
Setelah menjalani berbagai pemeriksaan rana dan tami seger meninggalkan rumah sakit baru saja akan melangkah namun langkah mereka dihentikan oleh suara yang tidak asing itu,ya itu adalah suara herdian yang menghentikan langkah mereka.
"Tunggu!!"
"Ada apa lagi?" tanya tami dengan nada tidak suka.
"Aku sarankan kalian menyerah saja" kata herdian dengan nada mengejek.
"Kau salah lawan kawan karena kami tidak akan menyerah begitu saja"
"Percaya diri sekali kalian?" nuriah pun menimpali percakapan antara pria itu.
"Sayang bawa lintang ke mobil dan tunggu aku disana" kata tami lalu menyerahkan kunci mobil ke rana.
"Baik,ayo sayang"
"Kenapa kau takut anakku akan mengetahui kalau kalian bukan orang tua kandungnya tapi kami?"
"Cih...!! aku tidak akan membuat anakku binggung dengan keadaan ini karena itu sama saja melukai hatinya" jawab tami yang membuat herdian dan nuria malu.
__ADS_1
"Cepat atau lambat anak itu akan mengetahui kebenarannya,itu hanya masalah waktu bung" jawab nuria.
"Ibu macam apa kau yang sanggup membuang anak yang telah kau lahirkan dengan susah payah itu,aku tidak heran kau mampu mengucapkan kata-kata itu yang menyebut darah dagingmu dengan kata -kata anak itu" nuria terdiam setelah herdian melotot kearahnya karena bagaimana pun apa yang disampaikan oleh tami tidaklah salah.
"Ayo kita pergi" dengan wajah menahan amarah herdian menarik tangan nuria lalu pergi meninggalkan tami yang masih berdiri menyaksikan kepergian mereka.
"Lepaskan herdian,sakit" nuria pun menghentakkan tangan herdian agar melepaskan cengkramannya.
"Kalau kau datang hanya akan mengacaukan saja sebaiknya kau pulang karena tingkahmu membuat aku muak" teriak herdian lalu pergi meninggalkan nuria.
"Tunggu aku" nuria pun mengejar herdian yang sedang menuju keparkiran mobil itu.
"Tapi.."
"Apa kau tidak mau menuruti kata-kata suamimu lagi?" hardik herdian yang membuat nuria mengisut ketakutan.
"Baiklah" jawabnya dengan cepat.
Sudah seminggu rana kesulitan memejamkan matanya dimalam hari karena takut akan kehilangan anaknya,untuk makan saja rana tidak berselera dan itu membuat tubuhnya terlihat kurus.tami yang melihat istrinya yang selalu bersedih dan kehilangan nafsu makannya pun menjadi sedih.
__ADS_1
"Sayang jangan seperti ini,kau harus kuat karena ini baru saja dimulai"
"Aku takut aku akan kalah dan kehilangan lintang" jawab rana lalu air matanya jatuh membasahi pipinya.
"Percaya padaku aku akan mencarikanmu pengacara handal,percaya kita akan memenangkan kasus ini dan lintang akan tetap bersama kita" tami terus menghibur istrinya yang sedang rapuh itu.
"Kau tidak bohong kan?kau tidak sedang menghiburku kan?" tanya rana lalu mencari jawaban diwajah suaminya,mencari jawaban dari suaminya dengan menatap lekat suaminya.
"Aku tidak bohong karena banyak saksi dan kau memiliki berkas lengkap,percayalah kita bahkan bisa menuntut mereka dengan pasal penelantaran anak" kata tami lagi.
"Kau benar,kita bisa menuntut mereka kembali" kata rana lalu menghapus air matanya.
"Ayo aku akan membawamu keluar mencari makanan kesukaanmu karena aku lihat sudah beberapa hari ini kau kehilangan selera makanmu"
"Aku tidak lapar" tolak rana.
"Kau harus mengisi perutmu itu agar kau ada tenaga melawan mereka"
"Baiklah" rana pun akhirnya mengalah dan mengikuti langkah tami yang mengandengnya menuju ke mobil.
__ADS_1