Rana

Rana
Devan


__ADS_3

Akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Radit berjalan ke UKS dengan membawa tas Rana. "Woy dit!" seorang cowok menepuk pundak Radit dari belakang. Membuat Radit tersentak. "Oy! Aelah, Diki. Ngagetin aja lo."


Mereka berjalan beriringan. Diki mengikuti kemana langkah Radit. Matanya melirik tas yang dipegang Radit, tas cewek.


"Itu tas cewek lo?" 


"Ya enggak lah. Ini tas Rana. Gue mana punya cewek."


Beberapa detik kemudian Diki tertawa terbahak. Radit jadi jengkel. "Apa yang lucu bro?"Diki menepuk-nepuk bahu Radit, seperti bangga. "Bucin level dewa lo." Dia tersenyum mengejek. 


"Dih. Bucin apaan? Rana itu sahabat gue. Dia lagi sakit di UKS karena hukuman keliling lapangan dari Bu Yuni. Udah ah gue duluan. Bye." Radit pergi begitu saja, meninggalkan Diki yang bengong.


"Tinggal bilang cinta aja susah amat sih. Gengsi digedein," gumamnya ketika punggung Radit sudah menjauh. 


****


"Rana, orang tampan datang... Nih tas lo." Tas itu langsung dilempar Radit ke pangkuan Rana yang sedang duduk bersender. 


"Orang tampan apaan. Sekarang jam berapa?" tanya Rana sambil memakai sepatunya. Kondisinya sudah lumayan membaik.


"Jam dua. Kan udah pulang sekolah." 


"Ya udah gue ke loker dulu ya. Mau ambil kaos sama celana olahraga. Abis itu gue langsung ke lapangan basket." Rana turun dari brankar perlahan.


Radit menahannya. "Eh eh emang lo udah sanggup apa? Sini, biar gue aja yang ke loker. Terus lo tinggal nunggu aja di depan toilet cewek. Badan lo masih sakit, Ran." 


"Lah? Yaudah deh."


****


Di sinilah mereka sekarang, di lapangan basket yang berada di ruangan tertutup. Untungnya, sih. Coba kalau terpapar sinar matahari, bisa pingsan lagi Rana. Setidaknya Radit tidak perlu repot-repot menggendong cewek tomboy itu. Bukannya Radit lemah, hanya saja Rana keberatan tulang. 


"Gue tunggu di sini aja. Jagain barang-barang lo. Udah gih ke lapangan terus." Radit duduk di bangku penonton. 


"Pulang aja, dit. Nanti mama lo nyariin karena pulang telat. Gue sampe jam empat loh di sini. Lama, Ikan." Rana tetap memaksa Radit untuk langsung pulang meski radit tetap kekeuh akan menemaninya sampai selesai. 


"Gak, gue tunggu lo." Radit membuka ponselnya dan mulai bermain PUBG. "Pergi cepetan, Ran. Kelamaan lo. Yang lain udah nunggu."

__ADS_1


Akhirnya, Rana pasrah. "Terserah deh." Dia segera berlari ke tengah lapangan.


Sembari menunggu Rana istirahat, Radit pergi membeli makanan untuk mereka berdua makan. Ketika kembali, Radit terkejut melihat Rana sedang mengobrol dengan seorang cowok di tempat Radit duduk tadi. 


Keningnya berkerut, sebab dia tidak mengenal orang itu. Tapi sepertinya Radit tidak asing dengan dia. Cepat-cepat dia menghampiri keduanya. 


"Rana, gue beli makanan nih?" Radit menunjukkan kantong plastik yang dibawanya. "Hah? Elo?"


Rana dan cowok itu menoleh bersamaan. Kemudian, serentak berdiri.


"Eh, gue kira lo pulang." Rana merebut kantong plastik berisi makanan tersebut. "Thanks ya kebetulan gue laper."


"Devan." Cowok asing itu mengulurkan tangan pada Radit. 


Sementara Radit hanya diam sambil menatapnya sinis. Dia menolak bersalaman. "Gue gak nanya nama lo. Lo yang sok ganteng tadi kan? Udah nabrak orang bukannya minta maaf malah ngajak berantem." Radit menarik Rana agar berdiri di sampingnya. 


"Lo kenal dia, Ran?" tanya Radit.


"Kita baru kenalan tadi. Jangan marah-marah, dit. Dia itu murid baru di sini. Devan ternyata udah jadi dijadikan pelatih kedua sama Pak Bondan. Skill dia berarti udah hebat banget," jelas Rana bersemangat. Tersenyum ke arah Devan.


