Rana

Rana
Razia bulanan


__ADS_3

“WOY! RAZIA RAZIA!!!”


“HARI INI RAZIAAA!”


Zawil, ketua kelas berteriak lantang saat baru saja masuk kelas. Bel masuk berbunyi setelah cowok itu masuk. Membuat suasana kelas jadi panik.


“Aduh, handphone kita simpan di mana, Dit?” Rana ikutan panik. Dia menggenggam ponselnya kuat.


Sementara itu Radit sedang berpikir sejenak. Lalu dia mengambil ponsel Rana dan menggabungkannya dengan ponsel miliknya. Radit membungkusnya dengan kertas dari buku tulis yang dia robek asal.


Rana memperhatikan saja aksinya. “Lo kira gorengan?”


“Santuy.”


Radit  berjalan ke luar kelas, kemudian pura-pura membuang sampah. Bungkusan itu dia lempar tong sampah yang ada di depan kelas. Setelah itu, Radit masuk lagi, berjalan dengan santai sembari memasukkan kedua tangannya ke kantong, dan bersiul. Ia tertawa melihat semua teman sekelasnya panik.


Rana yang mengintip dari jendela sejak tadi hanya bisa menepuk jidatnya melihat kelakuan Radit. “Kalo hape gue ilang, gue tonjok lu,” kata Rana ketika Radit sudah duduk kembali. Mereka duduk di bangku barisan kedua dari belakang.


“Gak mungkinlah. Petugas kebersihan di sekolah biasanya angkut sampah itu pas pulang sekolah. Kayak gak tau aja. Lagian kalo kita nyembunyiin di ventilasi jendela kayak biasa, mereka semua udah niru. Yang ada malah terciduk. Kreatif dikit lah, Ran. Btw, gue pinter kan?”


Ekspresi Radit yang menurut Rana sok kegantengan membuat dia mual. “Iya. Otak lo encer. Thanks dit.” Rana berucap dengan sedikit terpaksa.


“Sama-sama. Gue emang cakep, kok.”


“Najis.” Rana melihat rambut Radit yang sudah terpotong rapi. “Untung aja lo udah pangkas ye kan.” Lantas dia mengacak-acaknya.


Radit menyingkirkan tangan Rana. “Temen Jahannam emang. Gue udah rapiin.”


Tawa keras Rana keluarkan.


Mereka berdua menonton kepanikan teman-temannya. Ada yang sembunyikan ponsel, alat make up, kaus kaki berwarna, rambut berwarna, rambut cowok yang gondrong atau Panjang. Tak jarang mereka suka mengeluh atas peraturan-peraturan yang ada.


“DIAM SEMUA! PAK BOTAK MASUK! SELAMATKAN DIRI KALIAN!”


Teriakan dari Zawil terdengar lagi. Cowok berambut cokelat itu memantau dari depan pintu. Karena pemberitahuan darinya, seisi kelas mendadak hening dan duduk rapi.


“Dit, gue takut rambut gue dikomen, gimana nih,” bisik Rana pelan di telinga Radit.


“Udah selow aja. Entar gue bantu jawab kalo missal ditanya.”


“Sip.”


Tak lama kemudian, Pak Igo-yang biasa disebut Pak Botak masuk ke dalam kelas 11 IPA 4 bersama tiga orang guru lainnya- dua Ibu guru dan satu lagi Pak Samin-Guru Fisika yang masuk jam pelajaran pertama. Mereka datang bersamaan.


Pak Igo berdehem. “Pagi semuanya.”


“Pagi, Pak.”

__ADS_1


“Baiklah kalian pasti sudah tahu tujuan bapak ke sini. Karena sebulan dua kali sekolah mengadakan razia. Para siswa diharap duduk di bangkunya. Satu-satu akan bapak datangi.”


Kemudian Pak Igo memerintahkan dua Ibu guru yang membawa tas yang isinya beberapa peralatan seperti, gunting, sisir, dan lainnya.


Bangku barisan pertama dekat pintu adalah sasaran pertama.


“Alat make up dibawa, kamu mau kondangan apa sekolah?” Ujar Bu Fitri memasukkan alat make up milik Cindy ke dalam kantong. “Saya sita.”


“Zawil, rambut kamu Panjang sekali. Keluar dan berbaris di depan kelas. Siap-siap saya pangkas.” Pak Igo berkata tegas. Beliau menyiapkan sarung tangan dan gunting.


Beberapa saat berlalu, kini giliran bangku Rana dan Radit.


“Radit, kamu aman,” kata Bu Fitri setelah memeriksa tas Radit.


Perhatian Bu Fitri terpaku pada Rana yang menunduk takut-takut. “Rana, kamu pangkas rambut sependek ini?”


Rana mengangguk kaku. “I-Iya, Bu.”


“Rana potong biar gak risi pas main basket, Bu.” Bukan Rana yang menyahut, melainkan Radit.


