Rana

Rana
Pesta


__ADS_3

Sekitar dua puluh menit berlalu, Rana akhirnya selesai. Sekarang dia melihat tampilan dirinya di cermin dari atas sampai bawah. 


"Memang bener ya, cewek tomboy itu kalo udah dandan pasti ngalah-ngalahin yang feminim." Kak Ela berdecak kagum melihat Rana. Dengan riasan tipis dan perpaduan dress hitam selutut membuat Rana tampak anggun meski dengan rambut pendeknya. 


"Ih kakak, jangan gitu lah. Jadi gak enak." 


"Kamu pacarnya Devan?" 


Rana menggeleng malu. "Temen, Kak."


"Temen apa demen."


"Ahaha. Temen kak."


Ponsel Rana berdenting. Dia segera membaca pesan yang masuk, dari Devan. Cowok itu memberi tahu bahwa dia sudah di depan rumahnya. 


"Yuk turun ke bawah, Kak. Devan udah nunggu." Rana mengambil tas selempang kecil miliknya, lalu turun tangga bersama Kak Ela.


"Bang Iko gue pergi yaa. Jaga rumah yang bagus." 


Tiada sahutan dari Iko, mungkin cowok itu sedang boker. Pikir Rana. 


Rana dan Kak Ela bertemu dengan Devan di teras rumahnya. Devan tak bisa mengatakan apa-apa ketika Rana muncul di hadapannya. Dia terpaku beberapa detik.


"Rana, Devan, kakak pulang dulu ya. Pacar kakak udah jemput. Selamat bermalam minggu." Kak Ela pergi.


"Eh iya terima kasih banyak, Kak."Rana melambaikan tangan padanya sebelum  Ela benar-benar pulang. Kemudian memakai sepatu haknya. 


"Ini beneran elo, Ran?" tanya Devan tak menyangka Rana akan sangat cantik.


"Ya beneran lah. Masa kloningan gue. Kenapa? Kaget?"


"Jelas, dong. Kaget."


"Ya udah tunggu apa lagi, kita pergi sekarang." 


"Oke." 


Rana berjalan dengan sangat hati-hati. Meskipun sudah latihan tadi sore, tetap saja dia masih kaku. 


Devan membukakan pintu untuk Rana. Baru kemudian mobil hitam itu melaju. 


Jantung Rana berdebar kencang. Sebentar lagi mereka akan sampai. Rana cemas sekali, dia menggenggam kedua tangannya dengan erat.


Devan yang menyaksikan itu langsung bertanya. "Kenapa? Tegang banget kayaknya. Tenang aja, Ran, keluarga gue baik-baik, kok. Temen gue juga baik-baik. Nanti kalo lo mereka nanya lo siapa, tolong jawab pacar gue ya. Biar  gue bisa pamer, hehe." Menampakkan deretan giginya, Devan menyengir lebar.

__ADS_1


Entah kenapa Rana merasa ketika dia bersama Devan, dia tidak bisa menampakkan sisi aslinya yang cerewet, keras kepala, dan galak. Rana cenderung menjaga image. Padahal, Rana bisa saja menolak ajakan Devan. Dia tiba-tiba menjadi seorang penurut. 


"Terserah lo, Dev."


Devan mengamit tangan Rana yang sedari tadi dia kepal, lalu menciumnya. Membuat Rana membelalak dan langsung menarik paksa tangannya kembali. 


"Apaan, sih, Devan." Rana kesal, dia membuang muka menghadap ke luar jendela. Zidan saja tidak pernah melakukan hal yang tidak-tidak kecuali hanya menggandeng tangannya. Sekarang Devan yang belum memiliki hubungan apa-apa dengan Rana sudah berani mencium tangannya. Itu sangat menyebalkan.


"Eh lo gak suka ya? Sorry ya, Ran. Gue serius minta maaf udah keterlaluan." Devan membujuk Rana agar tidak cemberut lagi, namun Rana hanya diam saja. 


"Iya dah iya, gue maafin. Udahlah lupain aja."


"Nah gitu, dong. Nanti cepet tua kalo marah-marah." 


Rana mencubit pelan lengan Devan yang sedang menyetir. 


Akhirnya, Devan dan Rana sampai juga ke tempat tujuan. Tepatnya rumah Kakek dan Nenek Devan.


Rana terkagum melihat rumah mewah yang ada di hadapannya sekarang. Bahkan Rana merasa ini bukan rumah, melainkan gedung. Halaman depannya sangat luas, sudah seperti lapangan bola. Tamannya dihiasi lampu-lampu mewah.


