Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)

Rangga dan Rara (Mencintai Anak Mantan)
21. Kesalmu, senyum ku


__ADS_3

...Happy Reading....


Begitu keluar dari lift, Rangga langsung di sambut Clara.


"Selamat pagi pak. Maaf saya tidak bisa menyambut anda di bawah, karena kondisi tubuh saya tidak memungkinkan!" kata Clara seraya melihat ke bawah, ke arah kakinya. Dia tersenyum semanis mungkin.


Rangga memperhatikan dirinya.


"Ada apa dengan kakimu?"


"Semalam saya terpeleset di kamar mandi, karena terburu-buru!" Katanya masih dengan senyum yang menghias wajahnya.


"Seharusnya kau cuti istirahat untuk memulihkan kakimu!" kata Rangga sambil melangkah di ikuti Haris. Kepala HRD itu cuek dan menatap datar pada Clara.


Clara memutar bola matanya malas melihat musuhnya itu. Lalu segera menjalankan kursi roda mensejajarkan tubuhnya dengan mereka.


"Saya baik baik saja dan masih mampu bekerja. Tapi harus menggunakan kursi roda. Saya harap bapak tidak akan kecewa dengan pekerjaan saya dalam kondisi seperti ini." kata Clara. Sebenarnya dia sudah meminta izin untuk cuti, tapi ketika mendapat informasi kalau Rangga akan masuk hari ini dan mengadakan rapat penting, dia memaksakan diri datang ke kantor. Alasan utamanya, karena rindu pada pria yang ini. Sebulan tak melihat dan bertemu membuatnya sangat rindu dengan pria yang sangat di kagumi ini. Dia sudah lama menyukai Rangga meski dia tahu pria ini adalah kekasih wakil direktur perusahaan ini, Rachel. Dia memendam rasa cintanya dan menyembunyikan secara diam-diam agar tidak di ketahui Rachel.


"Untuk rapat hari ini, Semua sudah di persiapkan! Bapak jangan khawatir. Saya sudah mengirimkan surat undangan kepada tiap tiap divisi! Rapatnya akan di mulai pukul 10!" katanya kembali menjelaskan pelaksanaan dan kesiapan rapat hari.


Rangga mendengarkan di sela sela langkahnya.


"Terus bagaimana dengan tamu dari perusahaan A Company?"


"Saya mengambil waktu setelah rapat perusahaan selesai!" kata Clara sambil melihat agenda Rangga hari ini pada notebook


"Bagus, kau atur semuanya!" mereka terus berjalan dan tiba di ruang kerja karyawan.


Para pegawai dan karyawan yang berbaris rapi untuk menyambut kedatangannya menyapa dengan sopan. Rangga berhenti sejenak sambil melihat mereka satu persatu. "Baguslah dia tidak masuk!" ucapnya tanpa sadar, melihat tak ada sosok May di antara barisan pegawai, karyawan, bertugas keamanan, OB dan cleaning servis.


"Siapa pak?" tanya Clara yang mendengar ucapannya.


Rangga mengelak," Bukan siapa siapa!" katanya segera.


"Maksud anda bu Rachel?" tanya Clara kembali. Telinganya sempat mendengar nama yang keluar dari bibir Rangga, tapi tidak begitu jelas.


Rangga hanya melihatnya sekilas, terus melanjutkan perjalanan menuju ruang kerjanya. Haris membuka pintu untuknya. Rangga segera masuk." Pak haris, siapkan yang ku minta tadi." katanya melihat pada Haris sebelum menuju meja kerja.


"Baik pak." Haris segera pamit untuk menyiapkan sesuatu yang berhubungan dengan rapat hari ini karena dia kepala divisi bagian HRD.


Clara mengikuti Rangga dari belakang.


"Ibu Rachel sudah berada di ruangannya!" kata Clara. Seraya menarik kursi kerja Rangga."Silahkan pak!"


"Aku bisa melakukannya."


"Saya masih mampu mengerjakannya!" kata Clara tersenyum.


Rangga belum duduk. Dia memperhatikan ruangannya. Bersih dan harum. Hasil dari kerja keras tangan May kemarin, itu yang ada dalam pikirannya. Dia tidak tahu kalau mau menang masuk kerja hari ini dan membersihkan ruangannya.


"Ruangan bapak selalu di bersihkan setiap hari! Dan ruangan ini sangat merindukan kehadiran bapak." kata Clara melihat Rangga memperhatikan ruang kerja.


"Bukan ruangan yang merindukan anda, Tapi aku." batin Clara menatap tak berkedip wajah tampan ini .