Bu Fitri ini memang guru yang suka mengkritik. Jadi wajar saja dia banyak tanya.


“Tapi tidak harus sependek ini, kan. Seperti laki-laki. Seperti tante-tante juga. Gak cocok buat kamu.”


Rana malu. Pasalnya, semua pasang mata yang ada di ruangan itu tertuju padanya. Kecuali Pak Igo yang sedang memangkas rambut teman-temannya di depan kelas.


“Betul begitu, Rana?” Bu Fitri menatap Rana serius.


Dengan cepat Rana mengangguk. “Benar, Bu.”


Bu Fitri akhirnya pergi, memeriksa yang lain. Membuat dua sahabat itu akhirnya bisa bernapas lega.


“Thanks, Dit.”


“Biasa.”


***


“Dit, lo emang dah sahabat jelek paling debes buat gue.”


“Gue tau gue ganteng.”


Rana mengembuskan napasnya pelan. Dia jadi murung karena kejadian tadi. “Gue malu.”


“Malu kenapa? Biasa juga malu-maluin.” Radit menyeruput es teh manisnya. Saat ini sudah jam istirahat, jadi mereka melarikan diri ke kantin dan memesan beberapa makanan.


“Ish. Kepercayaan diri gue jadi turun lima puluh persen gara-gara Bu Fitri. Di tonton semua teman sekelas pula. Kaya laki-laki, emang dia gak pernah apa ya ketemu cewek rambut pendek selain gue?” Rana tak nafsu makan, dia memesan semangkuk bakso kosong, memakan empat buah lalu sisanya hanya diaduk-aduknya saja.

__ADS_1


Radit menepuk puncak kepala Rana, membuat Rana makin murka. “Lagian tuh Bu Fitri banyak banget komentar. Kepala-kepala siapa juga.”


“Lu juga, sih, ogeb.”


Rana mengerutkan keningnya mendengar penuturan Radit. “Lah kok gue?”


“Kalo emang mental lo belum kuat banget hadapin omongan orang terhadap penampilan lo yang baru, ya harusnya jangan ngelakuin.”


Wajah Rana semakin ditekuk. “Iya juga, sih. Gue emang ambil keputusan gak mikir dulu.”


“Lagian perkara rambut doang dibikin ribet, dipusingin. Lo bisa pake topi, hoodie, rambut palsu. Banyak cara, Ran.”


Rana menatap dalam Radit yang berhadapan dengannya. “Bener, juga.”


Radit yang sadar ditatap pun jadi bergidik ngeri. “Jangan tatap gue sambal senyum gitu. Entar lo kobam gue tau rasa.”


“Bagi lo gue cewek bukan, sih?”


Pertanyaan Rana membuat Radit yang sedang minum tersedak. “Buset, lo lupa gender kah?” Mata Radit memelotot.


Rana berdecak sebal. Tangannya mencubit lengan Radit.


“AW- sakit!”


“Lo anggap gue cewek atau cowok? Jawab cepat!”


“Cewek, lah. Meski tingkah lo gak ada anggun-anggunnya. Tapi gimana pun lo tetap cewek.”


Rana menopang dagunya dengan kedua tangan. “Gue gak punya sahabat cewek, adanya teman doang. Kalo sahabat Cuma elo. Makanya gue jadi kayak laki.”


“Kamvret, jadi lo nyalahin gue?” Tanya Radit berprasangka buruk.


Jitakan kasar Rana tujukan pada Radit. Radit kembali meringis. Cowok itu tidak akan pernah membalas, dia tidak mau menyakiti Rana. Ya, terdengar berlebihan, sih, tapi itu tulus. Paling kalau sedang kesal, Radit hanya mencubit Rana pelan.


“Ya enggak lah bego. Itu artinya, lo sahabat terbaik gue. Hehe. Kalo lo lagi main sama temen-temen cowok lo, gue kadang ngerasa tersisihkan. Apalagi kalo lo punya…”


“Pacar?” Sambung Radit.


Rana mengangguk lemah. “Pasti gue makin tersisihkan.” Cewek itu sedikit sedih mengatakannya. Meski Radit belum pernah berpacaran, tapi dia sedih membayangkannya. Radit belum mau pacaran sebelum tamat sekolah, itu perintah mamanya. Kalau pun ada yang mendekati Radit, paling cewek itu cepat-cepat mundur karena Rana selalu Bersama Radit.


Tawa keras Radit terdengar. “Sisihkan. Lo kira ingus.”


“Ish. Jorok.”


“Ya engga, Ran. Gue gak bakal cuekin elo. Santuy aja. Kita udah kenal lama, kan.”


Lengkungan senyum Rana terbit. Senang sekali rasanya punya sahabat seperti Radit. Rana harusnya bersyukur karena Radit selalu ada untuknya. 

__ADS_1


__ADS_2