"Terus ngapain dia ngobrol berdua sama lo?" Radit masih penasaran. Takut-takut Devan punya niat buruk terhadap Rana. Apalagi, Rana baru kenal dengan Devan. Tentu saja Radit khawatir. 


Devan berdehem sebelum berbicara. "Ini pacar lo, Rana? Sorry deh kalo gitu. Gue gak mau ngerusak hubungan orang." 


"Eh, enggak. Gue sama Radit sahabat doang, dari SMP malah. Kita bertiga bisa berteman baik, kok." Tawar Rana dengan senang hati. Mengabaikan wajah Radit yang sudah kusut seperti kanebo kering.


"Ya udah gue ke ruang kesiswaan dulu ya. Mau siap-siapin semua keperluan dan persyaratan apa aja yang kurang. Bye Rana." Devan melambaikan tangan pada Rana sebelum pergi. Tidak menganggap keberadaan Radit di sana. 


Rana balas melambai. "Dah." 


Radit duduk, lalu menarik Rana untuk ikut duduk juga. 


"Apaan sih Radit? Kok kayaknya lo gak suka banget sama Devan."


Mata Radit menatap manik mata Rana dengan serius. "Dengar ya, Ran. Dia itu orang yang bikin gue jengkel tadi pagi. Songong banget orangnya, sebel gua. Lo juga baru kenal sama dia 'kan? jangan percaya percaya banget sama orang yang baru kenal. Bukannya gimana ya Ran, entah kenapa menurut gue Devan bukan cowok baik-baik." 


Awalnya Rana serius mendengarkan penuturan Radit, namun sesaat kemudian dia tertawa kecil sambil memukul bahu Radit. "Santai aja, Ikan. Gue bisa jaga diri, kok. Ga usah khawatir. Kalo dia macem-macem, gue bisa banting dia. Lo 'kan tahu gue pernah les karate dulu."

__ADS_1


Hembusan napas jengah Radit keluarkan. "Bukan masalah bantingnya, tapi soal-"


Rana mengangkat tangannya, menutupi mulut Radit. "Udah ya ngocehnya gue laper. Nanti gue mau latihan lagi."


Spontan, Radit menyingkirkan tangan Rana dan mendengus. "Bau, ogeb."


Cengiran tanpa dosa Rana perlihatkan. "Yok makan, zeyeng." Rana membuka bungkusan berisi mie goreng dan minumannya. Cacing-cacing di perutnya sudah demo sejak tadi.


"Suapin gue. Gantian. Tadi pagi kan gue yang suapin elo." Radit sengaja membuka mulutnya lebar, membuat Rana dengan jailnya memasukkan suapan paling besar. 


Rana tertawa melihat Radit susah payah mengunyah karena kepenuhan. "Hahaha. Ini hadiah buat lo yang udah temenin gue hari ini."


Sebuah jitakan mendarat di kening Rana. 


"Aw-"


"Ini bukan hadiah, ini namanya iseng." 


Rana menyodorkan sesendok lagi ke mulut Radit. "A a buka mulut yang lebar." Dia menyuruh Radit layaknya menyuapi anak balita.


"By the way, lo keliatan nyaman banget rambut pendek ya, Ran. Rambut lo udah hampir sama kayak gue loh. Cuma bedanya, lo versi cewek."


"Iya, dong. Biasanya gue gerah karena kepanjangan." 


"Aduh mesranya pasangan ini, jadi iri deh yang jomblo." 


Percakapan mereka terinterupsi kala Yanti mendatangi keduanya. Yanti menyeka keringat di lehernya dengan handuk kecil. "Pangeran kodok tumben temenin Putri Keong latihan?"


Rana tersedak, lantas Radit memberikannya sebotol air putih. 


"Alay banget panggilannya. Mual gue, Yanti." Radit berpura-pura menampilkan  ekspresi mual.


"Yanti, kan, lambe turah. Jadi maklumi aja, dit. Hahaha." 


"Ih. Malah gue yang kena. Ya udah yuk Rana. Kita latihan lagi. Pak Bondan sama Devan udah nunggu, tuh. Ayo."


"Oke, yuk. Bye, Dit. Gak lama kok lima belas menit lagi."

__ADS_1


Rana dan Yanti pergi, meninggalkan Radit dengan wajah betenya. 


Radit hanya takut Rana semakin dekat dengan Devan dan Rana kembali terluka. Melihat mereka berdua yang sudah lumayan semakin akrab ketika Radit menyaksikannya dari jauh. 


__ADS_2