__ADS_1


Rangga mendekatkan wajahnya pada bunga mawar putih yang tampak mekar dan segar. Sepertinya baru di siram terlihat dari daunnya yang basah serta air yang masih menetes. Rangga menciumnya beberapa saat."Wangi." gumamnya dengan mata terpejam. Bunga mawar merupakan salah satu bunga kesukaannya.


Rangga segera duduk"Berikan padaku laporan kerja bulan ini dan juga berkas berkas untuk rapat!" katanya kemudian.


Clara segera mengambil apa yang di minta dengan cekatan, lalu di letakkan di meja depan Rangga.


"Bapak ingin minum kopi sekarang?" tanya Clara seraya mengamati wajah tampan Rangga yang sedang menunduk memeriksa laporan kerja. Dia sangat senang bisa leluasa melihat wajah yang di rindukan ini dengan puas.


Rangga mengangguk sambil melihat sekilas, lalu kembali menunduk.


"Saya akan segera siapkan." kata Clara.


"Sebaiknya kau suruh karyawan lain untuk membuatnya. Kau akan kesulitan dengan keadaan mu seperti ini! Kakimu tidak akan sembuh jika terlalu banyak bergerak!" kata Rangga.


"Saya akan berusaha tetap profesional dengan pekerjaan dan melayani kebutuhan bapak. Tapi kalau bapak khawatir dengan keadaan saya, saya akan menyuruh karyawan menyiapkan." Clara kembali tersenyum mendengar perkataan Rangga. Dia senang karena pria ini perduli dengan keadaan dirinya.


Clara segera keluar. Dia pergi mencari May. Dia akan menyuruh gadis itu menyiapkan kopi untuk Rangga. Tidak mungkin juga dia mau repot repot membuat kopi dengan keadaan seperti ini. Dia hanya ingin mencari muka di depan Rangga.


Sementara Rangga di ruangannya, teringat pada May. Dia ingin tahu gadis itu sedang apa. Manager hotel mengatakan kalau May telah pergi dan pamit ke apartemen. Dia mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu pada gadis itu.


"Kau di mana?" mengirim pesan.


Saat itu May sedang berada ke ruang Haris. Dia bertanya jenis snek yang biasa di sediakan saat rapat.


"Kenapa kau yang mengurus keperluan rapat?" tanya Haris. melihat May yang mengurus keperluan rapat yang bukan merupakan pekerjaannya. Di tambah lagi dengan kondisi May yang kesulitan bergerak dengan kondisi kakinya yang sakit.


"Itu pak, saya ingin membantu ibu Clara. Kakinya cidera dan beliau tidak leluasa bergerak dengan keadaan seperti itu." kata May dengan senyuman setengah, terus langsung lenyap. Dia ogah membantu Clara tapi mengingat keadaan gadis itu dan memakai kursi roda membuat hatinya luluh. Di tambah lagi perintah dari Rachel.


May mengulas senyum.


"Kaki saya sudah agak baikan, sakitnya sudah berkurang. Masih mampu berjalan." katanya.


"Kenapa kau tidak izin kerja?"


"Saya masih mampu dan kuat untuk bekerja. Bapak lihat kan keadaan saya? Saya baik baik saja!" kata May kembali, khawatir Haris akan memaksanya untuk cuti kerja dan pulang.


"Kau sudah bersihkan ruang rapat?"


"Sudah pak."


"Pergilah....!"


"Ibu Rachel meminta saya untuk menyiapkan snek dan.......!" May menyebutkan alat alat yang di perlukan untuk keperluan rapat seperti yang di katakan Rachel.


"Urusan snek dan kelengkapan rapat biar aku yang akan siapkan. Aku akan menyuruh asisten ku!" kata Haris.


"Benar pak?" wajah May seketika berbinar.


"Iya." kata Haris sambil mengangguk. Dia tidak mungkin meminta May menyiapkan semua itu karena akan memakan waktu yang lama. Selain itu dia juga tidak tega.


"Terimakasih pak! Permisi."ucap May senang.


May segera keluar. Dia lega karena tidak perlu repot-repot ke sana kemari untuk menyiapkan ini dan itu di ruang meeting.

__ADS_1


Di rasakan ponselnya bergetar sejak tadi. Dan kini bergetar lagi bertanda ada pesan masuk.


"Kau sedang apa? Sebaiknya kau istirahat dan jangan banyak berjalan, nanti kakimu tidak akan sembuh sembuh." pesan ke dua dari Rangga, karena gadis itu belum membuka pesannya yang pertama. Dia berpikir May sedang melakukan sesuatu sehingga tidak membaca pesannya.


