
"TERIMA!"
"TERIMA!"
"TERIMA!"
Rana tidak tahu apa yang tengah dialaminya, semua terjadi begitu cepat. Devan dan Rana sudah dikelilingi para siswa serta timnya. Sungguh, Rana bahagia sekaligus malu. Sebab dia tak pernah mengalami ini sebelumnya. Jantung Rana seakan copot seketika.
Devan mengangkat bunga itu lebih tinggi.
"Gue belum bisa jawab sekarang, terlalu cepat. Gak papa 'kan Devan?" tanya Rana hati-hati. Dia takut Devan kecewa. Sejujurnya, Rana mulai menyukai Devan. Tapi dia masih ragu untuk berpacaran lagi karena trauma tersakiti. Meskipun digantung, Rana tetap mengambil buket itu hingga kerumunan bersorak. Dan mereka mulai bubar dengan gerutuan.
Devan berdiri berhadapan dengan Rana. Dia tersenyum tulus. "Gak papa, kok. Kita jalanin aja dulu. Yang penting lo udah tau perasaan gue sama lo kayak gimana." Tangannya terangkat mengelus kepala Rana. "Sekarang ganti baju, dan kita segera ke kantin. Lo pasti laper. Ayo."
Rana tertawa lepas, kemudian dia menuruti ajakan Devan.
****
"Sok kecantikan amat sih pake ngegantungin Devan."
"Tau tuh, kalo gue yang ditembak gue gak pikir panjang lagi. Ya langsung terima."
"Gile cogan kek Devan digantung, udah merasa paling cantik banget apa ya."
"Rana sok cakep udah gak ada cantik-cantiknya, nolak Devan lagi. Cuih."
Sahut-sahutan semacam itu terdengar sepanjang Devan dan Rana berjalan menuju kantin. Rana sedikit tersinggung, melihat itu Devan langsung menghampiri salah seorang cewek yang berkata pedas seperti tadi.
"Mulut lo bisa diem gak? Sebelum gue gunting lebih baik lo bisu." Melotot kepada siswi itu,, Devan memasang tampang garang. Sementara yang ditatap sudah ketakutan, nyalinya ciut.
"I iya kak, maaf." Siswi itu kabur secepat kilat.
"Udah, Dev. Biar aja mau ngomong apa. 'kan emang begitu adanya."
"Ya gak dengan ngejelekin lo juga, Ran. Kesel gue."
__ADS_1
Rana mendadak jadi teringat seseorang. Orang yang sering membelanya saat Rana dicela atau disakiti baik di fisik maupun melalui omongan.
"Lo gak papa, Ran? Jangan diambil hati. Kalo lo mau, gue bisa bunuh dia sekarang juga."
"*****, serem amat lo. Yaudah ayo ke kantin, nanti keburu rame." Usul Rana dan Devan mengiyakan.
Seisi kantin mengalihkan perhatian pada dua orang yang baru saja masuk ke area kantin. Kejadian di lapangan tadi dengan cepat tersebar ke seluruh penjuru sekolah. Termasuk Radit dan teman-temannya yang sedari tadi nongkrong.
"Gile, Rana sama Devan langsung masuk instagram lambe sekolah cuy. Gercep amat, nih admin gosip." Baihaqi berceloteh, dia me-stalking komentar-komentarnya. "Banyak yang dukung dan banyak juga yang hate. Hadeh, mending Rana sama lo aja, dit. Gak akan ada yang marah."
Kiki menampar mulut Baihaqi.
"AW! Sakit coeg!"
"Mulutmu itu loh. Ember amat. Lo bikin Radit makin sedih." Kiki melirik Radit sekilas. Cowok itu tak berminat melirik Rana dan Devan di meja seberang mereka, tak terlalu jauh.
"Kayanya si Devan serius pengen Rana jadi pacarnya. Nyalinya gede ya, nembak di tengah lapangan. Momentnya pas banget lagi, Rana lagi bahagia atas kemenangannya." Bukannya berhenti, Septian malah masih menambahkan.
Kali ini Kiki giliran menampar mulut Septian yang duduk di sebelah Radit.
"Aduh! Biar aja ngapa, Ki. Radit juga gak peduli sama ocehan kita."
"Siap bos!" Septian dan Baihaqi menjawab serentak sembari mengacungkan jempol.
Kiki mengacak rambutnya frustasi. "Ah elah, ya dah lah gue juga ikut gosipin mereka, deh. Sep, Bai, gue ikutan." Kiki ikut nimbrung dengan mereka.
