sangat kesal sekarang, Rana mengabaikannya hanya karena cowok yang sedang cemberut itu. 


Setelah sampai di kantin, mereka memesan makanan. Rana dan Radit memesan bakso bakar, juga Devan memesan bakso kuah. 


"Rana, nanti lo langsung latihan atau pulang dulu ke rumah?" Devan membuka pembicaraan terlebih dahulu. Dia memanfaatkan kesempatan ini sebab Radit sedang marah dengan Rana. Bahkan sekarang cowok itu hanya memainkan ponselnya.


"Langsung dong. Rumah gue gak deket dari sekolah. Capek bolak balik."


Devan mengangguk paham. "Nanti masih ditemenin sama satpam lo?" Devan menunjuk Radit dengan dagunya.


"Enggak. Radit lagi marah sama gue. Paling dia pulang duluan. Tapi gak papa juga, sih. Gue males ngerepotin orang." Itu adalah sebuah kode. Rana sengaja bersuara besar agar Radit yang sedang main handphone di sebelahnya peka. Posisinya yang jelas Devan duduk berhadapan dengan Rana. Terlihat seperti Radit sedang bercosplay jadi nyamuk pengganggu kencan orang.


Radit sadar sedang dibicarakan, namun dia memilih bungkam seperti niat awalnya. Dia sudah terlanjur sebal dengan Rana. Sengaja membiarkan Rana dan Devan ngobrol, asalkan ada Radit di sebelahnya.


"By the way, dua minggu lagi pertandingan. Seberapa besar keyakinan lo bakal menang?" Devan menopang dagu, menatap wajah Rana dengan seksama. 


Rana tampak berpikir sesaat. "Lo ngeremehin gue nih. Jelas seratus persen yakin menang dong." 


"Hahaha. Becanda doang. Lo dipercaya sebagai ketua, itu artinya lo mampu bawa anak-anak lo untuk menang. Gue sendiri juga yakin kok kalian bakal menang. Skill lo gak bisa disepelein, Ran. Lo hebat."


Bola mata Rana memutar malas, dia tak suka dipuji berlebihan walau hatinya senang saat ini. "Doain aja."


Radit mengumpat dalam hati. Tak sanggup lagi menahan kekesalan, Radit akhirnya bersuara. "Gue gabung sama temen gue aja ya, Ran. Biar kalian fokus ngobrolnya." 


Baru saja Radit akan beranjak pergi, Rana menahan tangannya. "Duduk, dit. Masa lo ninggalin gue sih kan kita pergi bareng." 


Akhirnya Radit mengalah, tetap duduk seperti semula. Matanya menatap Devan tajam. Sedangkan yang ditatap hanya menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2