
Radit dan Rana akhirnya hampir menyelesaikan tiga puluh putaran. Namun, disaat akan mencapai angka tersebut, tiba-tiba tubuh Rana terjatuh dengan sendirinya.
"RANA!" Radit panik. Dengan cepat dia menggendong Rana, membawanya ke UKS. "Ran, lo kenapa?"
Mata Rana sedikit terbuka. Cewek itu setengah sadar. Membuka mulut saja rasanya susah.
Langkah Radit sampai di UKS. Tanpa butuh waktu lama lagi, dia segera memanggil penjaga UKS. "Kak, kasih dia obat sekarang!"
Rana berbaring di brankar yang ditutupi tirai hijau.
Kak Mia-Penjaga Uks langsung memeriksa keadaan Rana. Sementara itu, Radit duduk di kursi dekat brankar Rana. Menyingkirkan rambut-rambut yang menghalangi dahi Rana dengan khawatir. Bagaimana tidak, wajah Rana sangat pucat saat ini.
"Dia drop banget. Kalian habis olahraga, ya?"
"Iya. Olahraganya keliling lapangan." Radit berterus terang.
"Kamu belum makan pagi, ya dek?" Mia bertanya pada Rana. Cewek itu hanya mengangguk lemah sebagai jawaban.
Radit terkejut mendengarnya. "Gilak. Pantes aja."
"Sebentar ya, kakak ambil obatnya dulu. Kamu lebih baik beliin dia makanan sekarang, dek." Ucapnya menunjuk Radit lalu pamit sejenak.
"Tunggu disini! Gue beli makanan buat lo." Tanpa mengharapkan jawaban Rana, dia langsung saja berlari menuju kantin. Meninggalkan Rana yang lemah, perlahan dia tertidur.
Selang beberapa menit kemudian, Radit kembali dengan membawa kantong plastik.
Napasnya ngos-ngosan, dia berlari sangat kencang.
"Ran. Bangun. Hey makan dulu baru tidur." Tangannya menepuk-nepuk pipi Rana agar dia bangun. Dan ternyata berhasil, perlahan kelopak matanya mulai terbuka.
"Mana makanannya?"
Radit duduk dan menaruh kantong plastik berisi makanan itu di atas nakas. Kemudian, membukanya. "Duduk dulu." Dia membantu Rana untuk duduk dan bersandar di kepala brankar.
"Gue udah beli air hangat, nasi uduk, dan beng-beng. Lo suka beng-beng pasti." Radit membuka bungkusan nasi dan mulai menyuapi Rana. Dia melirik obat yang Mia letakkan. "Abis itu minum obat, com."
Rana memijat kakinya sendiri. "Kaki gue pegal banget, Ikan. Rasanya mau patah."
"Ya elah oncom. Lagian kenapa lo gak makan pagi, sih? Kesel gue. Biasanya lo selalu sarapan. Apa mungkin karena telat?" Radit ikut makan. Jadi, satu bungkus nasi mereka makan berdua. Hemat adalah prinsip hidup Radit.
Helaan napas Rana terdengar. "Iya. Buru-buru banget."
__ADS_1
Suapan nasi kembali Radit berikan. "Gue bingung mau nyalahin siapa. Bu Yuni juga keterlaluan ngasih hukuman. Setingkat gak bikin PR aja sampe tiga puluh putaran. Udah gitu lapangannya juga luas banget. Bu Yuni emang parah, sih." Radit terus menggerutu sampai Rana mencubitnya pelan.
"Buruan suapin gue. Laper, nih. Lo gak perlu nyalahin siapa-siapa, dit. Ini salah gue sendiri." Rana membuka mulutnya lebar-lebar, meminta suapan.
Radit menurutinya. "Lo makan sendiri aja ya, Ran. Gue udah kenyang." Diberikannya bungkusan nasi itu ke Rana.
"Dasar cowok. Pas udah kenyang gak mau lagi nyuapin gue." Akhirnya Rana makan sendiri. Tenaganya sudah mulai pulih meski masih lemas. Apalagi kakinya yang seperti ingin copot.
"Gue mau ke koperasi dulu. Beli minyak kayu putih buat lo." Radit pergi.
"Radit Radit, lo udah kayak abang gue. Iko aja gak pernah gini." Gumamnya pelan. Rana cukup tersanjung dengan perlakuan Radit kali ini. Biasanya cowok itu sangat pelit dan hemat, kecuali saat Rana sakit seperti sekarang.
****
"Pak Gus! Minyak kayu putih yang kecil satu ya."
