
Hari sudah gelap. Rana dan Radit akhirnya sampai di depan rumah Rana. Sebelum memasukkan motornya ke garasi, Rana berhenti sebentar.
"Masuk terus, gue juga buru-buru mau mandi, nih," perintah Radit.
"Ya udah gue masuk dulu ya. Nanti malem gue telepon lo. Bye." Rana membuka pagar dan memasukkan motornya ke garasi. Lalu kembali menutup pagarnya, Radit sudah pergi. Rana menghela napas. Dia akan ceritakan semuanya pada Radit nanti.
Rana membuka sepatunya, kemudian masuk ke dalam rumah. "Assalamu'alaikum. Rana pulang..."
Papa, Mama, dan Iko sedang duduk bersantai di ruang keluarga. Papanyamembaca koran sambil minum teh, Mamanya menonton sinetron, dan Iko sedang bermain games di ponselnya. Mereka semua menoleh ketika Rana bersuara.
"Rana, baru pulang jam segini?" Wijayanto-papa Rana bertanya. Tidak ada kemarahan dalam nada suaranya, karena istrinya pun sudah memberi tahu sebelumnya ke mana Rana pergi.
Rana menghampiri mereka dan duduk di sebelah Iko yang sedang serius dengan benda pipih itu.
"Rapat tim basket, Pa. Huft, capek," katanya sembari membuka jaketnya. Dia hanya memakai kaos berwarna hitam.
Wijayanto menutup korannya, meminum teh hangat dengan saksama. "Ada lomba lagi?"
"Iya, Pa. Rana harus kerja keras banget kali ini gak boleh kalah kayak kemarin. Nyesek."
"Kalo emang begitu ceritanya, Papa dukung seratus persen. Papa pingin nonton tapi gak sempat, jadi papa dukung pake doa aja, ya."
Iko mendorong tubuh Rana yang semakin lama semakin menempel padanya. "Sana, lo. Bau tau gak."
Rana berdiri, menyampirkan jaketnya di bahu. "Terima kasih, Pa. Rana makin senang didukung kayak gini, semangat untuk menang bertambah." Tersenyum pada papanya.
"Kami selalu dukung asal itu positif, Rana." Kali ini Mamanya yang menyahut.
"Papa gak ada komentar apa-apa soal rambut Rana?" Rana heran, satu sekolah pada heboh dengan potongan rambut Rana yang baru. Tapi Papanya malah tidak merespon sedikit pun.
Wijayanto menautkan alisnya. "Rambut? Ya memangnya kenapa? Bagus-bagus aja, kok. Keliatan lebih fresh."
"Tuh, bang. Papa setuju-setuju aja. Gak kayak lo banyak bacot." Rana mencubit Iko dengan kuat, kemudian pergi menuju kamarnya. "Rana naik, pa, ma."
__ADS_1
Sementara itu, Iko yang sudah murka pun cepat-cepat menutup game-nya dan mengekori Rana sampai ke kamarnya.
"Eh, upil kodok. Gue masih sabar ya, bahkan disaat tangan gue biru karena lo cubit barusan. Ingat gue masih sabar, kalo gue ngamuk kegantengan gue bakalan ilang tiga persen," cerocosnya sambil berjalan di belakang adiknya itu.
"Bodo amat, ya, jigong unta. Omongan lo gak ada faedahnya sama sekali."
Rana menutup pintunya dengan cepat sebelum Iko ikut masuk. Tak ingin mendengar omelan abangnya lagi, Rana segera mengunci pintunya dan pergi mandi. Cewek itu sedang malas berdebat sekarang.
"Rana kodok, adek siapa sih lo!!! Dasar adek durhaka!!!" teriak Iko dari luar.
****
Selesai mandi, Rana duduk di meja belajar untuk menyusun jadwalnya dalam seminggu ke depan. Rana selalu melakukannya sejak dua tahun belakangan. Mamanya yang mengajari, katanya, hidup harus punya target dan harus punya perencanaan.
Perut Rana lapar, dia turun ke bawah dan makan di sana. Setelah makan, Rana duduk di kasurnya dan menelpon Radit.
"Semoga Radit gak emosi," gumamnya pelan. Dia harap Radit mau mendengarnya sampai habis.
"Halo juga semangka. Gue lagi mantau jodoh nih." Rana sangat menyukai semangka. Awalnya, Radit tidak suka memanggil Rana dengan sebutan itu. Semangka 'kan manis, dan Rana 'kan pahit. Tapi Rana memaksanya, Radit pun mengalah saja.
