
Melihat herdian terus menegak minuman tanpa henti sebagai teman yang baik aditya pun perlahan mengorek keterangan sahabatnya yang terlihat frustasi itu.
"Kau ada masalah?"
"Pikiranku sedang buntu" jawab herdian seadanya dan melanjutkan menuang minuman.
"Ada yang bisa aku bantu?"tanya aditya.
"Orang tuaku terus meminta cucu"
"Berilah"
"Ngomong itu mudah" jawab herdian.
"Kau ada masalah dengan seksualitasmu?"tanya aditya dengan nada bercanda.
"Aku juga tidak yakin" jawab herdian lalu meletakkan gelas yang telah kosong lalu menatap wajah sahabatnya.
"Maksudmu?"
"Aku bingung harus mulai dari mana"
"Kau bisa cerita apa pun padaku"
"Aku akui aku juga salah karena sebelumnya aku tidak dewasa" kata herdian.
"Aku tidak mengerti maksudmu"
"Aku dan nuria menjalin hubungan semenjak kuliah dan kami kebobolan" jawab herdian.
"Lalu?"
"Aku dan nuria terlalu takut untuk menjadi orang tua karena usia kami yang masih muda"
"Kalian melakukan aborsi?" tanya aditya lagi.
__ADS_1
"Tidak,nuria memberikan anak yang baru saja dilahirkan"
"Ambil kembali anak itu,bereskan?"
"Tidak semudah itu,wanita yang mengasuh menolak untuk menyerahkan anak kami"
"Beri dia uang"
"Dia menolak walau pun nuria menempuh jalur hukum" jawab herdian lalu menegak habis minuman yang ada di gelasnya.
"Kalau minta secara baik-baik dia menolak maka rebut dengan paksa"
"Ide bagus" jawab herdian.
"Aku cabut dulu istriku sedang menunggu dirumah" pamit aditya.
Melihat aditya pergi setelah membayar minumannya herdian pun meninggalkan tempat dimana ia minum.
"Dari mana saja?kau minum banyak?"
"Tidurlah"
"Hemmm" jawab herdian seadaanya.
Nuria keluar dari kamarnya dengan membawa ponsel miliknya.Nuria menuju taman untuk menghubungi seseorang.
"Bagaimana?"
"Setelah menemukan jalan aku akan membawa anak itu kehadapanmu"
"Aku tidak mau menunggu lama"
"Baik bos segera akan aku bawa kehadapan bos"
Sementara rana yang sedang bersama tami pun menceritakan semua dan dengan lapang dada tami bersedia menerima anak yang selama ini rana asuh.
__ADS_1
"Bawa anak itu bersamamu aku akan menganggapnya seperti anakku sendiri"
"Apa kau yakin?" tanya rana lagi.
"Ya,secepatnya pindah kerumahku"
"Baiklah aku akan membawa lintang bersamaku,maukah kau membantuku pindah?"
"Tentu kau bisa menghubungiku kapan pun"
"Terima kasih" rana pun menggenggam tangan tami dengan perasaan bahagia.
"Besok aku akan menjemputmu,bagaimana menurutmu?"
"Semakin cepat semakin baik,aku ingin malam ini pergi agar orang tua kandungnya tidak bisa menemukan keberadaan kami"
"Ayo kita berangkat sekarang" ajak tami dan rana pun menuruti perkataan tami dengan mengikuti masuk kedalam mobil.
Setelah berpamitan rana pun pergi setelah tami menggendong lintang untuk di tidurkan di mobil dan secepat kilat mobil tami pun menghilang dari pandangan wanita paruh baya yang selama ini telah menjaga dan menganggap rana seperti anaknya sendiri.
"Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu rana"
Selama dalam perjalan tami terus menggengam tangan rana.Rana yang terlihat cemas itu pun hanya tersenyum melihat tami berusaha membuatnya nyaman.
"Terima kasih" rana pun tersenyum ke tami.
"Sama-sama sayang" jawab tami.
Dengan berhati-hati tami pun menggendong tubuh lintang agar anak laki laki itu tidak bangun.setelah itu tami pun mengajak rana ke kamar untuk beristirahat.
"Bagaimana?masih sama?"
"Ya tidak ada yang berubah sedikit pun"jawab rana.
"Kita akan memulai semuanya dari awal lagi"
__ADS_1