Rana

Rana
ENDING


__ADS_3

Rana masuk ke dalam ruang UKS. Sebelumnya dia menyapa Kak Cut- penjaga UKS. Menanyakan keberadaan Radit dan Rana langsung mencarinya di bilik paling ujung.


Rana menyibak tirai hijau yang menutupi.


"Radit. Ya ampun, sakit?" tanya Rana sembari mendekati Radit yang sedang berbaring di brankar, memeriksa keadaannya.


Melihat Rana, Radit merubah posisi menjadi duduk bersandar. Lukanya sudah diobati. Hanya tinggal lebam dan pegal-pegal di beberapa bagian.


"Rana lo ngapain ke sini?"


Yang ditanya tidak menjawab, dia mengambil kursi lalu duduk di dekat Radit. "Maaf. Maaf untuk semua ini. Maaf karena gue, lo jadi kayak gini, dit." Rana memegang tangan Radit. Menatapnya dengan penuh penyesalan.


Senyuman tulus Radit berikan. Dielusnya kepala Rana dengan lembut. "Bukan salah lo, bukan juga salah gue. Dan bukan salah siapa-siapa, Ran. Ini emang udah ditakdirkannya begini. Jadi, lo tahu hikmahnya apa?"


Mata sembab Rana meneteskan air mata lagi. "Supaya gue lebih berhati-hati lagi. Dan kayak yang lo bilang, jangan mudah percaya sama orang yag baru kita kenal."


"Nah." Radit menghapus jejak air mata di pipi Rana. "Itu tau."


"Malam itu, Devan ngajak gue ke pernikahan kakaknya." Tanpa Radit minta, Rana menjelaskan sendiri apa yang sedari kemarin membuat dadanya sesak karena menyimpan uneg-uneg. Radit senang menyadari hal itu.


Rana melipat tangannya dan menidurkan kepalanya di atas kasur Radit. Lalu mulai berceloteh, sementara Radit fokus mendengar.


"Sebelum pergi ke sana, kita jalan ke mall. Devan beliin gue dress yang hitam itu. Sebetulnya gue gak mau datang, tapi entah kenapa gue gak bisa nolak saat Devan memohon."


"Itu artinya lo mulai su-"


"Ssstt." Rana meletakkan telunjuknya di bibirnya. "Gue belum selesai."


"Yaudah terus."


"Devan sampe bela-belain nyuruh temennya buat dandanin gue loh. Padahal, harusnya Devan tau kalo gue gak suka dandan cewek. Ditambah lagi Devan suruh gue pake sepatu hak 300 meter. Gimana gak kesel coba?"


Radit tampak menahan tawanya.


Rana mengangkat kepalanya lalu mencubit paha Radit.


"Aw! Sakit ogeb. Gue masih sekarat."


"Jangan ketawa. Orang nahan kesel lu malah ngetawain."

__ADS_1


"Rana oh Rana. Lo tinggal nolak aja apa susahnya, sih? Tinggal bilang aja lo gak suka sama itu semua." Padahal ketika bersama Radit, Rana mengungkapkan semua hal yang tidak dia suka. Namun, berbeda saat dengan Devan.


Melalui perkataan Radit, ada satu hal yang baru Rana sadari. Dia tidak bisa menjadi dirinya sendiri ketika dengan Devan. Merasa harus tampil perfect di depan dia, dan selalu merasa harus patuh apa yang Devan katakan. Menyedihkan sekali.


"Rana? Kok bengong?"


Rana melanjutkan. "Pas gue dateng, aman-aman aja tuh. Meskipun gue malu banget soalnya ngerasa kaya orang asing. Padahal emang iya. Gak lama kami duduk, dan Devan pergi ambil makanan. Zidan dateng, trus Devan balik. Gak lama kemudian, pacarnya Devan dateng dan nyiram gue pake air jeruk."


Mata Radit melotot. "What? Jadi kemaren baju lo sebenarnya basah, Ran? Sumpah gue ga tau karena warnanya item. Masuk angin, dong."


Tawa pelan Rana terdengar. "Gak apa kali, Ikan. Lagian basahnya juga dikit."


Radit menggeleng-gelengkan kepalanya. "Intinya gimana, Ran? Devan bohongin lo kalo dia udah punya pacar?"


"Iya Radit. Dia udah punya cewek, terus dia gak pernah cerita kalo dia sepupuan sama Zidan. Dan lo tahu, mereka udah ngerencanain itu semua jauh-jauh hari. Misi mereka adalah bikin gue sama lo jadi JAUH." Napas Rana terengah seperti habis lomba lari saat mengatakannya.