"Haha. Masih sekolah woy, udah mikirin jodoh aja."
"Becanda, maemunah. Mau cerita apa hari ini?"
Rana terharu. Di dalam hidupnya, hanya Radit yang selalu bertanya seperti ini.
"Gue mau ngomong sesuatu tapi lo jangan kepancing, ya." Rana menyenderkan punggungnya ke kepala ranjang.
Di seberang sana, Radit sedang duduk di meja belajarnya dengan beberapa buku terbuka. Pulpen yang ia pegang langsung diletakkannya ketika panggilan dari Rana masuk. Radit sengaja menaruh ponselnya di atas meja belajar, dia tahu Rana sebentar lagi akan menelponnya.
"Ngomong aja apapun itu. Asal jangan minta gue beliin sari roti. Lagi bokek nih."
"Ih! Bukan. Kalo urusan itu mah bisa besok gue minta."
__ADS_1
"Nah, kan. Udah gue tebak. Cepetan cerita."
Sebenarnya Rana masih ragu ingin mengatakannya, namun dia harus. Kalau tidak, Radit pasti akan marah melihat Rana murung lagi.
"Jadi gini, tadi pulang sekolah gue kan abis bensin. Terus ngisi di eceran, Zidan datangin gue, dit."
Radit menegakkan punggungnya, raut wajahnya jadi serius. "Terus? Lo diapain sama dia? Lo ada mukul lo?" Yang selalu Radit khawatirkan adalah Zidan yang masih menganggu Rana. Sebab, Radit sangat paham sifat asli Zidan. Zidan adalah ketua geng motor yang selalu buat onar dan kerusakan. Info itu Radit dapat dari teman-temannya. Rana tahu itu. Tapi cewek itu tetap tutup telinga dan mencintai Zidan dalam kebodohan. Zidan sering menyakiti Rana, dan juga main kasar.
"Ya begitulah. Dia selalu punya kata-kata yang mampu bikin emosi gue naik. Untungnya gue cewek strong tau gak. Hehe."
Alis Radit naik sebelah. "Emang lo apain dia?" Radit tertawa kecil, menutupi amarahnya yang akan muncul kalau sampai dia tahu apa saja yang Zidan ucapkan pada Rana hingga cewek itu murung.
"Hmm, dia 'kan lagi di atas motor tuh. Yaudah gue tarik kerahnya dan gue teriak dong di depan dia. Selesai teriak, gue hempaskan dia. Kayak di sinetron-sinetron gitu loh. Ahahaha. Lucu banget, gue yang ngelakuin gue juga yang ngerasa lucu." Rana berpura-pura tertawa, seakan itu adalah lelucon yang patut ditertawakan. Dia hanya takut, Radit marah.
Kepala Radit mengangguk-angguk. "Gitu, ya. Sahabat gue udah alay sekarang, nontonnya sinetron."
"Apaan sih. Lo lebih alay tau gak, nontonnya acara rumpi. Hahaha."
"Bukan gue. Itu emak gue yang nonton. Waktu lo datang gak sengaja gue duduk di depan tivi, dan emak gue lagi ke kamar mandi. Makanya jangan suuzon dulu."
Rana tertawa terbahak. Sangat lucu jika kejadian itu diingat-ingat lagi. Pada saat itu Rana langsung meledek Radit habis-habisan karena terciduk nonton acara gosip. "Gakuku ganana."
"Tawa lo! Udah siap PR belom?"
Decakan keras Rana terdengar. "Gue males banget pelajaran fisika. Jadi ga bisa ngerjain. Gak mampu."
"Buset, nih anak. Lo mau kena hukuman sama Bu Yuni? Lo tahu dia gimana kan, Ran."
Pegal duduk, Rana merebahkan tubuhnya di kasur. Meskipun Radit menakut-nakutinya, Rana tidak peduli. Hari ini dia terlalu lelah, baik fisik maupun hati. "Biar aja. Nilai gue dipelajaran lainnya tetap tinggi, kan? Santuy, Ikan."
Sikap bodo amat Rana nyatanya membuat Radit kesal. Tapi dia menahannya. Rana memang keras kepala. "Serah lu. Awas aja kalo kena hukuman terus ngadu sama gue."
"Iya, iya. Kali ini enggak."
__ADS_1