
Rana tidak sempat sarapan pagi karena terlambat bangun. Setelah berpakaian dengan rapi, Rana segera pamit dan pergi ke sekolah secepatnya meski mamanya memaksa agar Rana makan walaupun sepotong roti saja.
Sekarang pukul tujuh lewat lima belas. Itu artinya, lima belas menit lagi pintu gerbang sekolah akan ditutup. Rana kebut-kebutan sekarang. Untungnya dia menggunakan motor, sehingga bisa menyelip di antara jalanan yang macet padat kendaraan.
Jika orang melihat dari luar, Rana tampak seperti laki-laki. Pakai jaket hitam sampai menutupi kepala, masker hitam juga tak lupa dia pakai. Rok yang digunakannya pun sudah tidak seperti rok, Rana memakai stoking yang panjang. Sayangnya, motor Rana adalah bukan motor gede, melainkan motor matic. Sebenarnya Rana ingin dibelikan motor cowok, namun Papa dan Mamanya melarang.
Beberapa saat kemudian, motor Rana masuk ke pekarangan sekolah. Memarkirkannya dan menaruh helm di tempat penitipan helm.
Bola matanya melirik arloji yang ada di tangannya.
"Gilak. Lima menit lagi, cuy." Secepat kilat kaki Rana berlari ke kelasnya. Dia tidak mau terlambat dan kena hukuman. Itu terlalu merepotkan.
Akhirnya, Rana sampai di kelasnya. Dengan napas terengah-engah Rana berjalan gontai ke bangkunya yang sudah ada Radit di sana, cowok itu tengah mengobrol dengan Aden.
"Haduh. Mati gue mati. Hampir aja gue mati. Huh." Rana terduduk lemas dengan jaket masih dipakainya.
Aden pergi, Radit membalikkan badan ke arah Rana. "Telat 'kan lo. Buka dulu jaketnya woy. Lo begadang apa gimana, sih kok bisa sampe terlambat. Nonton drama lagi lo ya."
Ini masih pagi, tapi Radit sudah mengoceh ria. Membuat Rana jadi kesal sendiri. "Ih. Cerewet amat sih lo. Gue kecapekan kemarin, makanya keenakan bobo." Rana melepas masker dan jaketnya, melipat lalu menaruhnya di laci meja.
"Really? Jangan-jangan lo sempat adu jotos sama Zidan, ya? Jawab jujur, Ran." Tatapan Radit mengintimidasi sekali.
Rana menepuk wajah Radit sembari tertawa. "Bambang, kalo gue sama dia sempat tonjok-tonjokan, udah pasti sekarang gue babak belur. Terakhir Zidan hampir nonjok gue itu pas dia mutusin gue. Setelah itu udah, gak pernah lagi. Santai, dit." Cewek itu memijat bahu Radit dengan kedua tangannya, berusaha menghilangkan emosi Radit.
Kepala Radit mengangguk, kali ini dia percaya sama Rana.
"Ya udah deh, gak usah bahas-bahas lagi cowok *** itu. Eneg tau gak, kayak makan kepiting sepuluh kilo."
Berhasil, lawakan receh Rana sukses membuat Radit tertawa. "Apa hubungannya, maemunah? Lo emang receh, Ran."
Rana tersenyum senang.
Bu Yuni masuk ke kelas dengan mengucapkan salam. Seluruh siswa di kelas itu segera duduk di tempat masing-masing. Lantas menjawab salam dengan serempak.
"Anak-anak, kalian sudah tahu, kan ada tugas apa hari ini?"
"Sudah, bu."
__ADS_1
"Belum, bu."
"Baik, kumpulkan semua."
Rana menepuk jidatnya sendiri. Demi Tuhan, dia benar-benar lupa mengerjakannya. Meskipun tadi malam dia bilang tak akan mengerjakannya, tapi Rana sudah niat akan mengerjakannya walaupun dengan asal-asalan. Yang penting buat, katanya. Rana tidak pernah meminta pada Radit, percuma karena cowok itu pasti kekeuh akan mengajarinya. Dan Rana menolak, dia tidak suka pelajaran hitung-hitungan.
"Ran, lo udah buat, kan? Oy!" Radit sengaja mencolek Rana dengan sikunya.
Rana seketika tersadar dari lamunannya. Menoleh ke Radit, dan tersenyum masam. "Belum. Gue kelupaan. Biasanya gue buat, ya walau asal buat. Tapi kali ini emang gak inget, dit. Gimana, dong." Rana mulai bergerak gelisah. Bu Yuni adalah guru yang kejam dan galak. Beliau tidak segan-segan menghukum siswa yang melanggar peraturan, termasuk tidak buat PR. Dan hukumannya pun tak tanggung-tanggung, lebih menyiksa dari hukuman guru yang lain. Rana sudah dua kali kena dan sepertinya sekarang Rana terhukum lagi. Akhirnya, dia pasrah saja.
