Rana

Rana
Jalan bareng


__ADS_3

"Rana, nanti malam dateng ke acara nikahan kakak gue mau ga, acaranya di rumah nenek kakek gue." Devan menyesap es tehnya.


Rana terkejut, ini terlalu mendadak. Rana pasti akan bertemu dengan keluarga Devan. Dan mungkinkah Devan dan keluarganya mau menerima tamu seperti Rana? Maksudnya, Rana tidak bisa dandan, tidak bisa memakai gaun, tidak bisa memakai sepatu hak. Sangat memalukan dan rasanya aneh jika Rana berpenampilan layaknya laki-laki. Bisa-bisa Rana langsung diusir dari sana dan Devan pasti akan ilfeel padanya.


Melihat Rana yang melamun dan raut wajahnya cemas, Devan melambaikan tangan di depan Rana. "Hey! Kenapa? Kok diem."


"Ah enggak. Cuma bingung aja gue make apa nanti. Hm, kalo gue gak dateng lo marah gak?"


"Gak bisa. Lo harus banget dateng, Ran. Kehadiran lo penting buat gue. Gue pengen keluarga gue tahu siapa cewek yang berhasil memikat hati gue. Please datang ya.." Devan memohon, memasang tampang memelas. Bagaimana pun juga dia harus berhasil membawa Rana ke keluarganya.


Rana selesai makan, dia meminum air putihnya. Sekalian memikirkan apa alasan yang jelas untuk menolak ajakan Devan. "Gue.. Gue gak bisa dandan, Dev." Cewek itu menunduk.


Respon Devan diluar dugaan, dia tertawa keras. "Jadi itu masalahnya. Ya ampun gue pikir apaan."


"Gua takut gue malu-maluin. Seumur hidup gue gak pernah dandan."


"Biar gue yang nyuruh orang buat make up-in lo nanti malam. Namanya Kak Ela, dia bisa datang ke rumah lo langsung."


"Eh enggak usah. Jangan, Dev. Yang ada malah ngerepotin lo." Tolak Rana halus.


Namun Devan tetap kekeuh. Dia selalu punya cara agar Rana tetap bisa menuruti ajakannya.


"Sekali aja, turutin permintaan gue, Rana." Kali ini Devan yakin dia berhasil.


Akhirnya, Rana mengangguk pasrah. Membuat cowok di hadapannya bersorak senang. Sudah seperti diterima pernyataan cintanya, padahal belum.


Orang-orang di kantin itu masih memperhatikan mereka.


"Udah jam satu siang, kuy pulang Ran. Tapi jalan-jalan dulu kita ya," kata Devan sambil mengedipkan sebelah matanya.


Rana melempar tisu ke muka Devan. "Najong. Ya udah yuk, jalan ke mana?"


"Kemana pun asal tuan putri senang."


****


Rana dan Devan memilih pergi ke mall dulu, Rana yang memintanya. Mereka mengendarai motor masing-masing. Padahal Devan berharap dia membonceng Rana, tapi Rana tidak mau meninggalkan motornya di sekolah.

__ADS_1


"Nah sekarang pilih baju mana yang lo mau."


Mereka memasuki toko baju wanita. Devan menyuruh Rana memilih gaun untuk pergi ke pesta pernikahan. Jelas-jelas Rana sudah mengatakan bahwa dia tidak pernah dandan. Dan harusnya Devan paham, Rana 'kan cewek tomboy. Lihat saja dari tampilannya sehari-hari.


"Ah bengong lagi. Lama-lama lo kesambet, Ran."


Terpaksa mau tak mau Rana mengambil secara asal gaun yang ada. Lalu dia memberikannya pada kasir.


"Eh, ini sepatu bagus loh. Beli ya, jangan lupa dipakai." Devan langsung menggabungkannya dengan gaun tadi, memberikannya pada kasir tanpa meminta persetujuan Rana.


Hati Rana mencelos. Mengapa Devan seolah tidak kenal dengan Rana? Padahal mereka berdua sudah kenal dekat. Rana tidak suka memakai itu semua, bahkan Rana sudah pernah bercerita pada Devan bagaimana ketomboy-an dia.


Mereka keluar dari toko itu. Melanjutkan jalan-jalan keliling mall.


Devan yang tersenyum ceria, sementara Rana yang murung sambil menjinjing belanjaan yang tadi.


"Main ke time zone kuy, Ran. Kayaknya bakalan seru. Ayo." Cowok itu menggandeng tangan Rana, berjalan menuju tempat permainan tersebut.


