Rana

Rana
Belum usai


__ADS_3

Setelah makan, Rana dan Radit menghabiskan waktu satu jam untuk menaiki wahana seram seperti menaiki bianglala, kora-kora dan menguji keberanian dengan memasuki rumah hantu.


Keduanya sama sekali tidak takut dengan tiga macam itu. Jadi mereka flat-flat saja, gak ada seru-serunya. Akhirnya, Rana mengajak Radit membeli gulali dan beberapa jajanan lainnya. Lalu kemudian pulang.


"Bosen banget, gak ada serem-seremnya." Kata Rana sambil memakai helm yang disodorkan Radit.


Radit berdecak. "Halah, nanti diajak ke wahana yang lebih ekstrim lo ngompol lagi."


Raut wajah Rana langsung cemberut. "Enak aja, gue gak secemen itu kali."


"Ya udah gih naik, pegangan yang kuat." Radit menyalakan motornya.


Rana naik dengan memegang kedua bahu Radit, kemudian dia menyuruh Radit segera berangkat.


****


"Sampe.."


"Ahahaha. Udah kayak tukang ojek pengkolan aja lu. Nih helmnya."


"Gue 'kan malam ini lagi cosplay jadi kang ojek. Udah ya gue pergi dulu. Assalamualaikum ughtea."


"Walaikumsalam." Rana tertawa dan meninju Radit sebelum motor cowok itu melaju.


Langkah Rana memasuki rumah. Dan ternyata tidak ada siapa-siapa. Rana juga bingung, padahal kata Iko teman-temannya akan datang.


Menghela napas lelah, Rana langsung masuk ke kamarnya. Rana kemudian melihat pantulan dirinya di cermin.


Dia menangis lagi mengingat kejadian tadi. Jujur saja, tidak mudah bagi Rana bisa melupakan itu semua. Apalagi, Rana mulai menyukai Devan secara perlahan.


Rana sangat bersyukur sekali, Tuhan masih mengizinkan dia untuk berbaikan lagi dengan Radit. Semua terjadi begitu saja.


Setelah puas menangis, Rana menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Menatap langit kamarnya lama, lantas mulai masuk ke alam mimpi. Melupakan sejenak rasa sakit yang ada, melupakan sejenak kekacauan yang terjadi malam ini, dan melupakan sejenak penampilannya yang sangat kacau. Rana hanya butuh istirahat saat ini.


****


Hari minggu hanya Rana habiskan dengan menonton film animasi di kamarnya. Dia nyaris mengurung diri di kamar seharian. Ketika mamanya menghampiri ke kamar, Rana masih berbaring di kasur. Mama dan Papanya akan pergi ke luar kota pagi ini dan akan pulang malam hari.


Sementara itu, Iko menginap di rumah temannya. Jadilah Rana tinggal di rumah sendirian. Mereka tidak punya asisten rumah tangga, hanya ada Pak Satpam yang menjaga di depan rumah mereka.


Meski begitu Rana tak bosan. Selagi koneksi wifi lancar, cemilan banyak, dan kasur empuj yang senantiasa menemani, Rana tidak masalah ditinggal sendirian.


"Ah ribut mulu, nih hape. Pasti notif gak penting."


Rana sedang malas berurusan dengan orang lain dulu untuk sementara waktu, dia kesal. Dimasukkannya benda pipih itu ke dalam laci meja belajar setelah menonaktifkannya.


Kembali ke kasur, Rana menyelimuti dirinya dan menonton film.

__ADS_1


****


Hari Seninnya.....


Paginya Rana datang agak cepat. Bahkan saat mamanya menawarkan sarapan, Rana menolak. Santya juga bertanya pada Rana mengapa matanya sedikit bengkak pagi ini, dan Rana hanya mengatakan tadi malam dia menangis sehabis menonton film sedih. Ya, itu memang benar adanya.


"Rana, Pak Bondan ngajak kita semua makan-makan di restoran, buat ngerayain kemenangan kemarin. Mau gak?" tanya Sevi. Dia sekarang duduk satu bangku dengan Rana, sejak Radit dan Rana menjauh.


Rana yang sedang menyalin catatan lantas menoleh. "Lah? Kok gue gak tau ya?"


"Ya ampun, Rana. Emangnya lo ada buka hp?"


Menepuk jidatnya pelan, seakan baru mengingatnya. "Oh iya, gak ada. Hehe." Perihal kejadian kemarin, Rana jadi malas membuka hp. Bahkan tak sedetik pun dia sentuh.


