Rana

Rana
Menikah tidak hanya untuk memiliki anak.


__ADS_3

Nuria yang telah duduk manis disamping herdian hanya diam namun pikirannya terus teringat akan perkataan mertuanya yang menuntut cucu darinya.Setiba di kantor nuria buru-buru masuk ke toilet untuk melakukan pengecekan dengan testpack yang ada di tasnya.


"Kenapa masih negatif?sebelumnya aku begitu mudah untuk hamil" gumam nuria.setelah membuang hasil testnya nuria pun keluar dengan wajah kesal menahan amarah.


Sementara rana menjalani kehidupannya dengan bahagia bersama anak yang ia asuh selama ini.setiap harinya rana memandikan anaknya sebelum ia berangkat kerja,rana menjalani perannya menjadi seorang ibu.Semua ia lakukan dengan senang hati.


"Bu aku bisa pakai sendiri" rengek anak yang kini


telah mandiri dan menolak rana memakaikan baju untuknya.


"Biar ibu saja" kata rana lagi.


"Bu aku sudah besar dan aku bisa melakukanya sendiri"


"Dimana ibu kamu masih kecil"


"Ibu mah begitu" dengan wajah cemberut akhirnya lintang pun mengalah karena percuma menantang kehendak ibunya.


"Anak ibu sudah rapi,sana makan sarapanmu karena ibu harus mandi"

__ADS_1


"Baik bu"


Sore itu nuria menolak pulang kantor bersama herdian,nuria pun segera naik ke taksi yang telah ia pesan.dengan perasaan yang tidak menenu nuria menuju tempat dimana ia meninggalkan bayi yang ia lahirkan,nuria ingin melihat langsung apakah bayi itu masih hidup atau kah sudah meninggal dunia.


"Berhenti pak"


"Baik bu"


"Lintang jangan main terlalu jauh nak" teriak rana.


Mendengar rana memanggil anak yang bernama lintang itu nuria pun terkejut karena anak yang dimaksud adalah darah dagingnnya sendiri.Lintang berwajah sangat mirip dengan herdian papanya,lintang yang mendengar suara rana pun berlari ke arah rana,karena tidak hati-hati lintang pun terjatuh.Spontan nuria yang melihat langsung turun untuk membantu lintang berdiri,naluri keibuannya pun muncul seketika.


"Apa kau terluka?" tanya nuria.


"Lintang kenapa bisa jatuh nak?"


"Lintang tidak hati-hati bu makanya jauh"


"Sini ibu lihat"

__ADS_1


"Lintang baik-baik saja bu"


"Apa yang kau lakukan sebagai seorang ibu bahkan kau idak bisa menjaga anakmu" kata nuria dengan nada menahan amarah.


"Maaf anda siapa?anda tidak berhak menceramahi saya" jawab rana.


"Kau!" nuria pun kehabisan kata-kata karena ia sadar kalau dia terlalu lancang dan hampir saja ketahuan siapa dirinya sesungguhnya.


"Ayo nak kita pulang" rana pun meninggalkan nuria yang masih mematung menatap dirinya.


"Ayo pak kita pulang" kata nuria dan langsung dituruti pengemudi taxi.


Nuria senang karena ia dengan mudahnya berhasil bertemu dengan anak yang pernah ia lahirkan dan anaknya kini tumbuh dengan wajah yang mewarisi wajah herdian suaminya.Nuria pun berkeinginan merebut kembali anak yang ia lahirkan itu.Sambil mengigit pelan kuku jempol nya nuria berpikir keras akan nianya yang ingin mengambil putra yang pernah ia sia-siakan itu.


"Dari mana saja kau?kenapa baru pulang?" tanya herdian yang telah menunggu kepulangan nuria.


"Aku bertemu teman lama" jawab nuria asal.


"Ada yang ingin aku bicarakan"

__ADS_1


"Nanti saja aku harus mandi " kata nuria langsung menuju ke kamarnya.Dibawah guyuran air nuria berpikir keras bagaimana caranya ia menjelaskan ke herdian keberadaan anaknya dan membujuk herdian agar membantunya merebut anak mereka dari tangan rana.setelah selesai dengan ritual mandinya nuria pun keluar dengan handuk kimono berjalan menuju ketempat dimana herdian duduk.


"Bisa kita bicara sekarang?" tanya herdian lalu dijawab dengan anggukan kepala nuria yang mengartinkan kalau ia siap mendengar apa pun yang disampaikan suaminya.


__ADS_2