May segera mengambil ponselnya dari saku dan mengecek pesan yang masuk. Dia kaget setelah melihat siapa yang mengirim pesan. Di kiranya Sofi yang ngirim pesan. Ternyata Rangga. Di Amerika hanya Sofi yang tahu nomor yang di gunakan di negara ini. Dia lupa kalau tadi pagi saat di hotel, dia menghubungi Rangga menggunakan nomor ini. Pantas saja pria itu tahu nomornya.


May bingung mau balas apa. Tidak mungkin dia mengatakan saat ini sedang berada di perusahaan dan bekerja. Pria itu pasti akan marah dan menurunnya pulang.


Jika Rangga bertanya keberadaannya saat ini, berarti pria itu tidak melihatnya tadi saat hendak masuk lift. May lega karena Rangga tidak melihatnya tadi. Tapi dia panik lagi dengan pesan yang masuk.


"Kenapa hanya di baca? kau di mana?" pesan susulan dari Rangga.


Jemari May bergerak cepat menulis"Aku....aku ada di apartemen ku!" balas May segera dengan ragu karena berbohong.


"Kenapa kau keluar dari hotel? Sudah ku bilang tetap lah di situ jangan kemana-mana dan harus istirahat total."


"Gak, aku gak mau tinggal di hotel. Sudah ku katakan aku tidak mau menginap lebih lama di situ. Ntar orang mengira aku simpanan Om. Terus di laporin ke istri Om. Dan Istri Om akan datang melabrak ku, dan menghajar ku, mempermalukan ku dan lain lain! Iihhh.....aku gak mau yaa!" balas May kesal di ikuti raut jutek.


Rangga tersenyum membaca rentetan kalimat itu. Dia sudah dapat menebak suasana hati May saat ini. KESAL dan sudah pasti menggemaskan.


"Aku lebih tenang di tempat ku. Om jangan khawatir, aku baik baik saja. Aku tadi sedang tidur tapi terbangun dengan pesan Om! Sudah dulu, aku mau tidur lagi! Ponselku kehabisan daya, jangan mengirim pesan lagi! Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku!" tulis May cepat, lalu segera menonaktifkan ponselnya. Terus menyimpan benda pipih itu di saku.


"Om pasti ke sini mau ketemu sama bu Rachel. Semoga saja Om sudah pergi dari sini!" harapnya. Dia cemas Rangga masih berada di sini dan akan bertemu dengannya.


May tiba tiba teringat sesuatu.


"Ya ampun, seharusnya aku tanya sama pak Haris tujuan Om datang ke sini. Apa mau bertemu dengan ibu Rachel? Dan apakah dia sudah pergi dari perusahaan ini?" gumamnya teringat Haris bersama Rangga tadi saat di hendak masuk lift.


May hendak kembali ke ruang Haris, tapi batal dengan suara yang memanggilnya.


"Heh, kau...!" Clara yang datang dan memanggilnya dengan keras.


May segera menoleh ke asal suara.


"Ya bu....!".May menggerutu karena di panggil begitu. Padahal dia punya nama. Terlihat jelas pada papan nama yang merekat pada seragamnya. Apa sekretaris menyebalkan itu tidak bisa membaca namanya? Baginya Clara tidak ada bedanya dengan Rachel, tidak menghargai orang. Selalu memanggilnya dengan "Heh", kasar lagi. Sungguh seperti manusia yang tidak berpendidikan. Tidak beretika dan sopan santun. Mentang mentang punya jabatan tinggi tidak menghargai karyawan rendah.


"Buatkan kopi dan bawah ke ruang pimpinan! Hari ini kau temani aku, karena aku memerlukan dirimu untuk membantu pekerjaan ku. Aku tidak bisa leluasa bergerak!" kata Clara.


"Baik bu!" May segera berlalu dari hadapan wanita itu. Malas lihat wajahnya yang selalu judes. Jadi pimpinan sudah datang? batinnya. Orangnya seperti apa ya? penasaran.


Clara kembali melangkah menuju ruang kerja Rangga. Niatnya ingin berdua sebelum Rachel datang.


Sementara di ruangannya, Rangga masih senyum senyum menatap pesan May meski telah di bacanya berulang. Dia membayangkan wajah May yang kesal, bahkan mungkin emosi saat membalas pesannya.


"Gadis itu......!" gumam Rangga masih tersenyum. Terkadang membuatnya kesal, khawatir dan kini membuatnya tersenyum. Bayangan wajah seseorang di masa lalunya melintas di matanya teringat dengan tingkah menggemaskan seperti ini.


Pintu tiba-tiba terbuka dan masuklah seseorang."Halo sayang.....!"


Rangga segera mengarahkan pandangannya ke pintu."Rachel.....?!"


Rachel tersenyum manis menatapnya dari pintu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2