Rana tersenyum paksa, tapi dia tak mau terlalu menampakkannya.


Beberapa jam kemudian, Devan dan Rana selesai. Sebelum benar-benar keluar, Devan membelikan Rana es krim.


Hanya anggukan kepala yang Rana berikan sebagai jawaban. Katanya terserah kemana pun asal Rana mau, kenyataannya Devan yang selalu menentukan tempat tujuan. Rana kesal sendiri, namun dipendamnya.


Sampai di taman, mereka duduk lesehan di rerumputan yang hijau dan bersih.


"Lo tunggu di sini ya, gue beli makanan buat kita. Jangan kabur loh." Devan pergi.


Rana tertawa pelan. Dia pikir Rana tahanan, mana mungkin dia kabur. Matanya melihat sekeliling, lumayan ramai. Penjual jajanan juga berjejer rapi. Biasanya Rana ke sini bersama Radit, menghabiskan waktu luang daripada bosan di rumah. Ah, lagi dan lagi setiap kemana pun Rana dan Devan pergi ke suatu tempat, dia pasti ingat Radit.


Bosan terdiam, Rana membuka ponselnya. Dia membuka aplikasi whatsaap. Hanya ada pemberitahuan dari grup dan beberapa chat dari teman tim basketnya yang mengucapkan selamat karena kemenangan hari ini. Rana malas membuka grup ketika di luar seperti saat ini. Mungkin nanti akan dia baca satu persatu.


Tangannya mengusap layar, membuka story dari kontaknya. Perhatianmya tertuju pada story Radit dua jam yang lalu. Rana segera membukanya.


Radit memvideokan Septian, Kiki, serta Baihaqi yang sedang karaokean sambil joget-joget. Rana bisa mendengar dengan jelas Radit tertawa puas dibalik kamera.


Hati Rana senang mendengar tawa itu. Setidaknya Radit mempunyai teman yang bisa membuatnya happy ketika Rana tidak ada di sisinya.

__ADS_1


"Radit Ikan, gue rindu sama lo." Batin Rana berbicara.


Cowok yang sering memakai topi itu tak pernah membalas pesannya lagi sejak Radit membicarakan Devan. Rana tidak pernah menyangka Radit akan semarah ini padanya.


"Ran, galau mulu lo. Nih makanannya. Gue beli siomay, batagor, air tebu, dan jajanan." Devan datang dan menaruh semua makanannya. Membuka satu persatu.


Rana menyimpan ponselnya. Bagaimana pun juga Devan selalu melakukan apapun yang bisa membuatnya bahagia. Harusnya Rana bersyukur karena itu, meski hubungannya dengan Radit sedang kacau.


"Lo masih mikirin Radit padahal gue ada di sini. 'kan udah gue bilang, gak usah ngerasa kosong. Setiap lo butuh gue selalu ada, kok. Jangan sungkan minta."


"Makasih, Dev."


"Selalu jawabannya makasih. Tapi lo gak pernah minta apapun. "


Bukannya Rana tak mau. Rana pernah meminta tolong pada Devan, tapi dalam beberapa kesempatan cowok itu selalu menolak dengan alasan. Berbeda dengan Radit yang siap dimintai pertolongan. Lagipula, Rana tak pernah lupa membalas kebaikan orang padanya.


"Lo gak happy jalan sama gue?" tanya Devan menduga-duga. Rana tak sedikitpun menampilkan raut bahagia.


"Bahagia, Devan. Gue lagi kepikiran soal nanti malam. Belum siap buat ketemu keluarga lo."


"Gak papa. Lebih cepat lebih baik. Biar pas mau tunangan, lo udah kenal keluarga gue. Hahaha."


Rana tersenyum simpul lalu memukul bahu Devan.


"Aw! Gila. Tenaga lo kayak cowok, Ran." Devan meringis kesakitan.


"Gue bisa banting orang juga loh. Mau coba?" Rana memegang kerah baju Devan, cowok itu langsung mengangkat tangannya pertanda menyerah.


"Eh ampun. Enggak perlu lo tunjukin juga gue percaya kok, Ran. Ah mentang-mentang bisa bela diri. Jangan kasar-kasar ya." Devan mencubit pipi Rana gemas, sementara si korban meninju pelan tulang rusuk Devan.


***


Jadi kalian tim RanDev atau Randit? ๐Ÿ˜‚


๐Ÿ’‹Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen ya biar author ratulebah makin semangat.


ย 

__ADS_1


๐Ÿ***


ย 


__ADS_2