
"Pulang, yuk dit." Rana berlari kecil menghampiri Radit yang sedang tertidur dalam posisi duduk. Dia tertawa melihat wajah Radit. Menggoyang-goyangkan bahunya agar cowok bertopi itu segera bangun.
Perlahan Radit membuka matanya. Keningnya mengkerut menatap Rana yang sedang membereskan barang-barangnya. "Udah selesai? Kok udah pada pulang?"
Rana melambaikan tangan pada orang yang berpamitan dengannya, kemudian menoleh ke Radit. "Udah jam lima. Ayo pulang!" Dia menarik pergelangan tangan Radit, memaksa cowok itu untuk segera berdiri.
Radit menguap, merenggangkan tubuhnya yang pegal-pegal karena ketiduran di bangku. "Pegel cuy badan gue. Aduh." Lalu Radit berjalan duluan ke parkiran sekolah, meninggalkan Rana yang memasang muka sebal.
"Tungguin gue oy!"
"Besok latihan lagi?" tanya Radit ketika mereka sedang mengendarai motor.
"Iya." Rana mengeraskan suaranya. "Lo gak usah temenin. Kasian lo kecapekan gara-gara nungguin gue."
"Liat nanti. Soalnya gue juga besok gak ada kegiatan apa-apa."
"Oke."
***
"Gak mampir dulu, dit?"
Saat ini mereka sudah sampai ke pekarangan rumah Rana. Motor keduanya pun sudah terparkir dengan rapi. Tapi Rana malah menanyakan hal itu. Radit ikut turun, itu artinya Radit ingin mampir. Cowok itu memasang ekspresi datar-sedatar datarnya.
"Aneh lu."
"Ehehe. Becanda. Yuk masuk. Iko juga udah pulang kayaknya."
Rana dan Radit masuk. Langsung disambut dengan teriakan menggelegar yang dipersembahkan oleh Iko.
"MAMA, RANA BARU PULANGGG."
"Ih apaan, sih gue udah izin sama mama kalee." Rana mengajak Radit duduk di sofa ruang keluarga yang sekarang diduduki Iko. Cowok absurd itu sedang menonton kartun sopo jarwo sambil rebahan.
"Weh, Raditya dika. Lama banget lo gak kesini. Kemana aja lo? Berantem sama Rana?" Pertanyaan bertubi-tubi dilontarkan Iko ketika matanya melihat Radit.
Rana dan Radit langsung bergabung.
"Enak aja gue sama Radit Pangestu ga pernah berantem."
__ADS_1
Radit ikut rebahan di sebelah Iko. Mereka sudah sangat akrab sekali. "Biasa, bang. Gue ada bisnis futsal sama temen. Jadi pulangnya selalu sore, gak sempat mampir kemari." Dia mencomot camilan yang sedang dimakan Iko.
"Kapan-kapan ajak gue lah. Gue juga pengen tanding lagi. Terakhir gue main pas kaki gue patah."
"Itu artinya lo lemah, bang. Baru main futsal aja kaki udah patah. Kalah sama gue yang cewek." Sahut Rana, berniat meledek Iko.
Iko melempar bantal kecil tepat ke kepala Rana. Kemudian tertawa melihat reaksi kesal adiknya itu. "Kampret lu."
"Mama Iko main kasar sama Rana." Rana pura-pura mengadu pada Mamanya yang ada di dapur, sedang menyiapkan makan malam.
"Adek kampret lo."
"Tapi lo ngampus bang. Gimana futsalnya."
"Gue ke kampus juga gak tiap hari, Dit. Lagian perginya pagi pulangnya siang jam satu, sama kayak kalian. Kebetulan gue gak ikut kegiatan apa-apa di kampus, jadi santuy aja."
"Lah kenapa? Justru seru lah ikut kegiatan gitu."
Iko menggeleng tidak setuju. "Males, terlalu ribet."
"Serah lu deh, hubungin gue aja nanti kalo udah pasti."
Santya-Mama Rana menghampiri ruang keluarga yang sedari tadi berisik. Rana sedang makan, dia memberitahu Santya bahwa ada Radit di sana. Senyum merekah ketika Radit tampak di matanya. " Eh, Radit. Mama kangen sama kamu loh. Jarang banget main ke sini."
Tangan Santya mengelus pundak Radit yang tinggi. Dia sudah sangat kenal dengan Radit, juga sudah menganggap Radit seperti anaknya sendiri. "Makasih loh udah temenin Rana. Kata Rana kamu yang rawat dia pas drop tadi pagi. Rana cerita semuanya. Kamu memang anak yang baik, dit."
