Rana

Rana
Rana kau [2].


__ADS_3

Tanpa sepengetahuan nuria herdian telah mengetahui semua tindak tanduknya yang dimana ia menjalin hubungan dengan boy dibelakang herdian,herdian yang secara diam-diam menyelidiki istrinya itu telah berhasil mengunggap semua kecurangan orang yang ia cintai itu.


"Mama akan menyetujui hubunganmu dengan wanita itu asal kamu bahagia nak"


"Terima kasih mam" herdian pun memeluk dengan erat wanita yang telah melahirkannya kedunia.


Setelah menceritakan semua perasaan dan hati herdian pun menjadi lega dan siap dengan semua rencana ia kedepannya yang dimana ia ingin menjadikan rana sebagai pendampingnya suatu hari nanti.Siang itu herdian makan siang sendirian tanpa nuria istrinya,nuria entah kemana wanita itu begitulah herdian berkata dalam hatinya.tanpa selera herdian makan cafe tidak jauh dari kantornya.


"Rana" sapa herdian yang baru saja dari toilet itu.


"Herdian,kenapa aku selalu bertemu denganmu?kau mengikutiku?" entah keberanian dari mana rana bisa berkata seperti itu.


"Aku kau tidak berpikir kalau kita ini berjodoh?kita sering bertemu akhir-akhir ini diluar jadwalku bertemu dnegan anak kita" kata-kata yang keluar dari mulut herdian membuat rana mendelik tidak percaya herdian berkata seperti itu.


"Kau.." rana tidak meneruskan kata-katanya lalu pergi meninggalkan herdian karena takut orang disekitar salah paham akan apa yang baru saja herdian ucapkan.


"Tunggu" herdian pun berusaha menghentikan langkah rana namun usahanya sia-sia karena rana telah pergi meninggalkan cafe.herdian pun mengejar rana setelah menyelesaikan pembayaran di kasir.


Rana yang tengah berdiri di pinggir jalan menunggu taxi namun taxi yang ditunggu tidak kunjung datang,herdian yang telah mengendarai kendaraannya pun segera menghentikan mobilnya dan menawarkan memberi tumpangan untuk rana yang berdiri disana.


"Masuklah aku akan mengantarmu"

__ADS_1


"Tidak perlu aku naik taxi saja"


"Ayolah aku dengan sukarela mengantarmu sampai di rumahmu"


"Tidak terima kasih" rana terus menolak tawaran herdian.


"Ayolah mbak kasihan suaminya" kata salah satu pengendara yang melihat mereka berbicara seperti pasangan yang sedang bertengkar.


"Dia bukan suamiku" jawab rana dengan wajah menahan malu.


"Ayolah sayang kita teruskan pertengkaran kita dirumah saja,malu dilihat orang" herdian pun menemukan ide agar rana mau masuk ke mobilnya.


"Kau!!" dengan terpaksa rana masuk ke mobil herdian dengan wajah cemberut bak anak kecil yang tidak diberi permen oleh orang tuanya.


"Semua ini karena ulahmu yang memaksaku dengan cara curang" gerutu rana tanpa mau melihat wajah herdian. melihat rana masih marah herdian pun menggunakan kesempatan langka ini untuk berduan dengan rana lebih lama lagi sekaligus mengungkap kan isi hatinya,herdian pun mengarahkan mobilnya ke tempat yang sepi dan jauh dari mobil yang berlalu lalang.


"Kenapa berhenti?dan ini ada dimana?" tanya rana yang menyadari tempat yang asing itu setelah memperhatikan ke sekeliling.


"Jangan panik karena tidak akan terjadi apa-apa denganmu,aku hanya ingin bicara berdua empat mata"


"Apa maksudmu?antar aku pulang" rengek rana.

__ADS_1


"Tenanglah kau seperti anak kecil saja"


"Herdian aku mau pulang karena tidak pantas kita berada di tempat seperti ini mengingat status kita berdua yang telah memiliki pasangan masing-masing"


"Pasangan yang sama-sama melukai hati kita dengan perselingkuhan mereka?" herdian mengeluarkan suara yang lebih keras lagi dan itu membuat rana terkejut.


"Apa maksudmu?" tanya rana yang tidak mengerti arah pembicaraan herdian.


"Istriku selingkuh dan aku juga ttahu kalau tami bukanlah pria yang setia" herdian menatap rana dengan wajah sedihnya.


"Dari mana kau mengetahui itu semua?"


"Kau tidak perlu tahu itu semua,yang harus kau ketahui kalau aku menyukaimu rana"


"A-apa maksudmu?" tanya rana dengan suara terbata.


Cup!! herdian pun mengecup bibir rana dan tanpa herdian duga rana membalas kecupan herdian,keduanya pun berciuman dengan mesra dan saling membalas satu sama lainnya.


"Rana kau.." hanya itu kata-kata yang keluar dari bibir herdian setelah keduanya selesai berciuman.


"Aku...aku..." hanya itu yang diucapkan rana karena ia begitu gugup.

__ADS_1


"Ssstt..jangan diteruskan lagi" herdian meletakkan tangannya di bibir rana dan itu membuat rana menghentikkan ucapannya.


__ADS_2