"Tuh, kan. Kita semua ada ngomongin di grup."


"Iya deh iya. Jadi kapan dan di mana?"


"Besok siang, sih. Pulang sekolah. Di rumah makan deket persimpangan jalan besar itu loh. Lupa gue namanya apa, nanti gue kirim aja lokasinya."


Rana mengangguk paham. "Sip. Gue boleh bawa Radit, kan?"


Mata Sevi membelalak. "Etdah, lu berdua udah baikan? Kapan? Di mana? Dan karena apa?"


Pertanyaan beruntun itu membuat Rana memasang tampang datarnya. Menyesal dia sudah memberitahu Sevi. Untungnya, seisi kelas masih sepi, hanya ada si couple kutu buku. Radit juga belum datang.


"Kagetnya biasa aja dong. Mata lo juga mau keluar tuh dari sarangnya."


Rana mengangkat bahunya acuh, kemudian dia melanjutkan menulis. Tak berniat menjawab Sevi, karena itu pasti akan heboh.


" Rana, gue nanya." Sevi gemas sendiri diabaikan. Dia menggoyangkan tangan Rana agar tulisannya tercoret. "Rana, ih."


"Lo tuh ya. Gue nanya boleh gak bawa Radit. Lo malah nanyain balik, kesel gue. Gue tuh gak bisa cerita atau curhat, gak bisa curhat gue."


"Iya, boleh. Ran. Ya udah gue paham, kok. Lo cuma bisa curhat sama Radit doang ya, kan." Sevi jadi meledeknya.


Menit demi menit berlalu, Rana masih berkutat dengan catatan sejarahnya. Bahkan ketika kelas sudah ramai.


Radit masuk kelas, cowok itu tak sedikit pun meliriknya. Dia langsung duduk di kursi, Kiki, Baihaqi, Septian menyambutnya dengan heboh. Rana heran, bukannya tadi malam mereka sudah berbaikan? Lantas ada apa dengan Radit?


Tak lama kemudian, orang yang membuatnya jengkel masuk. Rana menatap tajam Devan, tangannya meremas pulpen yang ada digenggamannya dengan kuat.


Sementara yang ditatap hanya tersenyum sok manis ke arahnya sambil melambaikan tangan. Oh Tuhan, itu sangat menyebalkan bagi Rana. Sepertinya Devan harus dia banting agar cowok itu sekarat.


"Rana, udah pandang-pandangannya sama Devan. Bu Rini udah masuk, tuh." Sevi memegang bahu Rana.


Helaan napas kasar Rana keluarkan. Emosinya harus dia tahan mau tidak mau. Kalau saja Bu Rini tidak ada, sudah habis Devan detik ini juga.

__ADS_1


❤❤❤


"Kantin bareng kita lagi? Kuy lah, Ran, Sev." Ajak Yanti dan Ranti berbarengan.


Sevi setuju, Rana juga. Tapi, dia meminta waktu sebentar untuk membereskan barang-barangnya.


"Hai, Rana. Kantin?" Diluar dugaan, Devan menghampiri meja Rana. Dengan santainya dia berkata seperti itu sembari tangan masuk ke saku celana.


Napas Rana naik turun menahan amarah yang memuncak. "Masih punya muka ya? Gak malu masih muncul di hadapan gue dan ngajak ke kantin?" Tatapan membunuh Rana tujukan pada cowok di depannya.


Devan tertawa kecil, tangannya bersidekap. "Ya masih lah, lo kan calon pacar gue."


"PACAR? HAH! OTAK LO DI MANA, DEVAN!!?? LO BOHONGIN GUE!!" Bentak Rana sambil mendorong kuat tubuh Devan, membuat Devan termundur beberapa langkah.


Seluruh warga kelas menaruh perhatian pada mereka. Masih ramai, mereka menunggu beberapa menit baru akan ke kantin. Terutama Radit dan gengnya.


Sevi, Yanti, dan Ranti yang masih tak mengerti apa yang terjadi segera melerai dan menenangkan Rana.


"Rana, tenang. Jangan emosi dulu." Sevi memegang lengan Rana, sedangkan Rana segera menepisnya.















__ADS_1


❤Jangan lupa tinggalkan komen, like, *dan vote ya 🤗


❤Bab menuju ending nih. Terima kasih sudah men-support. Oh iya, baca cerita saya yang lainnya juga ya*****...


__ADS_2