Tamu-tamu sudah ramai berdatangan. Devan membawa Rana masuk dengan menggandeng tangannya. Cowok itu memiliki setelan jas berwarna senada dengan dress Rana.


"Pelan ngapa jalannya. Gue takut kecengklak nih." Protes Rana. Langkah Devan yang lebar sulit sekali diimbanginya. 


Tawa pelan Devan terdengar. "Iya iya, bawel amat."


Devan membawa Rana untuk naik ke atas pelaminan, menyalami sang pengantin lalu berfoto  bersama. 


"Kita ketemu Papa Mama gue dulu yuk." 


"Hah? Sekarang?" Rana memasang tampang bingung. Jangan tanyakan bagaimana perasaannya saat ini. 


"Iya lah, masa tahun depan." 


"Ma, Pa, ini pacar Devan."


"Halo tante, om." Rana tersenyum lantas menyalimi orang tua Devan dengan sopan. Sekarang Rana tahu bahwa Devan adalah anak sultan. Papanya sangat berwibawa meski wajahnya terkesan angkuh, Rana jadi ngeri sendiri.


Mama Devan mengangguk paham, matanya meneliti Rana dari ujung rambut sampai ujung kaki. Entah apa yang ada dipikirannya, Rana tak mengerti. Rana tersenyum kikuk.


"Ya sudah silakan kalian gabung sama yang lain, Papa Mama lagi mau ada tamu, nih." Suara Papa Devan terdengar tegas dan tak bisa dibantah. 


Devan mengerti, dia langsung membawa Rana ke meja lain. "Bokap Nyokap gue emang gitu, Ran. Jangan tersinggung ya."


"Iya, santai aja."

__ADS_1


"Woy, Van! Sini." Seru seorang cowok dari meja lain, Devan menoleh dan mereka menghampiri rombongan para cowok tersebut. 


"Weh, bro! Kalian datang juga yeu." Devan menyapa semuanya sembari tos ala laki-laki. 


Rana sangat canggung berada di acara itu. Nyatanya dia seperti orang asing yang masuk ke acara nikahan orang lain. 


"Datang, dong!"


"Kita 'kan bes pren."


"Meskipun lo udah pindah sekolah, kita tetep geng ya kan."


"Eh, by the way itu pacar lo, Van?" tanya seorang cowok berbaju batik lengan panjang. Dia menunjuk Rana yang berdiri di belakang Devan.


"Ah iya, ini pacar gue. Kenalin namanya Rana." Devan menggenggam tangan Rana lagi. 


Senyuman canggung Rana berikan kepada semuanya, tak lupa sembari melambaikan tangan. "Hai, nama gue Rana." 


"Hai juga."


"Gercep banget lo ya, Van. Salut gua."


"Tumben selera lo cewek tomboy." 


Devan langsung menyahut. "Dia gak manja."


Cowok berambut keriting mengangkat tangannya. "Terus yang onoh dikemanain, Van?"


Cowok berjas biru tua membungkam mulutnya dengan tangan. "Ember amat lu."


Beribu pertanyaan memenuhi kepala Rana. Yang 'onoh' mana maksud dia? Keningnya mengkerut. 


"Ah gak jelas amat lo pada. Ya udah, deh PACAR gue pegel berdiri mulu. Kami pergi duduk dulu ya, gengs. Bye."


Devan mengajak Rana untuk duduk di taman belakang yang juga dipenuhi undangan. Meskipun tak sebanyak di dalam. 


"Mau makan apa? Aku ambilin ya, tunggu disini." Baru saja Devan akan bangkit dari duduknya, Rana dengan cepat memegang tangannya. 


"Maksud temen lo tadi apa ya? Yang onoh itu maksudnya siapa, Dev?" Tatapan Rana serius ingin tahu. 


Devan mengelus pundak Rana. "Mantan gue." Setelah mengatakan jawaban singkat itu, Devan beranjak pergi mengambil makanan untuk mereka. 


Rana beroh ria saja mendengarnya. Hampir saja Rana menuduh Devan yang tidak-tidak. Sembari menunggu Devan kembali, Rana melihat sekelilingnya. Tamu yang datang sungguh dari kalangan atas semua. Merasa bosan, Rana memainkan ponselnya.


"Rana, lo di sini?" Suara itu berasal dari belakang Rana, suara yang sangat familiar bagi seorang Rana. 

__ADS_1



__ADS_2