
Pagi itu rana menunggu herdian ditempat mereka bertemu dihari sebelumnya.Dengan perasaan tidak menentu menunggu kedatangan herdian dengan jantung berdebar takut penantiannya sia-sia.
"Sepertinya kau sedang menungguku" suara herdian membuat lamunan rana buyar.
"Hemmm..ada yang ingin aku bicarakan denganmu,ikut denganku" rana pun melangkah sedangkan herdian mengikuti dari belakang.
"Silahkan masuk karena suamiku sedang menunggumu" rana pun mempersilahkan tamunya duduk lalu masuk kedalam memanggil tami.
"Apa kau tidak menyuguhkan tamumu minuman?" teriak herdian sebelum rana menghilang dari pandangan matanya,namun rana tidak memperdulikannya.
"Eheemmm..maaf menunggu lama"
"Tidak apa aku sedang senggang hari ini" jawab herdian dengan santai.
"Aku tami" tami pun mengajak tamunya berkenalan.
"Herdian" sambut herdian dengan menjabat tangan sang pemilik rumah.
"Langsung ketopik utama saja,aku dan rana setuju tidak akan menyerahkan anak kami"
__ADS_1
"Hei itu anakku"
"Tapi kalianlah yang telah menelantarkannya"
"Kau tidak tau apa yang terjadi jadi kau tidak berhak menghakimi kami"
"Aku tahu,kalian hanyalah orang-orang pengecut yang menyia-nyiakan anak dari hasil perbuatan kalian" jawab tami dengan nada mengejek.
"Lalu bagaimana dengan ku?kau tinggal dirumah mewah sedangkan istrimu tinggal ditempat kumuh" herdian pun tidak mau kalah lalu dan benar saja kata-kata yang diucapkan herdian membuat tami mengepalkan tangannya lalu berdiri untuk memberikan bogem menttah diwajah tampan herdian.
"Hentikan!!" teriak rana dari dalam dengan nampan ditangannya.
"Untung saja istriku keluar kalau tidak bisa kupastikan wajahmu babak belur"
"Apa-apaan kalian ini?bukannya membicarakan hal penting malah bertingkah seperti anak kecil"
"Cepat katakan apa maksud kalian mengundangku?" tanya herdian ke arah rana.
"Pergilah dari kehidupanku dan anakku,jangan mengganggu kebahagiaan kami"
__ADS_1
"Anakmu?cih..kata herdian mengejek.
"Lalu apakah dia anakmu?kemana kalian selama ini?orang tua macam apa yang meninggalkan anaknya didepan pintu rumahku?" kata rana dengan emosi yang sudah meledak.
"Rumah?itu lebih layak disebut kandang hewan"
"Kau!!"
"Sebaiknya kau pergi dan jangan mengganggu keluargaku atau aku akan menempuh jalur hukum?"
"Apa kau pikir aku takut?dari hasil DNA saja sudah bisa dipastikan kamilah orang tuanya dan aku bisa saja melaporkan kalian karena telah menculik anakku ketika masih bayi" gertak herdian.
"Laporkan saja karena aku tidak takut,pada saat lintang ditemukan aku beserta warga setempat telah melaporkan ke ketua RT setempat,bahkan pihak kepolisian pun telah datang ke rumahku dan aku telah mendapat mengakuan negara sebagai ibu kandung anakku" air mata rana pun menetes karena menahan kesedihannya takut kehilangan putranya.
"Baik kita bertemu dipengadilan" herdian pun pergi meninggalkan kediaman rana.
Tami pun berusaha menenangkan rana yang terduduk lemas sambil menangis,dengan lembut tami menghapus air matanya.Dengan lembut dibawanya tubuh rana kedalam pelukannya agar wanita yang baru saja kembali kerumahnya itu merasa nyaman dan berhenti dari tangisannya karena takut kehilangan anak yang suadah dianggap seperti anak kandungnya sendiri itu.
"Bagaimana kalau dia berhasil merebut lintang dariku?aku ttidak mau kehilangan lintang karena aku telah merawatnya dari masih bayi,dia sudah seperti anakku"
__ADS_1
"Aku akan memikirkan caranya,serahkan saja padaku karena aku pasti akan membantumu sampai akhir"
"Carikan aku pengacara handal,aku ,mohon"