Hanya ada Radit di sini. Bersama beberapa penjaga koperasi lainnya. Pak Gus adalah pemilik koperasi, yang lain hanya asisten.
Pak Gus yang langsung memberikannya pada Radit. Kemudian, Radit membayarnya.
"Dit, kok kamu keluar pas jam belajar? Emang gak masuk kelas?"
"Biasalah, Pak. Ada urusan bentar. Kebetulan teman saya sakit perut, jadi dia nitip ini. Hehe. Pergi dulu ya, Pak."
Saat akan melewati koridor kelas satu, Radit ditabrak dari belakang oleh seseorang. Membuatnya tersungkur.
"Aduh!" Radit berdiri dan menatap sang pelaku dengan tampang kusut. "Hati-hati dong kalo jalan. Masa badan setinggi gue gak keliatan, sih."
Yang menabrak adalah seorang cowok. Tingginya sama dengan Radit. Memakai baju kemeja lengan panjang dan membawa beberapa lembar surat yang sepertinya penting.
"Sorry, mata gue cuma bisa lihat orang cakep doang. Kalo orang jelek kayak lo jadi rabun seketika."
Sebenarnya Radit itu termasuk cowok tampan. Fansnya juga lumayan banyak, sama seperti Rana. Tapi orang yang menjadi lawan bicara Radit ini memang terkenal sombong.
Radit menatapnya sinis. "Gile lu. Sok banget jadi orang. Gue ganteng tau. Lo masih kalah cakep sama gue."
Cowok itu tertawa meremehkan. "Orang ganteng gak akan bilang dirinya ganteng. Muka gue masih jauh lebih ganteng." Setelah mengatakan itu, dia pergi begitu saja.
"*****. Anak mana, sih dia itu. Omongannya setinggi pohon kelapa. Hilih."
***
__ADS_1
"Lama banget lo, Ikan. Makanan lo udah abis semua nih. Tenaga gue udah full. Walaupun badan masih lemes."
Radit memberikan minyak kayu putih yang dibelinya tadi pada Rana. "Nih."
Rana segera membuka stokingnya, dan memijat kakinya sendiri. Tenang, lagi pula rok Rana dibawah lutut, kok. Jadi aman-aman saja meski ada Radit.
"Haduh. Lo tau gak tadi gue ketemu orang sombong sejagat raya. Jadi, maklum aja lama. Soalnya adu bacot dulu. Kesel gua." Ujarnya bersungut-sungut.
"Emang lo gak kenal siapa orangnya?"
"Enggak, Rana. Gue gak tahu. Dia ga pake seragam."
Rana tertawa melihat Radit yang kesal. Menurutnya itu sangat lucu. "Dia bilang apaan?"
Lantas Radit mulai menceritakan. Rana terkikik geli mendengarnya.
"Kok lo ketawa, sih?"
"Gitu aja emosi. Lebay amat."
"Dih. Shombong amat." Ketus Radit.
Rana berdehem pelan. "Ikan, gue kan pulang sekolah nanti ada latihan basket. Lo pulang duluan aja ya."
Radit segera menyanggahnya. "Gak. Lo kan masih lemas. Jangan gila, deh ya. Nanti mama lo ngira gue gak jagain anaknya."
"Ih, Radit. Bulan depan ada lomba. Kemarin gue rapat pulang sekolah ya karena bahas lomba ini. Udah santai aja. Gue udah agak mendingan, kok."
"Ya udah tapi lo gak usah masuk kelas lagi. Istirahat aja di UKS. Nanti gue bilang guru yang ngajar, deh. Biar pas pulang tenaganya udah terkumpul semua."
Tanpa aba-aba, Rana memeluk lengan Radit sebelah tangan. Dia pura-pura terharu. "Huhuhu. Radit Ikan. Lo baik banget sama gue. Jangan terlalu baik sama gue, dit. Jadi bingung ini gue mau balasnya gimana."
"Apaan, sih Com. Lepas gak." Radit risih. Dia merasa seperti ketempelan setan.
Rana melepaskannya. Menatap Radit dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya melengkung ke bawah.
Radit pikir Rana hanya bercanda mengatakannya. Dia jadi merasa kikuk. "Eh, lo terhura beneran? Gue merasa jadi manusia paling berharga tau gak pas lo bilang gitu."
"Kenapa? Gue 'kan gak naruh harga sama lo."
"Bukan itu, maemunah. Kayak udah pahlawan berjasa banget gue dibilang begitu. Ehehe, berasa superhero."
__ADS_1
Tatapan datar Rana berikan. "Omongan lo gak ada yang berfaedah, Kan. Sumpah. Jadi males gua, padahal udah mau mellow tadi."