Padahal, Radit sudah bersiap akan mengumpulkannya di meja guru. Dia kesal dengan Rana, alisnya bertautan. "Lo sih, gara-gara badmood jadi lupa PR. Lo emang bego. Entar lo kena hukuman, Ran."
"Oke, ga papa. Gue terima dengan lapang dada hukuman ini. Lo kumpul aja cepetan sana!" Rana mendorong-dorong Radit.
Bukannya segera bangkit, Radit malah menyimpan kembali buku tugasnya ke dalam tas. Membuat Rana melotot melihatnya.
"Lo ngapain, oncom? Kok malah dimasukin ke tas?"
Radit menaikkan bahunya santai. "Gue temenin lo."
"Aw! Apaan, sih."
Rana cemberut, dia lebih memilih diam. Menopang dagunya dengan kedua tangan, menunggu namanya dipanggil dan bersiap menjalani hukuman.
"Woy! Kok lo malah ngambek, sih. Harusnya senang dong gue temenin."
"Serah, deh. Bete gua."
Radit menghela napasnya. Sungguh, Radit benar-benar tidak mengerti jalan pikir Rana. Dia yang tidak buat PR, dia juga yang mendiamkan Radit. Dasar cewek moody-an.
"Jumlah siswa di kelas ini ada tiga puluh. Di absen, hari ini semuanya hadir. Hanya ada dua orang yang tidak mengumpulkan tugas saya. Siapapun yang merasa, tolong angkat tangan kalian. Saya tidak mau tunjuk. Biar mereka yang mengaku sendiri." Perintah Bu Yuni tegas. Satu kelas terdiam, menanti siapa yang akan mengaku.
Dengan santainya Radit mengangkat tangannya ke udara. Sementara Rana dengan takut-takut mengangkatnya. Rana tak hentinya mengumpat dalam hati, sepertinya keberuntungan tidak berpihak padanya lagi hari ini.
"RANA, RADIT! Maju ke depan!"
Semua perhatian terpusat pada dua orang itu.
__ADS_1
Radit bangkit dari duduknya. Dengan memegang pergelangan tangan Rana, Radit berjalan ke depan papan tulis. Raut wajahnya datar. Radit tidak malu sama sekali, karena ini juga pertama kalinya dia dihukum Bu Yuni.
Kecuali Rana yang menundukkan kepalanya dalam-dalam. Rana selalu begitu jika kena hukuman atau kena teguran dari guru. Terlebih di depan semua orang.
"Kenapa kalian tidak buat PR?" Bu Yuni berdiri di dekat meja guru, tangannya ditaruh dibelakang. Tatapannya tetap mengintimidasi.
"Saya dan Rana kemarin sibuk tanding, Bu. Jadi kami berdua lupa ngerjainnya." Radit menjawab dengan tenang.
"Loh kok barengan? Kalian berdua pacaran?" Ternyata Bu Yuni jadi curiga yang tidak-tidak karena perkataan Radit. Rana mengumpat lagi dalam hati. Radit selalu memakai alasan bodoh.
"Enggak, Bu. Enggak." Dengan sigap Rana menjawab sembari mengibas-ngibaskan tangannya.
"Mereka sahabat rasa pacaran, Bu."
"Radit, kan bucinnya Rana. Begitu pun sebaliknya. Makanya kompak, Bu."
"Huu, Radit bucin."
Banyak sahutan terdengar, membuat Bu Yuni jadi pusing. "Hei, sudah-sudah!"
"Hadiah untuk kalian adalah keliling lapangan tiga puluh kali. Kalau sudah selesai, jangan masuk ke kelas sebelum pelajaran saya habis. Saya akan kasih laporan ke Pak Lutfi, dan Pak Lutfi akan memantau kegiatan kalian. Jadi kalian tidak bisa curang. Sudah cepat kerjakan!"
"Baik, Bu." Radit segera membawa Rana keluar kelas, berjalan menuju lapangan bola yang sangat luas itu.
Rana terdiam lesu. "Ini salah gue. Maaf ya, Bambang. Karena lo sahabatan sama gue jadinya lo juga kena."
Sekarang mereka sudah di tengah lapangan. Sinar matahari pagi menyapa kulit mereka.
Radit menghadap Rana. "Kurang kerjaan tau gak, sih. Pake minta maaf segala. Udah lo tenang aja. Yang penting lo udah ada temennya kan sekarang. Ayo cepetan lari!"
Tanpa banyak bicara lagi, Rana mengikuti langkah lebar Radit. Langkahnya lemah, Radit menyaksikannya.
"Lemas amat, bray. Katanya cewek strong, ayo dong!"
"Pelan-pelan, dit. Gue ga bisa buru-buru."
Karena Radit tak tega, jadi dia berlari beriringan dengan Rana.
__ADS_1