Raut muka Radit berubah menjadi serius.


Segera Rana pegang tangannya, menenangkan cowok itu agar dia tidak terpancing emosi lagi. "Udah lah. Lupain aja. Gak guna juga lo hajar lagi. Nanti malah ketahuan pak kepsek lagi loh."


Amarah Radit langsung hilang saat itu juga. Dielusnya lagi kepala Rana. "Iya deh iya."


Helaan napas terdengar. "Devan di skors selama dua minggu. Dia juga dipindahin ke kelas paling ujung. Jadi, sekarang kita aman." Radit tersenyum dengan tampannya. Ehe.


Kepala Rana mengangguk paham. "Bagus deh."


"Lo... masih suka Devan?"


"Ya enggaklah. Gile lu. Rasa gue udah luntur karena tingkah dia yang jahanam. Benci banget. Sekalian tuh sama si Jidan. Gak ada bedanya."


"Haha. Jawaban yang udah gue duga."


"By the way, dit." Terdengar jeda sejenak, Rana menundukkan kepalanya. "Kayaknya gue gak pernah mau deket sama cowok lagi."


Radit mencubit sebelah pipi Rana dengan pelan. "Maimunah, jadi lo anggap gue cewek gitu?"


Wajah Rana cengo, baru sesaat kemudian tersenyum tanpa dosa. "Ehehe. Maksud gue gak mau pacaran lagi atau pedekate lagi. Udah cukup yang kemarin itu terakhir. Gue gamau dibohongin lagi, rasanya sakit banget."


"Rana... Jadi lo nikahnya sama siapa kalo gak mau deket sama cowok lagi?"

__ADS_1


Rana tampak berpikir sejenak. "Hmm.. Sama lo aja gimana?"


Hampir saja Radit terlompat dari brankarnya saking kagetnya. Dia memegang jantungnya yang hampir copot. "Astaga. Kaget, ogeb."


Rana malah tertawa senang. "Menurut lo gimana? Asik juga kayaknya."


"Gile lu, ndro. Kita 'kan sahabatan udah lama." Tampang Radit sangatlah aneh saat ini. Sementara Rana tersenyum bahagia sambil berkhayal.


Radit menepuk pipi Rana agar dia tersadar dari lamunannya. "Jangan mikir yang aneh-aneh, deh."


"Kenapa? Ya kita nikah aja, dit. Kan kalo nikah masih bisa sahabatan. Jadi konsepnya, kita nikah akad terus tinggal serumah tapi tetap sahabatan gitu. Dengan begitu cowok gak ada lagi yang mau dateng buat nyakitin gue. Hehehe pinter gak gue." Rana seperti mendongeng.


"Demi apa lo waras, Ran?" Sampai-sampai Radit mengecek suhu tubuh Rana dengan tangannya.


Rana segera menyingkirkan tangan Radit dari wajahnya. "Ya iyalah. Masa gila. Kok lu kayaknya gak suka sih? Apa jangan-jangan lu belok ya, dit? Deket sama cewek aja ga pernah."


"Gue kan jagain lo terus, maemunah. Mana sempet cari cewek. Lagian belom waktunya juga." Tegas Radit. Selama ini Radit tak pernah berkata demikian.


"Hayo lo berdua ngomongin nikah yeu..."


Septian, Kiki, Baihaqi, tiba-tiba muncul dari balik tirai. Mengagetkan keduanya yang tengah bercerita.


"Ya ampun kalian. Nguping ya???" tanya Rana.


Kiki memberikan bungkusan makanan kepada Radit. "Nih makan, lo pasti laper kan zeyeng."


"Iya nih dari tadi. Kalian masih muda udah ngomongin nikah aja.." sahut Septian.


"Tau, tuh. Tapi ga papa juga. Kalo udah beneran pasti, undang yaa." Timpal Baihaqi meledek.


"Ih. Kita masih muda. Mikirnya jauh amat. Cuma basa basi doang, kok." Rana mencubit Septian.


"Halah ngaku aja."


"Ah bacot."


Sementara itu, Radit tak ingin lagi mendengar percakapan unfaedah mereka. Dia langsung memakan nasi uduknya.


*** End

__ADS_1


***Terimakasih sudah membaca. :) Sampai jumpa di cerita saya selanjutnyaa.


__ADS_2