
Rana pulang ke rumah hanya diam tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya walau pun hatinya menjerit ingin sekali memaki tami yang menyakitinya lagi dan lagi dengan menjalin hubungan dengan wanita lain di luar sana.rana hanya diam karena percuma tami tidak akan berubah karena bukan hanya sekali sudah berulang kali tami menghianatinya.
"Maaf sayang aku harus menjamu relasiku" tami yg baru saja kembali langsung mendaratkan ciuman di kepala rana namun rana hanya diam lalu tersenyum ke arah tami.
"Tidak apa aku mengerti,pergilah mandi aku akan menyiapkan makan"
"Aku tidak lapar,aku hanya butuh istirahat" jawab tami cepat.
"Baiklah aku ada dikamar anak-anak" rana pun keluar dari kamarnya sedangkan tami bernafas lega.
Rana terus memperhatikan wajah lelap tami,sempat terlintas di dalam benaknya ingin menghabisi nyawa pria yang berulang kali menghianati pernikahan yang telah mereka bina itu namun rana mengurungkan niatnya.rana pun keluar menuju dapur lalu meraih pisau lalu dibawanya ke kamar,setelah berada disamping kasur sambil terus memperhatikan wajah tanpa berdosa tami rana pun mengangkat pisau itu melebihi tinggi badannya bersiap ingin menghujamkan benda tajam itu ke tubuh tami.rana tersadar lalu segera keluar dari kamar lalu segera meletakkan kembali pisau yang ada ditangannya lalu bersandar di dinding dapur lalu dengan kedua tangannya mengusap wajahnya.
"Apa yang aku lakukan?bagaimana kalau itu terjadi?" rana pun segera menyadarkan dirinya agar tidak berbuat nekat.
__ADS_1
Keesokan harinya rana dan herdian kerap bertemu memadu kasih.saling menguatkan satu sama lainnya karena pasangan masing masing menghianati pernikahan yang telah mereka bina itu.
" Menikahlah denganku" hanya itu kata kata yang keluar dari bibir herdian.
"Apa maksudmu?" tanya rana tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Jadilah istriku karena aku akan segera menceraikan nuria,aku ingin hidup bahagia denganmu"
"Aku.." lidah rana kelu dan tidak meneruskan kata katanya.
"Aku akan memikirkan ini semua,beri aku waktu"
" Baiklah aku akan menunggumu" herdian pun memeluk rana dengan erat.
__ADS_1
"Aku harus segera pulang" rana pun bergegas turun dari mobil herdian namun herdian menahan tangannya.
"Jangan pergi rana" melihat herdian yang menahan tangannya rana pun mengurungkann niatnya.
"Kau mau membawaku kemana?" tanya rana yang melihat herdian melajukan mobilnya.
"Kau tak perlu tahu " herdian pun mengarahkan mobilnya ke puncak.setelah tiba herdian meminta rana untuk segera turun dan mengikutinya.
Herdian pun menghujami rana dengan ciuman panasnya,tangannya tidak tinggal diam walau pun keduanya tengah asyik berciuman saling ******* bibir.Dalam waktu singkat pakaian rana telah jatuh ke lantai.
" Herdian" rana menggelengkan kepalanya meminta herdian agar tidak melakukan itu semua.
"Aku akan bertanggung jawab" lalu herdian kembali menghujanu rana dengan mencium bibirnya lalu turun ke leher lalu berhenti ketika berhadapan dengan bukit kembar milik rana.tidak ingin membuang waktu herdian pun segera melahap lalu mengarahkan tubuh rana ke sofa.ruang tamu itu menjadi saksi kisah cinta mereka yang begitu menggebu gebu.rana pun memakai kembali pakaiannya begitu juga dengan herdian.
__ADS_1
"Aku harus pulang herdian,hari semakin sore" rengek rana.
"Baiklah aku akan mengantarkanmu" herdian pun merangkul rana keluar dari villa.