Radit jadi merasa tak enak dipuji selalu. Dia kesal, kenapa Rana harus menceritakan hal itu. "Hehe, gak apa tante. Gak usah makasih, kan Rana udah kayak saudara Radit sendiri."
Santya tersenyum bangga. "Kamu udah makan? Kalo belum makan sama Rana sana dit. Siang tadi kalian belum makan nasi 'kan. Gih makan, nanti masuk angin." Santya mengajak Radit ke meja makan. Radit menurut saja. Untungnya Rana masih makan, ya meski dalam keadaan badan yang bau.
"Kamu latihan basket tiap hari, Rana?" tanya Santya sambil memasukkan sayuran ke dalam air panas.
Rana mengangguk. "Iya, Ma. Dua minggu lagi pertandingannya. Doain menang ya, Ma."
"Amin." Jawab Mama Rana dan Radit secara serentak. Mereka semua tertawa menyadari itu.
"Mama lo gak nyariin dit?"
Radit meminum air putih sebelum menggeleng. "Udah gue kabarin. Lagipula Mama dan Papa lagi keluar kota. Malam baru pulang."
__ADS_1
Radit adalah anak tunggal. Kedua orangtuanya sama sama sibuk bekerja. Mamanya pun jarang ada cuti. Hanya hari minggu saja waktu liburnya. Karena itulah mengapa Radit sangat disayang oleh Mama dan Papanya Rana. Meski begitu, hubungan dua keluarga ini sangatlah dekat.
"Kalo kamu kesepian, datang aja ke sini, ya. Tante gak mau kamu terlalu stress di rumah."
Sudut bibir Radit terangkat, membentuk lengkungan senyuman yang sangat tulus. Radit bersyukur, masih ada yang memperhatikannya meski bukan keluarganya. "Terima kasih, tanet."
"Panggil Mama aja kali, gak usah tante. Kesannya kayak berjarak gitu." Rana mengusul sembari mencuci piringnya yang kotor.
"Iya deh iya."
Santya tertawa menyaksikan keakraban keduanya.
"Iko tahu apa yang ada dipikiran Mama." Tiba tiba Iko muncul dari balik tembok. Mengagetkan semua yang ada di sana.
Rana mengelus dadanya sabar. Hampir saja jantungnya copot. "Gils, kaget gua."
"Emang apa?" tanya Santya lembut.
Iko ikut duduk di sebelah Radit, mengambil segelas air putih lalu meminumnya. Sengaja membuat Rana, Radit, dan Mamanya jadi penasaran. "Nungguin ya?" senyuman tengilnya tercipta, yang melihat pun ikutan kesal.
"Apaan sih, upil badak?" tanya Rana tak sabaran. Bahkan dia menyusun piring dengan buru-buru.
Sebelum berbicara Iko berdehem dulu. "Rana, Radit, kalian harusnya peka, dong. Kalo Mama itu-"
Lagi, dia berhenti bicara.
"Radit! Mama lempar centong nasi nih lama-lama. Cepet bilang." Tangan Santya yang sedang mengaduk nasi kini teralih menunjukkannya pada Iko.
Iko mengangkat tangannya pertanda ampun. "Kalo Mama itu sebenarnya sangat setuju jika Radit dan Rana berjodoh." Dia berkata dengan semangat membara.
Radit yang sedang makan jadi tersedak. Rana duduk dan cepat cepat memberinya minum.
"Ih, 'kan Radit tersedak gara-gara lo."
"Tapi bener 'kan? Iya kan ma? Jujur aja, Ma." Iko menaikturunkan alisnya.
Langkah Santya terayun mendekati Iko, lantas menjewer telinga Iko. Membuatnya meringis pelan. "Kamu tuh sok tau, Iko. Sok paling tahu isi kepala Mama. Nanti Mama sentil ginjalnya baru tahu rasa."
"Kita itu cuma sahabatan kali. Jangan aneh-aneh deh lo. Mama juga gak pernah ngomong gitu." Rana cemberut. Dia hanya khawatir Radit memiliki pemikiran yang aneh terhadap Rana atas perkataan Iko yang ember.
__ADS_1
"Iya, sok tau lo bang." Sahut Radit. Dia sudah selesai makan.
"Ya udah deh, dit. Kita ke depan aja. Jangan lama-lama ngobrol sama Iko nanti ketularan sedeng." Rana menarik tangan Radit, berjalan menuju teras depan.