Rana

Rana
Resah.


__ADS_3

Malam semakin larut namun malam itu rana tidak bisa memjamkan matanya walau pun ia telah berusaha untuk terlelap,beberapa kali membolak balikkan badannya namun tidur lelap yang ia harapkan hanya sia-sia semata.Rana pun turun dari ranjang lalu keluar dari kamarnya menuju ke kamar lintang yang tidur lelap,dibelainya kepala lintang lalu menyelimuti tubuh anak yang telah diasuhnya sejak bayi itu.


"Rana" ibu ratih yang terbangun dan melihat rana berada dikamar itu pun bangun lalu duduk memandang rana yang sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri itu.


"Ibu..apakah aku mengganggu tidur ibu?"


"Tidak nak,kenapa kau disini?"


"Aku tidak bisa tidur bu,aku terlalu takut kehilangan lintang" air mata rana pun menetes dari mata bulatnya.


"Berdoalah nak semoga lintang tetap bersama kita selamanya"


"Bantu rana berdoa ya bu karena rana tidak akan sanggup untuk berpisah dengannya" rana pun memeluk ratih.


"Ibu selalu mendoakan kamu tanpa kamu minta"


"Terima kasih bu"


"Tidurlah karena kau butuh istirahat yang cukup untuk menghadapi ini semua"

__ADS_1


"Baik bu" rana pun keluar dari kamar lalu segera menuju ke kamar dan berbaring disamping tami yang tidur dengan pulasnya.


Sidang kembali digelar,rana duduk sembari meremas tangannya menutupi keresahannya.Ada sejuta ketakutan menghantui dirinya,dari dalam hatinya rana tidak berhenti memanjatkan doa agar tuhan melancarkan segala urusannya dan kemenangan berpihak padanya.Jantung rana berdetak semakin cepat begitu melihat hakim masuk keruang sidang itu.


"Tenanglah jangan gugup seperti itu"


"Aku takut"


"Ada aku dan pengacara handal,percayalah kita pasti menang"


"Terima kasih" jawab rana dengan memandang tami penuh rasa haru.


Pengadilan pun memutuskan rana lah yang berhak mengasuh lintang namun kedua orang tua biologis lintang tetap berhak untuk mengunjungi anaknya dan rana tidak berhak memutuskan hubungan antara anak dan kedua orang tua kandungnya.Rana lega namun rasa kecewanya tidak dapat disembunyikan karena herdian dan nuria akan terus berada disekitar mereka,rana binggung bagaimana menjelaskan ke lintang anaknya siapa herdian dan nuria.


"Nanti kita pikirkan caranya yang penting kita sudah memenangkan kasus ini"


"Terima kasih tami,kalau tidak ada kau aku tidak tahu harus bagaimana melawan mereka" rana pun memeluk tami.


"Sama-sama sayang,ini sudah menjadi kewajibanku sebagai suami dan kepala keluarga"

__ADS_1


"Kau puas sekarang setelah memisahkan aku dengan anakku?" nuria menatap rana dengan tatapan tajam.


"Jaga ucapanmu,apa kau tidak malu dengan apa yang telah kau perbuat sewaktu lintang masih bayi?" jawab rana tidak mau kalah.


"Kau!!"


"Cukup nuria aku muak dengan sikapmu,ayo kita pergi" herdian pun menarik paksa nuria pergi meninggalkan rana.


"Lepaskan aku belum selesai bicara dengan wanita itu"


"Cukup nuria atau aku akan bertindak lebih keras lagi?"


Setelah menyelesaikan beberapa urusan dengan dibantu pengacaranya rana dan tami pun pulang dengan wajah berseri-seri.Setibanya dirumah rana pun segera mencari keberadaan anaknya.dipeluk dengan erat penuh kasih sayang,dicium kedua pipi lintang.


"Rana"


"Bu kita menang" rana dan ratih pun bersorak senang.


"Selamat ya nak"

__ADS_1


"Terima kasih bu"


"Ceritakan bagaimana diruang sidang tadi" rana pun menceritakan semuanya ke ratih dan ratih pun mendengarkan dengan seksama lalu tertawa bahagia karena doanya telah dikabulkan oleh yang maha kuasa.


__ADS_2