Rana

Rana
Pukulan


__ADS_3

Tangan Rana terangkat menampar pipi Devan, menimbulkan suara yang cukup keras. Membuat kerumunan terkejut. Bahkan kelas lain juga ikut menonton kejadian itu. 


Drama yang sangat menarik. Dua orang yang belakangan ini jadi sorotan, kini saling berhadapan sambil melayangkan tatapan kebencian satu sama lain. 


Devan menyeringai. Inilah yang dia inginkan. Dia akan membuat Rana malu di depan orang ramai. Sekarang adalah waktu yang tepat.


"Kok bohongin sih? Lo tau gak gara-gara lo, Jelita marah sama gue!"


"APA!? Gara-gara gue? Bukannya lo yang deketin gue duluan ya? Dan lo juga ngakunya jomblo! Gak waras nih orang!" Balas Rana membentak. 


Devan tertawa meledek. Dia melipat tangannya di dada. "Jangan munafik, Ran! Lo pake topeng di depan semua orang, lo tahu gue punya pacar dan masih aja tetap deket sama gue. Pake segala nyuruh gue ekting di tengah lapangan buat nembak lo. Cih, keliatan banget kurang kasih sayang." Mata Devan memandang Rana dengan tatapan geli.


Napas Rana memburu. Hatinya sakit sekali mendengar penuturan Devan yang mengada-ada. Amarah, kesal, sakit hati, sedih, cemas semuanya bercampur di dalam diri Rana. Dia menguatkan dirinya agar tidak menangis saat ini juga, karena itu akan membuatnya seperti cewek lemah. 


Rana mengepalkan tangannya kuat, lalu meninju perut Devan. 


Devan membungkuk, pukulan Rana tidak bisa dianggap sepele. "Lo cowok atau cewek, sih?" Tanpa diduga, Devan mendorong bahu Rana dengan kasar secara tiba-tiba. Membuat Rana sontak terjatuh ke lantai. 


Sevi dan yang lainnya membantu Rana berdiri. 


"WOY!" 


Sebuah tinjuan mendarat di pipi Devan. Radit yang melakukannya. Dia tidak bisa diam saja ketika Rana tersakiti di depan matanya.


Devan tidak terima, dia balas menarik kerah baju Radit.  "Gak usah ikut campur!!!"


Dengan cepat Radit membalikkan badan Devan dan membantingnya ke lantai. "Jelas dong gue ikut campur! ITU RANA WOY RANA! KALO ITU ORANG LAIN GUA GAK PEDULI!" Wajah Radit memerah, emosi menguasai dirinya.


Ternyata Devan belum menyerah, dia balas meninju rahang Radit hingga mengeluarkan darah. 


"Dit, udah RADIT!" Septian, Kiki, Baihaqi pelan-pelan berusaha melerai. 


"Lo boleh pukul gue sepuasnya, sampe mati pun gak papa! Asal jangan Rana yang lo buat mainan! Nih pukul gue PUKUL!" Radit berkata sambil menujuk wajah Devan, lalu dia menepuk pipinya sendiri seakan mempersilakan Devan meninjunya lagi. 


Baru saja Devan akan memukul Radit lagi, Pak Kepala sekolah bersama beberapa guru yang lainnya sudah datang melerai. 


"DEVAN, RADIT! Ikut saya ke ruangan!" Pak Kepsek memerintah dengan tegas. Lantas dua guru lainnya masing-masing membawa Radit dan Devan. Septian, Kiki, Baihaqi juga ikut.


Sementara itu, Rana sudah menangis sejadi-jadinya. Sevi, Yanti, Ranti membawa Rana ke taman belakang sekolah agar lebih nyaman untuk Rana menenangkan diri.

__ADS_1


"Itu semua gak bener, Sev. Devan tega banget sama gue." Rana terisak, dia menyandarkan kepalanya ke bahu Sevi. Keempat cewek itu duduk di bangku panjang, dengan Yanti dan Ranti yang berjongkok di depan Rana dan Sevi.


Ranti mengelus bahu Rana. "Kalo emang ngerasa berat, omongin aja semua, Rana. Kita siap dengerin kok."


"Iya, Ran. Kita percaya, kok lo enggak kayak gitu. Lagian kita lebih lama kenal sama lo duluan daripada sama Devan, kan." Kata Sevi sambil mengelus kepala Rana.


Yanti mengangguk setuju. "Iya. Dari awal kita nyadar kalo kehadiran Devan bikin lo sama Radit jadi jauh, dan sejak saat itulah gue rasa Devan punya niat gak baik."


