Rana

Rana
Sembunyi dimana?


__ADS_3

Herdian bangun awal,setelah berpakaian rapi dengan cepat melangkahkan kakinya mencari keberadaan rana.Satu jam berkeliling menelusuri jalan tanpa arah dan tujuan yang pasti herdian pun menghentikan mobilnya karena merasakan kalau perutnya telah meronta untuk diisi makanan.Tidak butuh waktu lama makanan dan secangkir kopi pun terhidang dimeja.


"Terima kasih" kata herdian ke pramusaji.


"Sama-sama bapak"


Herdian pun menikmati sarapannya sambil melihat orang yang sedang berlalu lalang didepannya hingga mattanya menangkap sesosok yang sangat ia kenali.dengan cepat herdian segera bangun dari duduknya untuk mengejar orang yang selama ini ia cari.


"Tunggu!!" rana yang mengenali suara herdian segera berlari menghindari pria yang akan merebut anaknya itu.


"Pergi aku tidak mau berurusan denganmu" rana pun segera berlari namun langkahnya kalah cepat karena herdian berhasil mencengkram tangannya.


"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau jelaskan kenapa kau membawa anakku kabur?"


"Anakmu?anak yang mana?apa kau layak disebut orang tua?" kata kata yang keluar dari mulut rana membuat herdian terdiam dan menyadari kalau apa yang rana katakan itu benar adanya.


"Tapi aku ingin memperbaiki itu semua,tolong beri aku kesempatan"


"Lalu apa yang harus aku katakan pada lintang tentang jati dirinya?apa kau pernah memikirkan bagaimana perasaannya nanti?"

__ADS_1


"A-aku"


"Bahkan kau tidak tahu harus menjawab apa ke anak yang telah kalian sia-siakan" rana pun melepaskan cengkraman tangan herdian lalu pergi meninggalkan herdian yang mematung.


Bagaikan dikejar hantu rana segera masuk kedalam rumah lalu mengunci pintu rumahnya dengan berdiri menyandar di daun pintu,mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal.


"Ibu,ada apa?apa ada yang mengejar ibu?" tanya wanita paruh baya yang bekerja dirumahnya itu.


"Itu bik ada orang gila yang mengejarku tadi" jawab rana asal.


"Orang gila?dimana bu?"


"Biar bibik usir orang gilanya bu"


"Jangan bik,dia sangat berbahaya,bibik jangan keluar"


"Baiklah bu" rana pun segera masuk ke kamarnya dan duduk diatas ranjangnya.rana terus memikirkan cara agar ia tidak dipisahkan dengan lintang anak yang telah ia besarkan itu.Menunggu tami pulang dan menceritakan dengannya adalah cara satu-satunya karena hanya tami yang bisa ia andalkan saat ini.sore harinya dengan perasaan gelisah rana berjalan ke arah jendela mengintip apakah tami telah tiba dirumah atau belum,begitu melihat mobil tami masuk ke halaman rumahnya rana segera keluar menyambut tami karena ia sudah tidak sabar ingin menceritakan apa yang telah ia alami dan apa yang ingin ia rundingkan dengan suaminya itu.


"Ada apa sayang?kenapa kau terlihat panik?apa sesuatu telah terjadi?" tanya tami dengan bertubi-tubi.

__ADS_1


"Kita bicara dikamar karena aku tidak ingin ada yang mendengar percakapan kita" rana pun menarik ttangan tami agar segera mengikutinya ke kamar.


"Pelan-pelan saja sayang tidak perlu menarikku seperti anak kecil" menyadari perbuatannya rana segera melepaskan tangannya.


"Maaf aku hanya terlalu panik"


"Ceritakan apa yang terjadi?" kata tami sambil melepaskan satu persatu kancing bajunya sambil menunggu istrinya bercerita.


Rana pun menceritakan semua dan meminta tami untuk membantunya mengatasi semua permasalahan yang ia hadapi,melihat rana begitu menyayangi lintang yang telah ia asuh dan dianggap seperti anak kandungnya sendiri itu pun membuat tami tidak tega melihat keresahan yang dirasakan isttrinya itu lalu mendekatinya sambil meraih tangannya memberi kekuatan untuk wanita yang ia cintai itu.


"Tenang ada aku disisimu,aku janji aku akan membantumu menghadapi pria itu"


"Lalu langkah apa yang akan kau gunakan untuk menghadapinya?" tanya rana.


"Pertemukan aku dengannya"


"Baiklah karena bagaimana pun kitta harus menghadapinya"


"Tapi kau harus siap kalau mereka menempuh jalur hukum"

__ADS_1


"Aku takut lintang akan kecewa kalau tahu siapa orang tua kandungnya,hatinya akan terluka kalau mengetahui orang tua kandungnya tega membuangnya"


__ADS_2