Dari tempat dia duduk bersama Devan, Rana bisa dengan jelas melihat Radit sebab jarak mereka hanya dipisahkan oleh tiga meja. Hatinya sakit saat matanya menangkap raut wajah Radit. Dia berubah menjadi seorang yang pendiam, kadang sesekali Radit tertawa. Tapi setelah itu, dia kembali datar.
Dan satu hal yang baru Rana ketahui, Radit sekarang suka membaca novel. Mungkin dengan itu Radit bisa mengisi kekosongan yang ada. Tanpa sadar, setetes air mata membasahi pipi Rana.
"Rana, lo nangis?"
Rana menoleh ke Devan, lalu menggeleng. "Enggak, kok."
Devan tahu, sejak tadi Rana memandangi Radit. Padahal Radit sendiri tak sedikit pun meliriknya.
__ADS_1
"Gue tahu." Devan menghapus air mata Rana dengan tangannya.
Diam-diam Radit melihat itu semua, Devan sangat menjaga Rana. Entah kenapa hati Radit nyeri sekali. Dia tidak tahu dengan jelas apa yang dirasakannya sekarang. Mungkin karena Rana sudah terlalu sering bersamanya, jadi saat melihat Rana bersama yang lain rasanya menyakitkan.
Dengan cepat Radit memalingkan wajahnya ke arah lain. Radit yakin matanya berkaca-kaca sekarang.
"Dit, kenapa?" Spontan Septian bertanya. Raut wajah Radit sangat menyedihkan.
Kiki dan Baihaqi mengalihkan fokus mereka dari ponsel ke Radit.
Radit menaruh novelnya ke atas meja. Kepalanya dia tundukkan. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku tangannya memutih. Dia memukul meja dengan pelan.
Septian, Kiki, Baihaqi sekarang tahu apa penyebabnya. Rana dan Devan pamer kemesraan.
Sungguh, ketiganya bingung ingin mengatakan apa. Radit sangat memprihatinkan. Sejak berjauhan dengan Rana, dia seperti kehilangan separuh hidupnya. Bagaimana tidak, dua orang yang sangat dekat setiap harinya kini membuat benteng kokoh sebagai pembatas persahabatan mereka.
"Men, kalo lo kesel cerita aja sama kita-kita. Gak usah di tahan gitu. Kita semua siap dengerin apapun keluhan lo." Kiki mengelus pundak Radit.
Radit mengangkat kepalanya, lalu menatap temannya satu persatu. "Gue bingung sama diri gue sendiri. Kenapa rasanya sesakit ini? Dan gue juga gak pernah secengeng ini, bokap nyokap gue yang jarang di rumah aja gak pernah gue mellow-in sebegini lebaynya."
Baihaqi melihat ke meja Devan dan Rana yang sedang suap-suapan. "Jawabannya cuma satu. LO CINTA SAMA RANA." Dia menatap Radit dengan serius.
Septian hampir terjatuh dari kursinya ketika mendengar itu. Dia sangat kaget, bahkan tangannya memegang dadanya yang berdebar. "Astaga, kaget pangeran."
"Ya gak mungkin lah. Rana itu sahabat gue dari dulu. Rana juga udah gue anggap adek sendiri. Mana mungkin gue cinta sama dia, ngaco lo, Bai." Elak Radit tak terima. Meski begitu, otaknya berpikir keras. Apakah benar yang dikatakan Kiki? Cepat-cepat dia menepis pemikiran gila itu.
"Kayaknya emang bener yang dibilang Baihaqi, dit. Gue harap lo cepet sadarin perasaan lo sebelum terlambat." Kata Kiki menyetujui.
"Bener tuh. Gue kasihan sama lo, Radit. Lo kayak manekin dikasih nyawa tahu gak sejak pisah sama Rana, terlalu kaku. Biasanya lo ikut pecicilan bareng kita. Eh sekarang jadi member paling diem." Septian menambahkan.
Radit mengacak rambutnya. "Au ah gelap. Pusing gua mikirnya. Mending sekarang kita pulang aja. Kalian ke rumah gua, kulkas lagi penuh di rumah. Gue gak sanggup habisin sendiri."
"KUY LAH TUNGGU APA LAGI."
"Azeg, gitu dong dari tadi. Kan enaq."
__ADS_1
"Alhamdulillah ya Allah, rejeki anak ganteng."
Radit akhirnya bisa tertawa kembali. Teman-temannya sangat menghibur. Sebelum beranjak, Radit melirik Rana sebentar. Ketika Rana balas melihatnya juga, Radit segera memalingkan muka dan berjalan ke luar kantin.