Rana menghapus air matanya. "Sorry ya, bukan gue gak mau ceritain sama kalian. Tapi, gue emang gak mampu." Bahu Rana terguncang. 


"Iya, gak papa. Kita ngerti."


"Tenangin diri dulu, Ran."


***


"Jadi, coba jelaskan bagaimana kronologi kejadiannya." 


Di sinilah Devan dan Radit sekarang, duduk di depan kepala sekolah yang menatapnya tajam dengan penampilan babak belur.


"Ini orang ikut campur urusan saya, Pak!" 


Brak!! 


"Kalian bertiga belum saya tanyakan, jadi tolong diam ya."


"Baik, Pak."


"Baiklah, saya tanya dari sisi Devan dulu. Devan silakan utarakan penjelasan kamu." Pak Kepsek menyuruh yang lainnya untuk diam selama Devan berbicara.


Devan menatap serius Pak Kepsek, "Jadi gini, pak. Saya bertengkar dengan Rana, dan tiba-tiba aja orang pada ngerumunin. Terus nih anak nonjok saya, Pak. Saya gak terima, dong."


"Radit, bicara."


Helaan napas panjang Radit terdengar. "Rana itu sahabat saya, Pak. Dari dulu banget. Dan ini cowok, bentak-bentak Rana sambil dorong dia sampai jatuh, Pak. Kasar sekali dia, cuih. Cowok apa bukan sih beraninya sama cewek." Radit melirik Devan dengan sinis. 


"Lah Rananya juga nampar gue." Devan melotot pada Radit.


"Pak, Rana itu cewek masa kalo dia nampar cowok harus banget ya tuh cowok yang ditampar balas dorong kasar?"

__ADS_1


Devan tidak lagi menjawab. Kini dia hanya diam sambil mengumpat dalam hati. 


Pak Kepsek manggut-manggut. 


"Dan Bapak tahu sendiri, kan? Saya dan Rana gak pernah masuk BK dan gak pernah kena masalah yang kayak gini. Kami berdua gak pernah punya masalah sama orang-orang. Semenjak Devan pindah ke sekolah ini, ini pertama kalinya saya menghadap kepala sekolah karena kasus perkelahian." Jelas Radit dengan suara yang tenang. 


Semuanya terdiam mendengarkan. 


"Oke. Saya ambil kesimpulannya aja, ya. Devan, kamu terpaksa di skors selama dua minggu. Dan kamu juga dipindahkan ke kelas lain demi menghindari kejadian serupa. Untuk Radit, karena kamu dan Rana bukan siswa nakal sejak dulu, jadi saya percaya sama kalian."


Devan terpaku di tempatnya, Radit yang tersenyum senang, dan trio saksi yang tidak dipakai tadi bertos ria. 


Mereka semua berpamitan pada Kepsek. Lalu ke luar dari sana. Devan masih berurusan dengan wali kelas terkait di-skorsnya dia. 


"Gile, gak nyangka gue Dit lo bisa selancar itu jelasinnya. Bikin Pak Kepsek langsung mutusin finalnya." Septian merangkul Radit.


"Devan gak berkutik lagi noh."


"Ya iyalah, mana mungkin Pak Kepsek lupa sama prestasi gue dan Rana." Radit mendudukkan dirinya di kursi besi yang ada di depan ruang kepala sekolah.


Kiki mengecek pipi Radit yang lebam. "Lo gak mau ke UKS dulu? Obatin dulu gih."


"Ya udah, gue UKS dulu, ya. Kalian ke kantin aja terus, jangan nahan laper." Setelah mengatakan itu, Radit segera pergi. Berjalan dengan tampilan amburadulnya, kancing terlepas, sudut bibir berdarah, pipi lebam, rambut berantakan. Sungguh menarik perhatian siswa lain.


Baihaqi, Kiki, dan Septian memandang Radit dengan sorot kasihan. 


"Kuy lah, makan laper gue."


"Oke."


Saat melewati koridor kelas satu, mereka berpapasan dengan Rana dan teman-temannya. Tampak Rana dengan mata sembabnya berjalan dirangkul Sevi. 


"Rana? Lo gak papa, kan?" tanya Septian. 


Mereka berhenti. "Di mana Radit, Sep?" 


"Radit UKS." Kiki menyahut dengan cepat.


"Gue ke sana dulu, ya." 

__ADS_1


Rana berlari kencang menuju UKS, sesekali dia tak sengaja menabrak orang yang menghalangi jalannya. 


__ADS_2